Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

15 Tahun Tribun Timur

Hyperlocal (catatan 15 tahun tribun timur)

Catatan Ultah 15 Tahun Tribun Timur Makassar; Meyer meyakini yang punah bukanlah jurnalisme melainkan bisnis menjual kertas koran dan hilangnya outlet

Tayang:
Editor: Mansur AM
instagram.com/tribuntimurdotcom
Catatan 15 Tahun Tribun Timur Makassar 

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Apakah surat kabar akan punah?

Di Amerika, 14 tahun lalu, Profesor Philip Meyer (88), menjawab “di kuartal pertama 2043, akan jadi masa akhir pembaca yang kelelahan membuang edisi terakhir surat kabar yang lusuh.”

Kalimat jawaban itu ditulis guru besar jurnalisme North Caroline University ini dalam bukunya,The Vanishing Newspaper; Saving Journalism in the Information Age (Punahnya Surat Kabar; Menjaga Jurnalisme di Era Informasi: 2005).

Meyer meyakini yang punah bukanlah jurnalisme melainkan bisnis menjual kertas koran dan hilangnya outlet distribusinya.

Toh bukankah, jurnalisme bisnis rasa ingin tahu dan rasa pengaruh’

Menurutnya, sepanjang tetap mengabdi ke khalayak, mengontrol otoritas publik serta menyajikan hajat komunitas yang relevan, jurnalisme tetap dibutuhkan.

Jurnalisme akan bertahan jika kukuh menyajikan fakta dan data.

Bukan sekadar ‘kata-kata’ apalagi komentar.

Kala tesis penulis buku Jurnalisme Presisi dilontarkan, portal berita online belum sesemarak saat ini.

Facebook, aplikasi sosial media terbesar dunia, masih ada di laptop Mark Zuckerberg, dan diupsejawat kuliahnya di Harvard University.

Microblog berbasis gambar dan video, Kevin York Systrom (35), penemu Instagram, belum lagi kuliah di Stanford University di California.

Kini dua platform sosial media itu, hingga Januari 2019, sudah diunduh lebih dari 3,2 miliar pengguna. Facebook (2,27 miliar) dan Instagram (1,02 miliar).

Ini sudah lebih dari ½ total penduduk dunia, tahun 2017 mencapai; 7,53 miliar jiwa.

Padahal, pembaca surat kabar dalam tempo 4 dekade sejak puncaknya dekade 1970-an hingga 1990-an, hanya bisa menjangkau kurang lebih 350 juta pembaca dari lima benua.

Audiens atau pemamah informasi dari digital media, juga sudah lebih dari separuh total penduduk dunia.

Dalam satu dekade, peningkatannya hampir 200% dalam setahun. Ini sudah bukan meningkat tapi meloncat secara eksponansial.

Data dari global digital population yang dilansir Statista, Januari 2019, pengguna internet dunia sudah mencapai 4,4 miliar, dan 3,5 miliar di antaranya menggunakan smartphone untuk sosial media, atau 80,1 %.

Loncatan audiens ini oleh pengamat diistilahkan hyperloop.

Informasi Akbar (25), warga Desa Salubiro, Kecamatan Korossa, Mamuju Tengah, Sulawesi Barat, ditelan ular pyton di kebun sawit ayahnya, hanya butuh waktu kurang dari 2 jam untuk viral ke Amerika.

Wartawan Tribun Timur, Nurhadi, yang meliput kejadian itu, 26 Maret 2017, sudah dihubungi jurnalis BBC di London untuk meminta izin memuat gambar amatir dari anak kepala desa yang berjarak 520 km sebelah utara kantor Newsroom Tribun Timur di Makassar itu.

Hingga Minggu (10/2/2019) malam, video berjudul Akbar Tewas Ditelan Ular Pyton itu sudah ditonton 5,2 juta orang sejak diunggah di akun resmi Youtube @tribuntimur 28 Maret 2017.

“Banyak sudah berita ular makan orang, tapi belum menemukan video mayat dikeluarkan dari perut pyton amat jarang,” kata produser Channel NatGeo, Amerika., saat meminta akses copyright untuk mengutip klip video itu ke newsroom Tribun Timur via WhatsApp video call, kala itu.

Dengan akses internet broadband dan pengguna media sosial aktif, informasi kini begitu amat cepat (hyper).

Kecepatan distribusi itu amat terukur dan terbuka untuk dihitung.

Itulah yang disitilahkan go viral.

Sekat geografis yang jadi kendala utama sirkulasi suratkabar, berubah jadi beyond geografis, menembus batas negara dan benua.

Peristiwa di pedalaman barat pulau Sulawesi itu, tak cukup 48 jam sudah tayang di TV channel di Amerika dan Eropa.

Lalu jadi artikel Unique News di koran-koran pedalaman Philadelpia, Amerika hingga kota wisata Pattaya di Thailand.

Tribun Timur awalnya menemukan video itu di sebuah akun Facebook di Mamuju, ibu kota Sulbar, sekitar 482 km dari Makassar.

Kurang dari 12 jam, wartawan Tribun Timur, sudah di Desa Salubiro, sekitar 92 km dari Mamuju.

Setelah mendapat ‘hak tayang’ dari pemilik video, kami mengubah informasi itu menjadi berita.

Kami membuat grafis lokasi kejadian, menyunting beritanya, dan mencetaknya di surat kabar keesokan harinya.

Secara simultan, beritanya juga dipublish di www.tribun-timur.com, diunggah di akun resmi Facebook, Twitter, Instagram, Google+ dan akun YouTube kami yang semua sudah berstatus centang biru; “verified”

Jika hanya viral di media sosial; tanpa identitas demografi, tanpa kronologis, jalan cerita, dan motif, informasi itu mungkin hanya akan jadi sampah digital alias HOAX.

Jurnalis Tribun Timur terjun ke lokasi.

Mewawancara orangtua, kerabat, dan kepala kampung almarhum.

Selain teks, kami memotret dan mengabadikan lokasi ular memamah Akbar dengan kamera video smartphone.

Pada saat bersamaan, newsroom kami melengkapi 5W+1H (what, when, where, who, why dan how) insiden langka itu lalu mempublikasikannya.

Itulah yang kami namakan berita.

Kami mengubah raw material ‘HOAX” dari pedalaman Sulawesi menjadi ‘fakta’.

Itulah yang oleh akademisi dengan digital information age didefenisikan sebagai hyperlocal,

Dan Tribun Timur sudah memulai itu.

Terus terang, seperti manusia dan makhluk hidup lain, surat kabar tidaklah kekal.

Kami sadar pasti punah.

Dalam Teori Evolusi; bukan siapa yang terkuat yang bertahan. Tapi siapa yang cepat beradaptasi,” begitu kata Charles Darwin.

Dengan pembaca, visi Kami kini dalam kesadaran dan semangat, Who’s The Last Standing Newspaper?” Siapa surat kabar yang paling terakhir terbit.

Dengan pengunjung rerata harian mencapai 2,1 juta dan awal Januari 2019 lalu pernah mencapai 3,2 juta visitors per hari, kami sadar, proses beradaptasi itu sudah kami mulai.

Toh, bukankah kematian atau kepunahan yang ‘indah’ adalah yang kami persiapkan.

Dan kini, kami sudah siap. Terima kasih.

@nurthamzilthahir (Wapimred Tribun Timur Makassar)

Sumber: Tribun Timur
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved