Tribun Wiki
TRIBUNWIKI: Sejarah Urip Sumoharjo, Jadi Pimpinan Tentara Belanda, Bapak Angkatan Perang RI
Salah satu nama pahlawan yang dijadikan nama jalan yakni Urip Sumoharjo. Berada sebelum Jl Perintis Kemerdekaan.
Penulis: Nur Fajriani R | Editor: Ina Maharani
Laporan Wartawan Tribun Timur, Nur Fajriani R
TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Diberbagai lokasi di Indonesia kebanyakan nama jalan diambil dari nama pahlawan. Hal tersebut demi mengenang jasa para pahlawan.
Seperti Kota Makassar. Yang memakai nama pahlawan di beberapa lokasinya.
Kota Makassar merupakan salah satu kota metropolitan. Memiliki wilayah seluas 199,26 km dan jumlah penduduk lebih dari 1,6 juta jiwa, kota ini berada di urutan kelima kota terbesar di Indonesia setelah Jakarta, Surabaya, Bandung dan Medan.
Salah satu nama pahlawan yang dijadikan nama jalan yakni Urip Sumoharjo. Berada sebelum Jl Perintis Kemerdekaan. Dan diramaikan bagunan besar, universitas, kantor danbangunan lainnya.

Masa Kecil yang Nakal
Dilansir dari wikipedia.org Urip SUmoharjo yang dulunya dieja dengan Oerip Soemohardjo merupakan Jenderal TNI (Anumerta) lahir 22 Februari 1893 – meninggal 17 November 1948 pada umur 55 tahun. Oerip Soemohardjo lahir dengan nama Muhammad Sidik ("Muhammad Kecil") di rumah keluarganya di Sindurjan, Purworejo, Hindia Belanda.
Ia adalah putra pertama dari pasangan Soemohardjo, seorang kepala sekolah dan putra tokoh Muslim setempat, dan istrinya, putri dari Raden Tumenggung Widjojokoesoemo, bupati Trenggalek; pasangan ini kemudian memiliki dua putra lagi, Iskandar dan Soekirno,serta tiga orang putri.
Oerip merupakan jenderal dan kepala staf umum Tentara Nasional Indonesia pertama pada masa Revolusi Nasional Indonesia. Lahir di Purworejo, Hindia Belanda, Oerip kecil adalah anak nakal yang sudah memperlihatkan kemampuan memimpin sejak usia dini.
Pada usia muda Sidik mulai menunjukkan kualitas pemimpin, ia memimpin kelompok anak-anak di lingkungannya ketika memancing dan bermain sepak bola. Ketiga saudara ini bersekolah di sekolah untuk suku Jawa yang dikepalai oleh ayah mereka, oleh sebab itu mereka menerima perlakuan khusus. Hal ini menyebabkan mereka menjadi nakal dan berpuas diri.
Pada tahun kedua sekolahnya, Sidik jatuh dari pohon kemiri dan kehilangan kesadaran. Setelah sadar, ibunya mengirim surat kepada Widjojokoesoemo, mengungkapkan bahwa nama Sidik adalah penyebab perilaku buruknya. Sebagai balasan, Widjojokoesoemo menyarankan bahwa Sidik harus diganti dengan Oerip, yang berarti "hidup".
Saat ia sembuh, keluarganya memutuskan untuk menamainya kembali dengan nama Oerip, meskipun kelakuannya tetap saja buruk.
Ia kemudian dikirim ke Sekolah Putri Belanda (Europese Lagere Meisjesschool); sekolah untuk putra sudah penuh dan orangtuanya berharap bahwa sekolah putri akan meningkatkan kemampuan Oerip dalam berbahasa Belanda, juga mengubah temperamennya.
Setelah belajar satu tahun di sekolah putri, Oerip menjadi lebih kalem, ia lalu dikirim ke sekolah Belanda untuk putra. Meskipun demikian, nilai akedemiknya tetap buruk.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/jendral-urip-sumoharjo.jpg)