Tiga Guru Besar AKK FKM Unhas Presentasi di Forum Internasional

Program lorong sehat ini dikembangkan dengan pendekatan kesehatan keluarga yang merupakan program nasional.

Tiga Guru Besar AKK FKM Unhas Presentasi di Forum Internasional
handover
Sedikitnya tiga guru besar Departemen Administrasi dan Kebijakan Kesehatan (AKK) Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar, ikut berpresentasi pada The 3rd International Conference on Environmental Risks and Public Health (ICER-PH) 2018. 

Laporan Waetawan Tribun Timur, Munawwarah Ahmad

TRIBUN-TIMUR.COM,MAKASSAR - Sedikitnya tiga guru besar Departemen Administrasi dan Kebijakan Kesehatan (AKK) Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar, ikut berpresentasi pada The 3rd International Conference on Environmental Risks and Public Health (ICER-PH) 2018.

Kegiatan itu diselenggarakan oleh departemen AKK di Hotel Harper, Makassar, Minggu (28/10/2018).

Mereka adalah Prof Dr Indar, Prof Dr Amran Razak dan Prof Sukri Palutturi.

"Prof Indar mempresentasekan Analysis of Management System of Healthy Lorong Program in Makassar City. Dalam paparannya, program tersebut telah dikembangkan di Makassar sejak 2015 dan terdapat lorong sehat hingga 2017," kata Prof Sukri, Minggu malam.

Program lorong sehat ini dikembangkan dengan pendekatan kesehatan keluarga yang merupakan program nasional.

Baca: Produktivitas Kakao di Sulsel Turun, Pakar Pertanian dari Unhas Beberkan Penyebabnya

Misalnya keluarga berencana, ibu melahirkan di fasilitas kesehatan, bayi memperoleh imunisasi dasar, bayi memperoleh ASI dan penderita TB memperoleh pengobatan menurut standard.

Prof Amran menyampaikan topik mengenai Economic Burden of Cancer Patients at Hasanuddin University Teaching Hospital.

Beliau menyampaikan bahwa kanker termasuk penyakit katastropik dengan karakteristik membutuhkan biaya tinggi dan jumlah pasien yang banyak yang memiliki risiko kematian.

Sementara Prof Sukri sendiri mengkaji mengenai re-standardisation Makassar Healthy City based on Local Needs.

Prof Sukri menyampaikan, pemerintah pusat telah mengeluarkan suatu kebijakan atau peraturan mengenai Healthy Cities yaitu Peraturan Bersama antara Kementerian Dalam Negeri dan Kementrian Kesehatan pada tahun 2015.

Baca: Mahasiswa Unhas Wakili Indonesia di CIMB Young ASEAN Leader 2018

Peraturan tersebut, kata Prof Sukri, sebagai payung penyelenggaraan yang berlaku secara nasional sementara masalah dan sumber daya yang dimiliki berbeda.

Karena itu penelitian tersebut menghasilkan temuan dan rekomendasi yaitu revisi standar dan indikator Makassar Healthy Cities.

Prof Amran bahkan menambahkan bahwa mestinya Provinsi Sulawesi Selatan menjadikan program prioritas mengenai kabupaten/kota sehat ini.

Ratusan peserta dari berbagai daerah menghadiri konferensi AKK tersebut.(*)

Penulis: Munawwarah Ahmad
Editor: Mahyuddin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved