Tribun Wiki
TRIBUNWIKI: Ada Apa di 19 Oktober 1669? Inikah Dasar Hari Jadi Sulsel?
Setelah Perang Makassar berakhir pada 24 Juni 1669, Kompeni dan Raja Gowa berpacu dengan waktu menghimpun sekutu.
TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR – Dulu, 349 tahun, raja-raja di Sulsel sibuk menyusun konsep pembangunan dan upaya perdamaian pasca-Perang Makassar.
Sebagian sejarawan menyebut Perang Makassar terjadi antara 1660 hingga 1669. Tahun 1969 ini juga tahun berakhirnya pemerintahan Raja Gowa Ke-16 I Mallombasi Daeng Mattawang Karaeng Bonto Mangape Sultan Hasanuddin.
Sultan Hasanuddin diangkat menjadi raja pada usia yang masih belia, 22 tahun. Dia dinobatkan di hari wafatnya Raja Gowa Ke-15 Sultan Malikussaid pada tanggal 5 November 1653 berdasar surat wasiat dari sang ayah.
Tak ada kejadian khusus yang dicatat Mattulada yang terjadi pada tanggal 19 Oktober 1669 dalam buku Menyusuri Jejak Kehadiran Makassar dalam Sejarah, Hasanuddin Universyty Press, 1991. Bahkan kejadian di Bulan Oktober pada tahun ini pun tidak ada yang dicatat.
Mattulada hanya menulis kejadian pada Februai 1669 sebagai batas berakhirnya upaya perundingan, dialog, untuk menuju perdamaian antara pasukan sekutu (Belanda cs) dengan pihak Kerajaan Gowa menyusul terjadinya krisis pangan bagi kedua pihak setelah terlibat perang hampir 10 tahun.
Batalnya perundingan perdamaian dibarengi pengiriman balabantuan Belanda dari Batavia hingga April 1669. Setelah menerima balabantuan dari Batavia, Speelman memerintakan didirikan meriam-meriam baru yang diarahkan ke Benteng Sombaopu.
Setelah mengumpulkan sisa tenaga dengan bantuan tenaga baru, Speelman menyiapkan serangan besar-besaran untuk merebut Benteng Sombaopu. Sementara Sultan Hasanuddin dan segenap pasukannya yang sudah terkepung menyiapkan diri menyosong serangan itu.
Akhirnya pada tanggal 15 Juni 1669, Speelman melancarkan serangan total besar-besaran ke Benteng Sombaopu. Mattulada menulis, “Pertempuran di hari pertama berlangsung 24 jam terus menerus. Fuselir-fuselir Belanda menembakkann 30 ribu peluru.”
Menurut Mattulada, pertempuran 24 jam itu menyebabkan 50 serdadu Belanda tewas dan 68 orang terluka parah. Namun akibat pertempuran itu pula, Belanda berhasil merebut pertahanan pertama Istana Gowa di Benteng Sombaopu.
Hari berikutnya pertempuran terus berlangsung dalam Benteng Sombaopu. Lalu tiga hari berturut-turut kemudian, 17-19 Juni 1669, dengan bantuan pasukan Ambon, Bendera Perang Speelman berhasil ditancapkan di atas Benteng Sombaopu yang memiliki ketebalan 12 kaki.
Meski pasukan Belanda dan sekutunya sudah berada dalam benteng, mereka tidak serta merta bisa menaklukkan Sultan Hasanuddin. Ternyata dalam benteng terdapat banyak kubu-kubu pertahanan yang mengadang laju pasukan sekutu.
Mattulada menggambarkan, hari berikutnya, 20-24 Juni 1669, terjadi head to head dalam Benteng Sombaopu. Pasukan Belanda dan sekutunya diadang pasukan Gowa dan sekutunya di setiap jengkal tanah Benteng Sombaopu. Hingga akhirnya seluruh areal Benteng Sombaopu dikuasai pasukan Belanda dan sekutunya pada 24 Juni 1669.
“272 pucuk meriam besar, termasuk Meriam Keramat Anak Makassar, dirampas Speelman. Benteng dan Istana Sombaopu kemudian diratakan dengan tanah. Beribu pond buskruit meledakkan benteng dan istana itu, membuat udara memerah dan tanah geger. Maut menyebar di mana-mana, mayat bergelimpangan hangus bersama ledakan mesiu api yang menjilat ke sana ke mari,” tulis Mattulada.
Tapi Kerajaan Gowa dan sekutunya belum kalah. Para pembesar kerajaan berhasil meloloskan diri ke Benteng Kale Gowa di Maccini Sombala. Di Benteng Kale Gowa inilah perlawanan lanjutan disiapkan. Speelman tidak berani lagi melancarkan serangan ke Kale Gowa.
Mattulada menyebut alasan Speelman tidak menyerang Benteng Kale Gowa sebagai alasan yang memakai kata bersayap, “Maer wie kan verder spingen als de polse langh is?” (Siapa yang dapat melompat lebih jauh daripada gala?
Saat Sultan Hasanuddin berhasil membawa sebagian peralatan perang ke Benteng Kale Gowa, Mangkubumi Kerajaan Gowa Karaeng Karunrung yang masih tetap menyala semangatnya menyingkir dari Istana Bontoala ke Benteng Ana’Gowa di Taeng, di seberang Sungai Jeneberang.
Leonard Y Andaya dalam Buku Warisan Arung Palakka Sulawesi Selatan Abad Ke-17, Penerbit Ininnawa, 2004, menulis, “Bagi kebanyakan orang di Sulawesi Selatan, jatuhnya Benteng Sombaopu pada tanggal 24 Juni 1669 menjadi symbol dimulainya era baru di semenanjung ini.”
Menurut Andaya, jatuhnya Benteng Sombaopu menyadarkan semua pihak bahwa kesuksesan hanya bisa diperoleh dengan bantuan pihak lain. Tidak pernah terpikirkan sebelumnya bahwa akan ada kekuatan yang bisa mengalahkan Kerajaa Gowa pada masa itu.
“Bone dan Belanda menyadari bahwa tanpa masing-masing pihak , tidak ada yang akan mampu mencapai sukses gemilang ini. Bahkan setelah jatuhnya Benteng Sombaopu, kedua penguasa atasan ini (Belanda dan Bone) masih harus bergantung satu sama lain,” tulis Andaya.
Lima hari setelah jatuhnya Benteng Sombaopu, 29 Juni 1669, Sultan Hasanuddin menyerahkan kekuasaan ke putranya, I Mappasomba Sultan Amir Hamzah. Menurut Mattulada, usaha pertama ialah melakukan hubungan dengan Kerajaan Mataram untuk meminta bantuan.
Sementara usaha pertama Speelman, menurut Andaya, setelah menguasai Benteng Sombaopu adalah penegasan kembali berlakunya Perjanjian Bungaya.
“Bagi Kompeni, Perjanjian Bungaya adalah dokumen hukum yang menurut Hukum Internasional Eropa membenarkan hak khusus yang baru saja mereka peroleh untuk berkuasa di dalam dan di luar Sulawesi Selatan. Namun bagi Arung Palakka, perjanjian itu adalah dokumen simbolis yang menurut praktik perjanjian masyarakat Sulawesi Selatan, menegaskan hierarki kekuasaan baru di pulau ini,” jelas Andaya.
Kompeni dan Raja Gowa berpacu dengan waktu. Tapi usaha I Mappasomba, menurut Mattulada, sia-sia karena keretakan di internal pembesar Kerajaan Gowa-Tallo semakin tak terelakkan. Karaeng Tallo dan Karaeng Lengkese sudah terikat kepada perjanjian ‘pasal-pasal tambahan’.
Menurut Andaya, Kerajaan Tallo paling pertama mengakui “berlakunya kembali Perjanjian Bungaya”, yakni pada 15 Juli 1669. Kemudian menyusul Kerajaan Gowa pada 27 Juli 1669.
Namun menurut Mattulada, pada 27 Juni 1669, terjadi lagi perjanjian baru untuk perdamaian. Perjanjian ini dibubuhi zegel dan tandatangan Sultan Hasanuddin mewakili Raja Gowa yang sedang sakit. Juga Karaeng Karunrung membubuhkan tandatangannya dan sekali di bawah sumpah Al Quran perdamaian itu ditetapkan.
Demikianlah! Nyaris tak ada lagi perang besar di Sulawesi Selatan perjanjian pemberlakukan kembali “Perjanjian Bungaya” itu pada Juli 1669. Andaya hanya mencatat, pada 1 Agustus 1669, pasukan Wajo dan Lamuru terlibat petempuran dengan pasukan Kompeni dan pasukan Arung Palakka. Namun pertempuran ini dimenangkan telak Kompeni-Arung Palakka.
Setelah perang Wajo-Lamuru vs Kompeni-Arung Palakka itu, Andaya menyebut Speelman semakin yakin bahwa tidak akan ada lagi mantan sekutu Kerajaan Gowa yang mau bertindak sia-sia melakukan perlawanan. Itulah sebabnya, pada 29 Agustus 1669, dia mengirim utusan ke Kerajaan Wajo untuk menawarkan permintaan maaf atas terjadinya perang yang baru lewat.
Menurut Andaya, permintaan maaf Speelman akhirnya diterima oleh Kerajaan Wajo. Dan Mattulada menulis, kemenangan Speelman di Makassar disambut dengan gembira para pembesar Kompeni. Lalu pada tanggal 20 Desember 1669, dilakukan pesta besar-besaran di Batavia.
Menurut Mattulada, Karaeng Tallo dan Karaeng Lengkese datang dengan 400 pengikut ke Batavia mengikuti pesta itu. Karaeng Bisei hadir mewakili ayahandanya, Raja Gowa I Mappasomba bersama 140 orang pengikut. Karaeng Karunrung mengirim putranya mewakili dirinya. Arung Palakka datang dengan 800 orang pengiring.
Hadir juga anak Raja Ternate bernama Kalamata yang menikah dengan saudara Karaeng Tallo bersama 150 orang pengikutnya. Pokonya, tulis Mattulada, pada upacara itu hadir tidak kurang dari 1.500 orang.
“Pada upacara itu menurut protokol, semua karaeng menyerahkan kerisnya pada GG Joan Maetsuyker sebagai tanda penyerahan. Cornelis Janszoon Speelman kemudian tampil ke depan dan atas nama para hadirin mengucapkan selamat kepada Gubernur General. Ia bersyukur bahwa perang yang paling besar ini dan berlangsung bertahun-tahun lamannya sudah berakhir,” tulis Mattulada.
Demikian kejadian pada Oktober hingga Desember 1669. Jika rentetan kejadian itu dijadikan acuan meletakkan Hari Jadi Sulawesi Selatan, silakan Anda memaknainya sendiri…!(*)