Melirik Komunitas Pamanca’ Sipakatau di Tallo
Di Kota Makassar, aktivitas manca’ salah satunya bisa dijumpai di bagian utara Kota Anging Mammiri, julukan Kota makassar, tepatnya di sebuah
Penulis: Ridwan Putra | Editor: Ridwan Putra
Menjadi anggota baru terlebih dulu melalui prosesi yang khas dan unik yaitu sebelum memulai latihan pertama kali maka calon anggota baru harus menjalani prosesi pengukuhan berupa pencucian mata menggunakan air jeruk nipis.

“Rasanya memang pedis, tetapi setelahnya penglihatan bisa lebih segar. Kita juga tak mudah mengantuk saat latihan,” ujar salah seorang anggota Sipakatau, Daeng Ngerang, yang sudah lama bergabung di Sipakatau, Jumat (5/10/2018).
Jumlah anggota Sipakatau saat ini sebenarnya cukup banyak, sekitar 100-an sejak Tata memulai mengajarkan manca’ beberapa tahun silam. Namun, yang aktif saat ini berkisar 30-50 orang saja.

Waktu latihan
Latihan rutin digelar pada malam hari yang sering dimulai sekitar pukul 21.00 wita hingga tengah malam.
Saat ini, Sanggar Seni Bela Diri “Sipakatau” telah membuka diri kepada siapa saja yang ingin sekadar tahu atau mempelajari langsung bela diri manca’ sebagai sebuah kesenian.
Salah satu bentuk latihan manca’ di sanggar Sipakatau yaitu sering dimainkan oleh dua orang, satu lawan satu, dari tangan kosong sampai menggunakan senjata tajam diiringi bunyi gong dan gandrang (gendang) atau beberapa alat musik tradisional lainnya sebagai penyemangat.

Untuk menghindari cedera serius, maka selalu dilakukan pemberkatan untuk keselamatan dan sebelum memulai pertunjukan dibuatlah beberapa peraturan kepada pemain.
Menurut Tata Sanusi dan Tata’ Jafar, ilmu manca’ adalah sebagai kebudayaan yang mengajarkan kepada pelakunya akan budi pekerti, kedisiplinan, rendah hati, dan sportivitas.
Olehnya, sanggar seni bela diri Sipakatau juga sering memenuhi undangan sebuah acara atau hajatan masyarakat atau instansi untuk menampilkan seni bela diri tradisional.(*)
Sanggar Seni Bela Diri Tradisional Sipakatau
Pembina: Tata Sanusi
Pelatih: Tata Jafar (Tata Lompo)
Pelatih: Om Zain
Ketua murid: Rari
Jumlah murid lainnya: 100-an
