Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Sulsel Capai 7,5% di 2019, Ditopang Perkebunan Cokelat

Dalam penjelasnnya ia memperkirakan perekonomian Indonesia di 2019 akan tumbuh sekitar 5,2%.

Penulis: Muhammad Fadhly Ali | Editor: Ardy Muchlis
Fadly/Tribun Timur
PT Bank Tabungan Pensiunan Nasional Tbk (BTPN) menggelar Entrepreneur Networking Forum, dengan tema Outlook Ekonomi 2019: Peluang UMKM di Era Digital dan Tantangan Tahun Politik di Hotel Four Points by Sheraton Jl Andi Djemma Makassar, Kamis (20/9/2018). 

Laporan Wartawan Tribun Timur, Muhammad Fadhly Ali

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - PT Bank Tabungan Pensiunan Nasional Tbk (BTPN) menggelar Entrepreneur Networking Forum, dengan tema Outlook Ekonomi 2019: Peluang UMKM di Era Digital dan Tantangan Tahun Politik di Hotel Four Points by Sheraton Jl Andi Djemma Makassar, Kamis (20/9/2018).

Hadir, ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Bhima Yudhistira.

Dalam penjelasnnya ia memperkirakan perekonomian Indonesia di 2019 akan tumbuh sekitar 5,2%.

Sektor logistik, transportasi, konstruksi, dan perdagangan akan menjadi faktor utama pendorong pertumbuhan ekonomi secara nasional.

“Permintaan di negara maju sebenarnya cukup solid, hanya saja pelaku usaha diminta untuk mencermati efek perang dagang dan fluktuasi kurs rupiah akibat perubahan dinamika global,” tambahnya.

Sementara perekonomian Sulsel diproyeksi tumbuh sebesar 7,5% pada 2019. Pertumbuhan ekonomi Sulsel dalam lima tahun terakhir selalu berada di atas rata-rata ekonomi nasional yang sebesar 5% (yoy).

Ini menunjukkan daya tahan ekonomi Sulsel cukup baik di tengah dinamika kondisi ekonomi domestik maupun global.

Faktor pendorong ekonomi di Sulsel adalah sektor perkebunan khususnya cokelat, industri pengolahan, perdagangan, dan konstruksi termasuk real estate.

Prospek cokelat sebagai komoditas unggulan ditopang oleh berkembangnya tren experiences economy di dalam dan luar negeri, seperti munculnya budaya kafe, hiburan, dan rekreasi.

Bahkan konsumsi cokelat di kalangan generasi milenial (umur 18-35 tahun) trennya positif.

“Kuncinya adalah memperbesar porsi industri pengolahan berbasis sumber daya alam yang bernilai tambah dan penetrasi pasar domestik. Semakin besar produk bernilai tambah yang dihasilkan oleh Sulsel, maka kekhawatiran fluktuasi harga komoditas tidak menjadi problem utama lagi,” jelas Bhima.

Selain itu, Bhima juga optimistis di tengah era digital dan tantangan tahun politik, sektor UMKM dapat tumbuh lebih tinggi. Adanya platform perdagangan digital atau e-commerce turut membantu pemasaran produk-produk UMKM.

Sedangkan adanya transportasi online juga memudahkan proses distribusi UMKM hingga ke level daerah mulai dari antar makanan hingga jual beli barang sekarang makin cepat dan murah.

“Jadi kita harus memandang ekonomi di 2019 dengan rasa optimistis. Event politik justru membawa banyak peluang bisnis, yang terpenting terus inovatif dan jeli membaca situasi, ” pungkasnya. (*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved