Tugu Pahlawan Indonesia di Pantai Losari Terus Tergusur
Dari pantauan Tribun, kawasan itu kini jadi areal penumpukan kardus pemulung. Ada beberapa botol minuman keras di tangga undakannya.
Penulis: Sanovra Jr | Editor: Thamzil Thahir
TRIBUN-TIMUR.COM-MAKASSAR, - Sepulang dari Moskow, Uni Soviet, tepatnya tanggal 11 November 1961, Presiden Soekarno, berpidato di Lapangan Ikada, Jakarta.
“Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati jasa pahlawannya.” itulah salah satu kutipan pidato Bung Karno, yang paling dikenang dan jadi rujukan saban peringatan hari Pahlawan. Itu hingga kini.
Inilah peringatan hari Pahlawan dalam skala besar dalam catatan masa awal kemerdekaan.
Lukisan para pahlawan direproduksi dan disebar ke penjuru negeri.
Nama bandara, jalan protokol, mengabadikan nama para pejuang, Serial perangko pahlawan diterbitkan.
Ini instruksi presiden untuk jajaran pemerintah dan institusi militer. Sejak saat itu, peringatan Hari Pahlawan di'rayakan" di seantero negeri.
Namun di pantai barat Makassar, Monumen Pahlawan Indonesia, justru kian tergusur.
“Di Yogya, monumen perjuangan pahlawan dipelihara. Dipagari, dan sejajar dengan Keraton. Tapi di Makassar, Monumen Pahlawan itu jadi area parkir kafe. Tak dipelihara.” kata Dirjen Otonomi Daerah Soni Sumarsono, saat bertandang ke Tribun Timur, malam Minggu (8/9/2018).
Soni mengaku “nelongso’ melihat tugu yang dibangun Pemborong Sie Toe Bon tahun 1951 itu, kian tak terurus. “Saya baru lihat, beberapa hari setelah tak lagi menjabat,” kata Soni, yang setengah tahun menjadi Pj Gubernur Sulsel (5 April - 5 September 2018) ini.
Monumen itu dibangun 1951, untuk mengenang ‘pertempuran antara TNI dengan tentara KNIL/NICA” dua hari ( 27-29 Desember 1949), atau 69 tahun silam.
Tahun ini, usia tugu itu, sudah 67 tahun. Tugu itu dibangun dimasa Kolonel Inf Gatot Subroto, menjabat Panglima Teritorium Indonesia Timur.
Hadir kala itu para pejuang dari Tanah Bugis, Sampara Daeng Lili, Wali Kota Makassar yang masih dibawah Negara Indonesia Timut (NIT).
Sekitar 15 tahun lalu, tepatnya, tanggal 12 September 2003, atau di masa Amiruddin Maula menjabat walikota Makassar, tugu itu sempat direnovasi dan direvitalisasi.
Salah satu tentara pejuang yang ikut pertempuran itu, Mayjen TNI Purn H Andi Mattalatta, mengabadikan catatan mengapa tugu itu harus dipelihara.
Almarhum Mayjen Andi Mattalatta, kala itu, membubuhkan tanda-tangan di prasasti, yang lima tahun terakhir tak bisa terbaca lagi.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/tugu-pahlawan_21_makassar_20180910_200811.jpg)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/tugu-pahlawan_20180909_205209.jpg)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/jl-ujung-pandang-makassar-terlihat-kusam_20150816_214949.jpg)