Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Suka Duka Bripka Mulyadi jadi Pelatih Paskibra Selama 14 Tahun

Salah satu pelatih yang mendapat penghargaan Bupati Maros, yakni Paurminpers Bagsumda Polres Maros, Bripka Mulyadi B Wahid.

Penulis: Ansar | Editor: Anita Kusuma Wardana
HANDOVER
Paurminpers Bagsumda Polres Maros, Bripka Mulyadi B Wahid mendapat penghargaan sebagai pelatih Paskibra dari Bupati Maros, Hatta Rahman. 

Laporan Wartawan Tribun Timur, Ansar Lempe

TRIBUN-TIMUR.COM, MAROS - Setelah berakhirnya perayaan HUT ke-73 RI, pada Jumat 17 Agustus lalu, beberapa pelatih mendapatkan penghargaan dari Bupati Maros, Hatta Rahman.

Salah satu pelatih yang mendapat penghargaan Bupati Maros, yakni Paurminpers Bagsumda Polres Maros, Bripka Mulyadi B Wahid.

Mulyadi merupakan pelatih yang terbilang senior. Bahkan pria yang tinggal di Aspol Polres Maros tersebut, sudah 14 tahun jadi pelatih Paskibra dan selalu berhasil.

Mulyadi mengatakan, Kamis (30/8/2018) ia mulai mengabdikan diri sebagai pelatih paskibra sejak tahun 2005 hingga 2018. Selama melatih, sejumlah suka dan duka yang telah dialaminya.

"Selama diberi mengemban amanah menjadi pelatih Paskibra sejak tahun 2005 lalu, lebih banyak sukanya dibanding dukanya. Saya senang jadi pelatih," katanya.

Suka jadi pelatih yakni, bangga setelah dua orang anggota paskibra terpilih sebagai tim Paskibraka ditingkat Provinsi Sulsel, tahun 2006, dan 2008.

Menurutnya, keikhlasan dalam memberi pelajaran kepada para peserta harus tulus, supaya mereka memiliki semangat yang tinggi dalam belajar dan latihan.

Dia mengaku sangat bangga dengan pencapaian seluruh alumni Paskibra, yang telah sukses dalam berkarier pada bidangnya masing-masing.

"Sudah ada beberapa yang menjadi Polisi dan anggota TNI, serta pejabat. Kami bangga melihat alumnus yang telah sukses," katanya

Selama 14 tahun menjadi pelatih, Mulyadi telah mempunyai sejumlah kenalan kenalan baru. Jadi pelatih, silaturahmi akan terus terjalin.

Dibalik suka selama menjadi pelatih Paskibra, ternyata Bripka Mulyadi juga pernah merasakan duka, khususnya saat acara perpisahan.

"Kalau duka menjadi pelatih, saat acara perpisahan dengan anggota Paskibra. Semua menangis, karena kami berpisah padahal mereka sudah seperti keluarga," katanya.

Setiap hari bersama dalam latihan, namun tiba - tiba harus berakhir setelah momen penurunan bendera merah putih.

Duka lain yakni, saat pelatih melatih Paskibra di bawah terik. Beberapa kali sakit lantaran cuaca yang terlalu panas.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved