Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Cegah Kerusakan Karang, Politani Pangkep Ajar Warga Barrang Lompo Teknik Budidaya Ramah Lingkungan

warga dilatih dan dididik untuk mencari alternatif demi mengurangi tekanan terhadap pemanfaatan sumberdaya alam khususnya karang hias

Tayang:
Penulis: Darul Amri Lobubun | Editor: Arif Fuddin Usman
Cegah Kerusakan Karang, Politani Pangkep Ajar Warga Barrang Lompo Teknik Budidaya Ramah Lingkungan - 25082018_pppe_politani_0_20180825_022230.jpg
handover
Proses budidaya karang hias dari Program Pengembangan Produk Ekspor Politeknik Pertanian Negeri Pangkep di Pulau Barrang Lompo Makassar.
Cegah Kerusakan Karang, Politani Pangkep Ajar Warga Barrang Lompo Teknik Budidaya Ramah Lingkungan - 25082018_pppe_politani_4_20180825_022314.jpg
handover
Proses budidaya karang hias dari Program Pengembangan Produk Ekspor Politeknik Pertanian Negeri Pangkep di Pulau Barrang Lompo Makassar.

Laporan Wartawan Tribun Timur, Darul Amri Lobubun

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Sebagai upaya menanggulangi kerusakan ekosistem karang atau koral (coral) di habitat alami, dosen Jurusan Agribisnis Perikanan dan Teknologi Pengolahan Hasil Perikanan Politeknik Pertanian Negeri Pangkep (PPNP) didik warga pulau.

Warga pulau yang menjadi sasaran pelatihan adalah masyarakat nelayan di Pulau Barrang Lompo Makassar. Pelatihan oleh dosen kampus PPNP atau akrab dikenal sebagai Politani Pangkep adal Program Pengembangan Produk Ekspor (PPPE).

Pada PPPE tersebut, warga dilatih dan dididik untuk mencari alternatif demi mengurangi tekanan terhadap pemanfaatan sumberdaya alam khususnya karang laut hias, untuk memenuhi kebutuhan ekspor ke luar negeri.

Barang bukti coral atau karang hidup yang disita Kapolda Sulsel di Mapolda Sulsel, Makassar, Sabtu (5/8/2017).
coral atau karang hidup. (dok tribun timur)

Program pengembangan tersebut diketuai dosen jurusan Agribisnis Perikanan Dr Mauli Kasmi SPi MSi didukung anggota pertama Ir Asriany MSi (jurusan Agribisnis Perikanan). Lalu anggota kedua Dr Andi Ridwan Makkulawu ST MSc (Jurusan Teknologi Pengolahan Hasil Perikanan).

Kegiatan PPPE tersebut didanai oleh dana riset dan pengabdian kepada masyarakat berasal dari Biaya Operasional Perguruan Tinggi Negeri (BOPTN) dari Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM) dan Direktorat Jenderal Penguatan Riset dan Pengembangan.

Baca: Mahasiswa Kedokteran Hewan Unhas Tewas di Kolam Ikan, Polisi Nilai Tak Wajar! Karena Ditemukan Ini?

Baca: Begini Gaya Hidup Otak Pembakar 5 Rumah di Jl Tinumbu di Lapas! Ancam Petugas hingga Ada Cewek?

Baca: Preview Persela Vs PSM, Saatnya Sandro Unjuk Ketajaman, Robert Janjikan Strategi Baru, Apakah Itu?

Mauli mengatakan, untuk alternatif yang perlu dilakukan atau dapat dapat ditempuh ada beberapa cara. Antara lain mengembangkan karang buatan (artificial reef), mengembangkan teknik penutupan areal, translokasi karang, dan teknik budidaya karang hias.

Teknik Budidaya

“Nah, dipilih Program Pengembangan Produk Ekspor ini dengan cara Produksi Budidaya Karang Hias sebagai salah satu alternatif. Karena cara ini bisa diperoleh karang hias yang baik dan cepat untuk kebutuhan ekspor,” kata Mauli dalam rilis ke tribun-timur.com.

“Tujuan PPPE dengan teknik budidaya karang hias secara lestari berbasis masyarakat yaitu untuk memperoleh jumlah produk, jenis, dan kualitas serta peningkatan kualitas habitat karang secara terencana,” lanjutnya.

Dengan memilih teknik budidaya karang hias, lanjut Mauli, cara ini dapat menjamin keberlanjutan usaha karang hias menuju persaingan usaha kreatif dan dedikasi dengan sentuhan inovasi produksi tanpa ketergantungan dari produk alam.

Lantas siapa warga yang dilatih? Program ini berwujud kemitraan antara perguruan tinggi dalam hal ini Politeknik Pertanian Negeri Pangkep dengan warga Pulau Barrang Lompo yang terhimpun di Usaha Kecil Menengah (UKM) Angin Mamiri dan UKM Rezky Bahari.

UKM Angin Mamiri adalah kelompok nelayan yang melakukan budidaya karang hias sekitar 5 tahun terakhir dan hasil panen dijual ke UKM Rezky Bahari sebagai pemilik modal. Dan UKM Rezky Bahari yang mengekspornya.

Kuota Menurun

Mauli Kasmi dalam penelitiannya, kuota permintaan koral alam Sulawesi Selatan mengalami tren penurunan selama kurun waktu tahun 2010 – 2015. Kecenderungannya mengalami penurunan sekitar 10 persen setiap tahunnya (Kasmi dkk, 2017).

Baca: Simak Catatan PSM di Pekan 20 Liga 1, Posisi Klasemen Anjlok hingga Striker Tak Kunjung Cetak Gol

Baca: Pembakaran Rumah Tewaskan 6 Orang di Jl Tinumbu, Dikontrol dari Lapas Makassar, Begini Ceritanya

Baca: Simak 8 Daerah Usul Jumlah Formasi CPNS 2018, Minat di Provinsi Ini? Berikut Kuota Usulannya

Sumber: Tribun Timur
Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved