Nilai Kinerja Pangan Jokowi Spektakuler, PBHMI Sebut Akmal Pasluddin Keliru

“Sabarlah menunggu, dalam waktu dekat akan dirilis BPS data pangan yang baru dengan metode kerangka sampling area,” ujar Pri Menix Dey

Nilai Kinerja Pangan Jokowi Spektakuler, PBHMI Sebut Akmal Pasluddin Keliru
dok.tribun
Pri Menix Dey, Bidang Maritim dan Agraria Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PBHMI) 

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Penilaian Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PBHMI) terhadap pinerja pangan di era pemerintahan Joko Widodo (Jokowi)-Jusuf Kalla (JK) berbanding terbalik dengan pendapat Anggota Komisi IV DPR, Andi Akmal Pasluddin.

Bidang Maritim dan Agraria Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PBHMI), Pri Menix Dey, menilai kinerja pangan di era Jokowi banyak kemajuan dan spektakuler.

Penilaian Menix didasari pada hasil kajian yang dirilis tiap tahun oleh The Economist Inteligence Unit (EIU) yang menunjukkan Global Food Security Index-GFS atau Peringkat Ketahanan Pangan Indonesia terus membaik dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

“Dari 113 negara yang dikaji, pada tahun 2017 Indonesia menempati rangking ke 69 dengan skor 51,3 dan naik 0,2 poin dibanding pada tahun 2016 yang menempati posisi 71 dengan skor 51,1,” kata Menix yang juga Koordinator Nasional Indonesia Food Watch.

Kedua, pada era Jokowi-JK, setidaknya sudah dicabut 210 regulasi pertanian yang menghambat.
Pengadaan pola tender diubah menjadi penunjukan langsung sehingga penyediaan sarana produksi menjadi cepat dan lancar.

Pun rehabilisasi infrastruktur air irigasi 3,5 juta hektare, cetak sawah dan optimasi lahan lebih 1,0 juta hektare, mekanisasi besar-besaran lebih dari 300 ribu unit, teknologi benih berkembang pesat, asuransi pertanian 1 juta hektare pertahun, dan program strategis lainnya.

“Hasilnya sangat nyata, dulu petani sering keluhkan benih, pupuk, air dan lainnya, sekarang relatif berkurang bahkan tidak ada keluhan,” tegas Menix.

Ketiga, secara kasat mata dapat dirasakan, dulu masyarakat keluhkan pasokan pangan langka dan harga tinggi saat Hari Besar Nasional yakni Ramadhan Lebaran, Iduladha, Natal, dan Tahun Baru, kini dua tahun terakhir terbukti pasokan cukup dan harga stabil.

“Kini Inflasi terjaga, petani untung dan konsumen tersenyum,” tegasnya.

Keempat, lanjut Menix, secara kuantitatif kinerja pertanian dapat dilihat dari nilai produksi 2017 Rp 1,344 triliun atau naik Rp 350 triliun dari 2012. Kini 2018 jumlah penduduk 265 juta jiwa atau bertambah 12,8 juta jiwa dari 2014 membutuhkan tambahan 1,7 juta ton beras terbukti dapat dipenuhi dari produksi sendiri.

Halaman
123
Editor: AS Kambie
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved