Mengejutkan! Sebelum Bom di Gereja Surabaya, Anak Dita Ternyata Pernah Mengirim 'Sinyal' Ini
Anak pertama Dita yang ikut dalam ledakan tersebut ternyata pernah mengirimkan sinyal melalui akun media sosialnya.
TRIBUN-TIMUR.COM - Anak pelaku bom Gereja di Surabaya telah dimakamkan oleh Dinsos Sidoarjo pada Minggu (20/5/2018).
Anak pertama Dita yang ikut dalam ledakan tersebut ternyata pernah mengirimkan sinyal melalui akun media sosialnya.
Dilansir dari Kompas.com, Aiman Witjaksono secara eksklusif mendatangi sekolah anak Dita Oepriyanto.
Dari seorang guru, Aiman mendapatkan informasi mengenai akun sosial anak Dita.
Baca: Dalangi Aksi Bom di Banyak Negara & Ingin Memerdekakan Palestina, Mengapa ISIS Tak Serang Israel?
Baca: Saat Muda Begitu Gagah, Kini Kondisi Jet Li Sangat Memprihatinkan, Penyakit Ganas Ini Menyerangnya
Sebelumnya tidak ada informasi apapun yang didapatkan Aiman soal murid kelas 11 SMA yang berusia 18 tahun ini, sampai ia menemukan sebuah foto bernuansa gelap dengan caption "...So Much, Wont Leave It..."
Ketika ditanyakan pada pihak sekolah, guru dari anak tersebut mengatakan bahwa foto itu merupakan foto sekolahnya.
"Itu foto sekolah kami di sini," kata guru tersebut.
Baca: Usai Debat Publik, Pendukung Salim-Marwan dan AIM-beNAR Nyaris Bentrok
Baca: Suasana Pemakaman Adara Taista, Hatta Rajasa Tak Kuasa Menahan Air Mata, Rasyid Lantunkan Adzan
Postingan anak Sulung Dita ini dianggap janggal karena ia sedang tidak ada rencana meninggalkan sekolahnya.
Sementara anak Dita baru kelas 11 SMA bukan kelas 12 yang hendak lulus.
Foto yang diunggah tersebut tertanggal 3 Februari 2018.
Baca: Ini 26 Tim Lolos ke Liga Champions 2018-2019, Jawara Liga Inggris Tahun Lalu Justru Gagal
Baca: Beredar 7 Foto Kecelakaan Maut Bumiayu, 11 Orang Tewas, 7 Rumah Hancur, Sungguh Mengerikan
Ketika meledakkan bom Gereja Surabaya, anak sulung ini bersama adiknya mengendarai sepeda motor dan dinyatakan meninggal dunia, sedangkan tiga anak pelaku bom rusunawa dinyatakan selamat dan satu anak di Mapolrestabes Surabaya juga selamat setelah terpental sejauh tiga meter saat bom meledak.
Sementara itu, empat anak pelaku teror yang masih hidup saat ini dirawat secara intensif di RS Bhayangkara.
Tidak hanya luka-luka di tubuh, kondisi mental mereka juga terguncang.
Mereka juga dijaga super ketat dan tempatnya pun dirahasiakan.
Baca: Ini Pengalaman Wakil Bupati Soppeng Saat Reformasi 1998
Baca: Warga Salat Tarawih, Personel Polres Selayar Jaga Masjid
"Saya mendapat informasi dari Kepala Tim Psikolog Kasus Bom Surabaya AKBP Said Rifai, ada anak yang tidak mau makan beberapa hari.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/keluarga-dita-pelaku-pengeboman-di-gereka-surabaya_20180518_135956.jpg)