Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

citizen reporter

Ambon, Musik dan Persaudaraan

Baru kali ini terjadi konferensi yang menyoal musik di Indonesia, dan kota Ambon adalah pemrakarsanya.

Tayang:
Penulis: CitizenReporter | Editor: Jumadi Mappanganro
Andi Nur Fitri SS MIKom 

Andi Nur Fitri SS MIKom
Infocomm Officer APEKSI Komwil VI

LEPAS tiga hari pelaksanaan Konferensi Musik Indonesia (KAMI) yang dihadiri kurang lebih 250 musisi nasional di Ambon yang dihelat pada 7-9 Maret 2018, saya bersama dua kantor pun terbang ke kota tersebut.

Kami tiba di Ambon menjelang magrib, pada 13 Maret 2018. Masih terasa hawa konferensi musiknya.

Di pinggir jalan, hotel-hotel, dan kafe-kafe masih bertebaran spanduk dan baliho yang menyambut peserta KAMI.

Baru kali ini terjadi konferensi yang menyoal musik di Indonesia, dan kota Ambon adalah pemrakarsanya.

Tugas kami selama di Ambon adalah melakukan pendokumentasian dan selanjutnya mempromosikan program unggulan dari beberapa kota yang terhimpun dalam Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia untuk Wilayah Timur.

Program ini lebih dikenal dengan nama APEKSI Komwil VI. Ambon mewakili keunikan karena menyatakan dirinya sebagai kota musik.

Kini Ambon sedang berusaha mendapatkan predikat Kota Musik Dunia dari UNESCO pada tahun 2019 nanti.

Jika banyak kota memproklamirkan diri sebagai kota dunia ketika platform kota cerdas diluncurkan, maka Ambon memilih menspesifikkan diri menjadi kota musik.

Sebuah predikat yang jarang sekali dijamah khususnya oleh pemerintah daerah di Indonesia.

Penulis saat berada Kota Ambon
Penulis saat berada Kota Ambon ()

Berbicara mengenai musik yang dikaitkan dengan kota Ambon, mungkin ingatan kita akan melayang pada orang-orang seperti Broery Pesolima, Utha Likumahuwa dan Enteng Tanamal.

Juga ada Hamdan At Tamimi atau lebih akrab dikenal dengan Hamdan ATT, Ruth Sahanaya, Grace Simon, Chris Pattikawa, Melky Goeslaw, Glenn Fredly, Harvey Malaiholo, Ridho SLANK dan seabrek artis nasional lainnya yang memiliki darah Maluku.

Bahkan Anda mungkin cukup familiar dengan lirik ini…you make my life so colorfull...i’ve never had it so good my love i thank you for all the love you gave to me, kemudian don’t sleep away this night my baby….

Ya, siapa lagi kalau bukan Daniel Sahuleka, biduan bersuara merdu yang kini telah mendunia.

Kegiatan bermusik masyarakat Kota Ambon sebenarnya adalah makanan sehari-hari. Sambil berkumpul, bercerita dan ngopi, ditambah petikan gitar sederhana biasanya secara otomatis mereka akan berdendang.

Pengaruh musik Barat sangat kental dalam selera musik mereka. Meskipun demikian, warna musik Ambon sudah berakulturasi dengan musik etnik dan hawaian.

Pada kenyataannya, ada nilai tambahan pada selera musik masyarakat Ambon yaitu diversitas timbre atau warna suara dan genre.

Demikian kaya sebenarnya potensi musik kota ini, sehingga mubazzir jika tidak terkelola secara baik.

Tentu cukup beralasan bagi pemkot Ambon memilih musik sebagai ikon pembangunan mereka.

Musik bagaikan DNA orang-orang Ambon “begitu mereka lahir ke dunia, suara merdu dan bakat musik menyertai.

“Di mana pun mereka kumpul, nyanyian akan selalu terdengarkan” papar Wali Kota Ambon, Richard Louhenapessy.

Penulis bersama rekan saat berada di Kota Ambon beberapa hari lalu.
Penulis bersama rekan saat berada di Kota Ambon beberapa hari lalu. ()

Jika kita mencermati peta potensi yang dimiliki Pulau Maluku, maka akan tergambar bahwa di sebelah Selatan dengan potensi perikanan, kemudian di kepulauan Seram yang memiliki emas, serta di sebelah Tenggara dengan potensi pertambangan.

Sementara itu, kota Ambon sendiri adalah golden gate jika ingin menjelajahi bentangan kepulauan Maluku.

Sebagai pintu tempat masuk itulah, Richard sepenuhnya menyadari bahwa kota yang dipimpinnya memiliki trigger ekonomi di tiga bidang yaitu barang jasa, kuliner ikan, dan musik sebagai natural resource yang patut dikembangkan.

Bak gayung bersambut, pada 29 Oktober 2016 lalu merupakan sejarah baru bagi masyarakat Ambon.

Kenyataan kekayaan musikalitas mereka yang sudah inheren dinyatakan secara resmi oleh Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf ) dan Pemkot Ambon sebagai faktor yang akan digenjot sebagai sumber pendapatan.

Di Bekraf sendiri ada 26 subsektor kreatif, khusus mengenai musik berada di Deputi Lima tentang Hak Kekayaan Intelektual (HKI).

Melalui pembentukan Tim Perencana Pembangunan Ambon sebagai Kota Musik Dunia yang selanjutnya diakomodir ke dalam struktur Ambon Music Office (AMO).

Lalu langkah-langkah serius dipetakan untuk memuluskan Ambon masuk dalam jaringan kota kreatif internasional.

Di Indonesia sudah ada beberapa kota yang menjadi kota kreatif dengan bidang masing-masing.

Semisal Bandung dengan ikon design. Pekalongan yang mengandalkan batik serta menyusul Ambon dengan musiknya.

Tampaknya tidak perlu repot bagi pPemkot Ambon untuk menentukan identitas mereka.

Saat trend pembangunan menuntut setiap daerah memiliki keunikan, Ambon menentukan jalannya di bidang musik.

Pencanangan sebagai kota musik sebenarnya sudah dimulai sejak tahun 2011 bertepatan dengan festiaval musik jazz pada saat itu.

Namun secara resmi, Bekraf mengajukan persiapan kota Ambon sebagai kota musik dunia tahun 2019 nanti, baru pada tahun 2016 lalu.

“Jadi memang ada beberapa tugas kami untuk membantu Ambon menjadi kota musik dunia oleh UNESCO pada tahun 2019 nanti,” tukas Ronny Lopis, Direktur AMO.

Dalam usaha mendapatkan predikat sebagai kota musik dunia pada tahun 2019 oleh UNESCO, pemkot Ambon melalui kantor teknis yaitu AMO mengurus langkah-langkah strategis menuju kota musik dunia, yang dahulu bernama 25 action plan.

Action plan tersebut terbagi dalam lima pilar. Pertama, musisi dan komunitas yang menyangkut penyusunan data base.

Kedua, infrastruktur yang memuat pembangunan wadah pengembangan musik seperti pusat dokumentasi musik nasional, pusat rekaman berstandar internasional, pusat kajian musik, baik etnik maupun modern, serta conservatorium.

Ketiga, proses belajar yang meliputi pembuatan sekolah-sekolah dan kursus-kursus musik, kemudian kurikulum yang bermuatan musik.

Keempat, Pengembangan Industri seperti integrasi pariwisata dengan musik, penyelenggaraan konser-konser musik skala kecil, festival musik antar genre, dan lain-lain.

Kelima Nilai Sosial Budaya dan Media. Kelima pilar tersebut sedang digenjot oleh Pemerintah Kota Ambon melalui Dinas Pariwisata dan AMO untuk dicapai dan disubmit kepada UNESCO.

Dalam perjalanan beberapa hari di Ambon, kami pun menyempatkan diri singgah di tempat-tempat penting yang merekam aktifitas bermusik.

Di antaranya Pusat Kajian Musik Etnik di IAIN Ambon, Pusat Seni Musik dan Rekaman di Universitas Pattimura dan Kafe Sibu-sibu, sebuah kafe di pusat Kota Ambon yang sangat sering disinggahi baik oleh musisi nasional maupun internasional.

Di kafe ini pula kami mendapati bukti warna suara penyanyi yang notebene adalah orang-orang memang begitu variatif.

Tidak ketinggalan mencicipi nasi kepala khas Kota Ambon di kawasan Batu Merah.

Lewat musik, Ambon ingin mengembalikan kehangatan persaudaraan yang pernah terkoyak.

Seiring dengan perjalanan waktu, mereka sendiri gerah dan ingin keluar dari tragedi itu.

Keceriaan harus hadir kembali, dan yang terpenting, perdamaian adalah harga mati.

Semoga Ambon sukses menjadi Kota Musik Dunia. Musik adalah bahasa setiap insan, terlebih bagi mereka yang punya hati.

Saya ingin menutup tulisan ini dengan sebuah pepatah Jerman yang sempat dikutip oleh Bung Ronny Lopies...Boese Menschen Haben Keine Lieder, sebab orang jahat tak punya nyanyian...(*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved