citizen reporter
Ambon, Musik dan Persaudaraan
Baru kali ini terjadi konferensi yang menyoal musik di Indonesia, dan kota Ambon adalah pemrakarsanya.
Penulis: CitizenReporter | Editor: Jumadi Mappanganro
Semisal Bandung dengan ikon design. Pekalongan yang mengandalkan batik serta menyusul Ambon dengan musiknya.
Tampaknya tidak perlu repot bagi pPemkot Ambon untuk menentukan identitas mereka.
Saat trend pembangunan menuntut setiap daerah memiliki keunikan, Ambon menentukan jalannya di bidang musik.
Pencanangan sebagai kota musik sebenarnya sudah dimulai sejak tahun 2011 bertepatan dengan festiaval musik jazz pada saat itu.
Namun secara resmi, Bekraf mengajukan persiapan kota Ambon sebagai kota musik dunia tahun 2019 nanti, baru pada tahun 2016 lalu.
“Jadi memang ada beberapa tugas kami untuk membantu Ambon menjadi kota musik dunia oleh UNESCO pada tahun 2019 nanti,” tukas Ronny Lopis, Direktur AMO.
Dalam usaha mendapatkan predikat sebagai kota musik dunia pada tahun 2019 oleh UNESCO, pemkot Ambon melalui kantor teknis yaitu AMO mengurus langkah-langkah strategis menuju kota musik dunia, yang dahulu bernama 25 action plan.
Action plan tersebut terbagi dalam lima pilar. Pertama, musisi dan komunitas yang menyangkut penyusunan data base.
Kedua, infrastruktur yang memuat pembangunan wadah pengembangan musik seperti pusat dokumentasi musik nasional, pusat rekaman berstandar internasional, pusat kajian musik, baik etnik maupun modern, serta conservatorium.
Ketiga, proses belajar yang meliputi pembuatan sekolah-sekolah dan kursus-kursus musik, kemudian kurikulum yang bermuatan musik.
Keempat, Pengembangan Industri seperti integrasi pariwisata dengan musik, penyelenggaraan konser-konser musik skala kecil, festival musik antar genre, dan lain-lain.
Kelima Nilai Sosial Budaya dan Media. Kelima pilar tersebut sedang digenjot oleh Pemerintah Kota Ambon melalui Dinas Pariwisata dan AMO untuk dicapai dan disubmit kepada UNESCO.
Dalam perjalanan beberapa hari di Ambon, kami pun menyempatkan diri singgah di tempat-tempat penting yang merekam aktifitas bermusik.
Di antaranya Pusat Kajian Musik Etnik di IAIN Ambon, Pusat Seni Musik dan Rekaman di Universitas Pattimura dan Kafe Sibu-sibu, sebuah kafe di pusat Kota Ambon yang sangat sering disinggahi baik oleh musisi nasional maupun internasional.
Di kafe ini pula kami mendapati bukti warna suara penyanyi yang notebene adalah orang-orang memang begitu variatif.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/andi-nur-fitri_20180319_155707.jpg)