Catatan HUT 45 Bosowa: Bosowa dan "Takdir" Bisnisnya; Dari Timur Matahari Terbit
Pendiri (founder) Bosowa Aksa Mahmud, HM Jusuf Kalla dan tokoh "timur" lainnya, berbusa bicara tentang keadilan pembagian kue pembangunan.
TRIBUN-TIMUR.COM - Dari timur matahari terbit. Sebuah ungkapan sarat makna, luas, dalam, magis, bahkan religius.
Kerap kali digunakan untuk menggambarkan sesuatu sebagai takdir, ketentuan Ilahi yang tak dapat ditolak.
Seperti itulah juga Bosowa, ditakdirkan lahir dan berkembang di Makassar, bagian timur Negara Kesatuan Republik Indonesia, kemudian merambah Nusantara.
Di sini pula, di Makassar, pada era Soeharto, ketika kebijakan pembangunan Indonesia masih "jawa sentris", ketidakadilan cuma dibahas bisik-bisik.
Pendiri (founder) Bosowa Aksa Mahmud, HM Jusuf Kalla dan tokoh "timur" lainnya, berbusa bicara tentang keadilan pembagian kue pembangunan.
Lantang mereka berteriak tentang ketidakadilan, menuntut keadilan, namun hasilnya cuma seperti bisikan di tengah badai gurun pasir.
Berteriak, atau menangisi kondisi ketimpangan tiada guna.
Meratapi kegelapan juga sia-sia.
Jauh lebih baik menyalakan lilin. Jauh lebih berarti dan bermakna jika bertindak, sekecil apa pun.
Itulah sikap dan langkah pendiri Bosowa, juga Kalla Group.
Dua korporasi ini ditakdirkan lahir menacapkan pondasi bisnisnya, yang kemudian mengakar kuat di Makassar.
Ketika berusia seperempat abad, Bosowa lompat kwadran bisnis dari jasa dan perdagangan ke industrialisasi.
Ditandai dengan pembangunan pabrik semen di Maros.
Namun, krisis ekonomi dan keuangan menghantam, menyapu habis bisnis konglomerasi nasional.
Bosowa pantang surut, tetapi bertarung mengatasi badai krisis. Tidak memunggungi ibu pertiwi dan Tanah Air.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/aksa-mahmud2_20180222_221026.jpg)