Jabat Plt Wali Kota, Tantangan Berat Menanti Deng Ical
Termasuk ini, bagaimana memastikan ASN ini bisa betul-betul bekerja secara profesional dan menjaga netralitas, itu yang paling berat
Penulis: Fahrizal Syam | Editor: Ardy Muchlis
Laporan Wartawan Tribun Timur, Fahrizal Syam
TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Pelaksana Tugas Wali Kota Makassar, Syamsu Rizal MI memulai rutinitasnya menggantikan Danny Pomanto untuk sementara waktu. Hari ini, Kamis (15/2/2018) adalah hari pertama pria yang akrab disapa Deng Ical ini menjalankan tugas sebagai wali kota.
Lantas apa kata Deng Ical soal tugas barunya ini? Rupanya ia menganggap jabatannya sebagai wali kota ini sebagai hal yang biasa saja, dan sama seperti ketika masih sebagai wakil wali kota.
"Lain ji suasanannya, ini biasaji cuma agak panjang. Kalau pak wali ke luar negeri atau izin ke mana, kan tetap ji kita. Biasaji sebenarnya, ndak adaji yang berbeda sekalia," kata dia.
Deng Ical mengatakan, yang membedakan hanyalah karena masa mengganti Danny Pomanto kali ini lebih panjang, jadi butuh perencanaan-perencanaan teknis bagaimana memastikan semua program Pemkot Makassar bisa berjalan baik.
"Termasuk ini, bagaimana memastikan ASN (Aparatur Sipil Negara) ini bisa betul-betul bekerja secara profesional dan menjaga netralitas, itu yang paling berat sekaligus paling strategis. ASN itu role model, kalau bikin salah dan ekstrim orang bisa ikut," kata mantan Sekertaris Partai Demokrat Sulsel ini.
Selain memastikan ASN-nya tetap netral, tantangan Deng Ical lainnya adalah memposisikan dirinya tetap netral dalam ajang Pilwali Makassar ini. Seperti diketahui, Deng Ical baru saja bergabung dengan Partai Golkar yang memiliki usungan calon di Pilgub Sulsel dan Pilwali Makassar.
Ia pun mengaku telah siap menjaga netralitas dan memposisikan dirinya sebagaimana mestinya, tanpa menimbulkan persepsi bahwa ia berada di kubu calon tertentu.
"Dalam kapasitas tertentu, kalau bukan momennya di momen partai, kita tetap jadi Plt wali kota tapi kalau momennya sudah partai, yah mau tidak mau kita kan kader partai juga, jadi ini yang harus secara profesional saya bedakan," imbuhnya.
"Kalau partai saya lepaskan atribut saya sebagai wali kota, bahkan kalau kampanye nanti saya mungkin harus minta izin, cuti di luar tanggungan misalnya setengah atau satu hari. Ini memang harus dijaga, agak berat tapi memang harus dicoba dan berusaha dilaksanakan," sambung pria yang terkenal sombere' ini.
Tantangan tak kalah berat bagi Deng Ical adalah, memastikan Kota Makassar tetap damai selama gelaran pilkada
Pilwali Makassar yang hanya mempertemukan dua calon alias head to head berpotensi mengganggu stabilitas kemanan Kota Makassar. Hal tersebut mulai terlihat saat pendukung kandidat dua pasangan calon wali kota bersitegang di acara pengundian nomor urut beberapa waktu lalu.
Deng Ical menganggap keributan-keributan kecil yang terjadi selama proses pilkada adalah hal yang biasa terjadi, karena merupakan bentuk ekspresi masyarakat yang menaruh harapan besar ke calon yang didukungnya.
"Pilkada adalah momen mengasah harapan kita semuanya, bukan hanya dalam konteks politik tapi juga dalam sosial, bahkan personalnya orang selalu menaruh harapan terhadap momen pilkada, sehingga wajar jika kemudian orang mau mengekspresikan harapan itu dalam berbagai bentuk prilaku termasuk tanggapan," kata dia.
"Kita harap yang lain juga menganggap dalam perspektif yang berbeda, tapi dalam pandangan konfrehensif kurang lebih sama. Sehingga orang bisa memahami kenapa pendukungnya ini mau mati-matian, dan saya pikir ini wajar-wajar saja," sambung Deng Ical.
Terkait kondisi itu, Deng Ical tetap menghimbau dan mengingatkan semua masyarakat Kota Makassar untuk selalu menjaga peran dan fungsi sosialnya dalam konteks menyeimbangkan dengan harapan politiknya.
"Yang PNS ini terutama jaga netralitas, sekaligus mengingat bahwa PNS itu adalah panutan dari masyarakat lain, sehingga tanggung jawabnya juga lebih besar. Demikian juga dengan profesi-profesi lain, yang pengusaha harus mengambil peran dalam politik, tetapi mereka juga harus ingat bahwa ada prinsip dalam berusaha yang tak boleh kita abaikan," ucapnya.
"Demikian juga dengan profesi lain, mau dokter, petani, nelayan, ada batas-batas mana wajar dan tidak. Apalagi kalau kita mengingat dasar budaya kita sipakatau sipakinga, sipakalebbi. Ini menjadi dasar bagi kita semua untuk kembali bahwa momen pilkada ini berlalu, kata Tumming dan Abu "dunia ji ini"," sambung Deng Ical dengan nada bercanda.
Ayah tiga anak ini menuturkan, momen pilkada walaupun menguras banyak energi terutama psikologi karena berlangsung lima tahun sekali, diharapakan dapat berjalan dengan damai, hingga akhirnya nanti ia kembali ke jabatan aslinya sebagai Wakil Wali Kota Makassar.
"Kita harapkan pilihan itu memang didasari bukan hanya kepentingan emosional tapi juga rasional, dan kita berharap mereka benar-benar memilih sesuai apa yang dianggap benar, dan kewajiban tim kampanye itu bagaimana memastikan calonnya lebih baik dibanding calon lain," tutup Deng Ical. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/deng-ical_20171222_214744.jpg)