Begini Kehidupan Buddha di Thailand, Biksu Juga Manusia
Kun Sunee menjelaskan, saat para biksu dan juga warga yang beribadat di kuil butuh kekhusukan.
Penulis: Arif Fuddin Usman | Editor: Ardy Muchlis
TRIBUN-TIMUR.COM, CHIANG MAI - Warga Thailand, mayoritas menganut agama Buddha.
Tapi agama-agama lainnya juga diakui dan berkembang, termasuk Islam yang persentasenya mencapai 15 persen.
Baca: Begini Suasana Pagi di Kota Chiang Mai Thailand, Tidak Ada Macet
Dalam kepercayaan Buddha di Thailand, kehidupan adalah sebuah siklus menuju kehidupan kekal bernama nirwana.
Ketika manusia mati, ruhnya akan kembali hidup menjalani kehidupan di dunia dalam bentuk reinkarnasi. Kondisi reinkarnasi berikutnya akan memiliki wujud seperti perbuatan yang dilakukan di kehidupan sebelumnya.
"Jadi kalau banyak melakukan kesalahan, akan mendapat balasan di kehidupan berikutnya," jelas pemandu dari Tourism Authority of Thailand (TAT), Kun Sunne, Kamis (25/1/2018).
Baca: Harum dan Nikmatnya Kopi Indonesia Sampai di Chiang Mai
Karena itu, lanjut Kun Sunee, masyarakat Buddha di Thailand meyakini, hidup harus berbuat baik dan ketika menjadi yang terbaik, mereka akan masuk nirvana.
Pada hari kedua Tribun-Timur.com, mengikuti perjalanan ke Chiang Mai, Thailand, atas undangan TAT di Indonesia, mendapat kesempatan mengunjungi Wat Phra Singh Temple, di Singharat Road, Subdistrict Phra Singh.
Pada setiap pagi hari, para biksu di Chiang Mai melakukan sembahyang dan juga memberikan pelayanan doa bagi masyarakat penganut Buddha.
Chiang Mai berjarak sekitar 700 KM arah utara dari Bangkok, Ibu kota Negara Thailand. Dengan perjalanan udara, butuh 45-60 menit.
Baca: Berpelesir ke Chiang Mai, Thailand, Ini Lokasi Rumah Makan Halal yang Bisa Dikunjungi
Oh ya, ada beberapa aturan yang dilarang untuk pengunjung saat masuk kuil. Selain harus melepas sepatu, aturan yang sangat strick atau ketat adalah berpakaian yang sopan.
Kun Sunee menjelaskan, saat para biksu dan juga warga yang beribadat di kuil butuh kekhusukan. Tak jarang, turis atau wisatawan mancanegara, seperti dari Eropa atau Amerika berpakaian ala kadarnya.
"Biksu juga manusia biasa. Karena itu, para pengunjung diminta berpakaian sopan. Tidak berpakaian belahan rendah untuk pengunjung perempuan. Atau memakai short pan atau celana pendek yang ketat," tambah Kun Sunee.
Di provinsi bagian utara Thailand, bisa ditemukan banyak kuil Buddha. Dan dengan model bangunan yang semakin runcing model atapnya.
Tak hanya itu, semakin ke utara, bentuk kuil makin unik dengan ukiran-ukiran kayu yang melimpah. Baik di bagian eksterior maupun interiornya.
Baca: Mantan Striker PSM Asal Brasil Ini Resmi Pensiun. Komentar Rahmat dan Klok Menyentuh
Kenapa demikian, karena di provinsi bagian utara merupakan wilayah yang makin dekat dengan pusat penyebaran Buddha.
Segitiga Emas
Wilayah Provinsi Chiang Mai lalu Provinsi Chiang Rai, dekat dan masuk perbatasan Burma (Myanmar) dan Laos. Ke Utara lagi masuk wilayah Republik Rakyat Tiongkok (RRT).
Baca: Hanya Dijanji-janji Klub Lama, Mantan Striker PSM Asal Brasil Ini Akhirnya Gigit Jari
Wilayah ini juga dikenal sebagai Gold Triangle atau segitiga Emas. Dimana wilayah tiga perbatasan ini merupakan daerah pegunungan dan dulu dikenal sebagai daerah pertanian ganja.
Nah, di daerah ini, di dalam Temple atau Kuil, banyak terdapat larangan atau imbauan terkait penyalahgunaan ganja atau kokain. Raja Thailand juga mengajak para petani untuk berpindah menjadi petani sayuran hingga berkebun kopi.
"Raja mengajak petani untuk berpindah menjadi petani sayur, berkebun kopi, atau buah-buahan. Dan sampai sekarang usaha ini terus dilakukan," pungkas Sunee. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/makassar_20180125_164643.jpg)