Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Catatan Kecil: Relawan Sulsel dalam Tsunami Aceh, Mengapa SSPA Disebut Pasukan Sapu Bersih?

Tidak ada yang berani masuk ke gorong-gorong itu, saya masuk dan keluarkan mayat yang sudah hancur,” kata Taqwa Yunus.

Tayang:
Penulis: AS Kambie | Editor: AS Kambie
13 Tahun Tsunami Aceh 

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Tribun Timur mengutus wartawan dan fotografer ke Aceh dalam pemberangkatan rombongan pertama dari Sulsel.

Fotografer Tribun Timur, Yusuf Ahmad, sudah menyampaikan laporan pandangan mata dari Aceh pada Hari Selasa (28/12/2004).

Pada laporan hari kedua, Yusuf Ahmad mengabarkan bahwa listrik sudah mulai menyala pada Rabu (29/12/2004).

Reporter Tribun Timur, Mursalim Djafar, tiba di Lhokseumawe, Aceh, pada Hari Rabu (29/12/2004).

Saya diberangkatkan bersama rombongan relawan Sulsel yang dipimpin Gubernur Sulsel Syahrul Yasin Limpo, kemudian.

Saya lupa berapa jumlah anggota rombongan yang menumpangi Pesawat Celebes Express Airlines itu. Berikut beberapa kenangan yang sulit saya lupakan dari pengalaman meliput bencana mahadahsyat 13 tahun lalu itu.

Disambut Bau Anyir
Pesawat Pesawat Celebes Express Airlines mendarat di Banda Aceh, dinihari. Satu per satu relawan dari Sulsel turun dari pesawat yang dipiloti Kapten Toni Suhendar.

Bau anyir segera menyambar. Semakin kencang angin bertiup, bau itu kian menyengat. Hening! Suasana di bandara mencekam.

“Tenang, Kambie, ini. Dalam kondisi apapun, kita harus tenang,” ujar wartawan senior, Husain Abdullah, yang menghampiriku.

Butuh waktu sedikitnya dua jam untuk mengemas barang menuju Rumah Sakit (RS) Zaenoel Abidin. Rumah sakit terbesar di Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) itulah yang akhirnya menjadi posko Satgas Sulsel Peduli Aceh (SSPA).

Di atas mobil truk berlantai dua, terdengar penyampaikan dari penjemput rombongan, Andi Onny Tenrigappa, melalui pengeran suara, "Silakan kenakan masker sebab tidak jauh dari tempat ini ada bau yang sangat anyir dari lokasi pekuburan massal."

Perjalanan terasa sangat mencekam. Apalagi sebagian besar lampu jalan padam. Gerakan-gerakan pohon di sepanjang jalan terasa menimbulkan getaran gaib yang luar biasa bagiku.

Rombongan tiba di RS Zaenoel Abidin. Kondisi RS itu masih sangat semrawut. Di beberapa bagian terlihat tumpukan lumpur. Bau anyir juga sangat akbar di hidungku.

Di situ sudah menunggu Prof Dr Idrus Paturusi, Ketua Crisis Centre Unhas. Usai mengemas barang, kami disilakan ke lantai dua. Di sebuah ruangan itulah kami merebahkan diri.

Uceng, sapaan Husain Abdullah, tampak sibuk berembuk dengan Wakil Gubernur Sulsel Syahrul Yasin Limpo, Wali Kota Makassar Ilham Arief Sirajuddin, Peter Gozal, dan SAR senior Andi Muhammad Taqwa Yunus.

Hasil rembug mereka, sasaran pertama setelah RS Zaenoel adalah Masjid Raya Banda Aceh yang akan digunakan Jumat pertama pascatsunami, Jumat (7/1/2005).

Satu regu SAR disiapkan membantu membersihkan halaman masjid, tim lainnya ditugaskan membersihkan sisa-sisa lumpur yang sudah mengering di halaman RS. Anggota tim lainnya mengepel lantai RS.

Saat tim beraksi, Yasin Limpo, Wali Kota Makassar Ilham Arief Sirajuddin, dan pejabat lainnya mulai melakukan pertemuan dengan sejumlah pihak di Banda Aceh.

Saya bersama tiga wartawan lainnya memilih jalan-jalan naik bentor (becak motor) keliling kota. Secara kebetulan kami bertemu Mayor TNI Awaluddin, anggota TNI Kodam Iskandar Muda, NAD, dari Kabupaten Pinrang, Sulsel. Kami ditemani jalan-jalan keliling kota.

Dia perlihatkan kepada kami beberapa bagian yang masih dipenuhi timbunan sampah.

Di Jl Panglima Polem, sekitar dua kilometer dari laut, tepatnya di depan Kantor Pemasaran Suzuki Motor, terlihat dua buah kapal bermotor menabrak bangunan.

Ih, ternyata di bagian depan kapal itu, di salah satu sudut bangunan, terbujur mayat yang sudah membengkak. Mayat itu tertimbun sampah berupa papan dan balok-balok.

Beberapa teman mencoba menarik mayat itu keluar dari tindisan lambung kapal.

“Eh, jangan ditarik keras nanti putus lututnya,” teriak maeramen Makassar TV.

Demikian pula di Jl Pocut Barem, di depan Gereja GPIB, kami menemukan beberapa mayat.

Menurut pengakuan Awaluddin, dia bersama timnya mengevakuasi 80 mayat di tempat itu. Salah satunya mayat orang asing. "Mungkin pendeta gereja ini," kata Awaluddin.

Di samping gereja itu, ada Gedung Departemen Perdagangan NAD. Lumpur dan sampah memenuhi gedung itu.

Di salah satu tiangnya terdapat sebuah mobil yang di atasnya ada mayat terjepit antara atas mobil dengan langit pintu masuk gedung.

"Kami mencoba menariknya kemarin, tapi justru hanya kakinya yang copot," kata Awaluddin.

Kami memberanikan diri memasuki gedung itu. Bau bangkai terasa kian menyengat. Masker yang kukenakan tak kuasa membendung serbuan bau itu.

Sedikitnya tiga mayat masih terbujur di lantai ruangan gedung berlumpur dan penuh sampah.

Di Jl Syech Mohd Yamin juga begitu. Sejumlah mayat masih terjepit di sela-sela sampah.

Sebagian besar sampah memang berupa kayu berukuran panjang. Sepertinya, kayu bahan pembuat perahu. Bahkan ada tiga mayat yang masih membujur di sisi jalan itu.

Jumat Pertama
Ribuan umat Islam di NAD menunaikan salat Jumat di masjid Agung Baiturrahman, Banda Aceh, Jumat (7/1/2005). Sekretaris Majelis Ulama Indonesia (MUI) Prof Dr Din Syamsuddin tampil membawakan khutbah.

Sejak didirikan 712 tahun lalu (tahun 1292 Masehi), Masjid Baiturrahman secara rutin ditempati salat Jumat. Namun, baru pada Jumat 31 Desember 2005 lalu, masjid itu masih menjadi penampungan mayat dan kamp pengungsi korban gempa dan tsunami NAD, Minggu (26/12/2004).

Saat akan menggelar salat Jumat, pekan lalu, hanya calon jamaah yang datang hanya delapan orang. Padahal syarat untuk menggelar salat Jumat di satu kampung, syaratnya minimal dihadiri 40 orang. Jumlah itu jauh lebih banyak dari jumlah bangkai mayat yang masih tergeletak di pelataran masjid.

Sejak dua pekan lalu, masjid tertua di NAD itu dipenuhi mayat. TNI dan sejumlah relawan memang bersikeras membersihkan masjid peninggalan Kesultanan Aceh untuk ditempati salat jumat.

Ratusan jamaah tampak antre di beberapa tempat pengambilan air wudhu. Azan baru dikumandangkan, sekitar pukul 12.45 wita. Bergabung dengan ratusan relawan, wartawan, dan aparat keamanan, warga melaksanakan salat Jumat dengan khusu' dan penuh rona kedukaan.

Bau mayat masih terasa dalam masjid. Bau itu semakin terasa dan ketika sujud. Lantai bertegel marmer dalam masjid masih akrab dengan bau amis darah dan sisa bangkai.

Dalam khutabhnya, Din Syamsuddin mengajak warga jamaah meningkan kesabaran, persatuan, kebersamaan, dan ketaqwaan. Khususnya dalam menghadapai musibah yang telah merenggut ratusan jiwa warga Aceh.

"Insyaalah dengan kesabaran, kebersamaan, dan ketaqwaan, kita akan segera melewati musibah ini. Dan yakinlah Allah SWT akan memberikan yang lebih baik," jelas Din.

Usai Salat Jumat, dilaksanakan Salat Gaib yang dipimpin Ketua Permusyawaratan Ulama NAD. Saat khutbah, sejumlah jamaah tampak terharu. Bahkan ada yang sampai menggeleng-gelengkan kepala sambil memejamkan mata.

Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat Alwi Shihab juga tampil membesarkan jiwa rakyat Banda Aceh, seusai salat gaib.

Jam dinding yang terpampang di bagian depan masjid masih menunjukkan pukul 08.48 WIB. Jam bebentuk bundar beraksara Arab itu memang sudah rusak. "Jam itu rusak persis saat gempa itu terjadi. Jam itu dirusak oleh musibah ini," ungkap seorang jamaah.

Bagi warga Banda Aceh, jam itu tentu menorehkan kenangan tersendiri. Apalagi jam itu terpampang jelas di atas pintu masuk masjid. Berdiameter sekitar 50 cm, jam itu dilengkapi kaligrafi Arab melingkar. Bertuliskan, lailaaha illallah Muhammadan Rasulullah

Tim Evakuasi Mayat
Malam kedua, setelah pertemuan Syahrul dan Ilham dengan otoritas setempat, serta saran dari wartawan senior, SSPA sepakat membentuk Tim Evakuasi Mayat.

“Berdasarkan laporan dari posko relawan, masih banyak mayat yang belum dievakuasi, khusus mayat yang berada dalam reruntuhan bangunan, got, dan gorong-gorong” kata Husain Abdullah dalam rapat evaluasi hari pertama.

SAR senior, Andi Muhammad Taqwa Yunus, disepakati memimpin Tim Evakuasi Mayat. Dibentuk juga tim yang memonitoring informasi mengenai kondisi evakuasi mayat. Tim yang beranggotakan kebanyakan wartawan ini sekaligus memetakan lokasi yang akan didatangi Tim Evakuasi Mayat.

Ditempel pengumuman di pagar RS Zainoel Abidin yang berisi imbauan agar yang menemukan mayat belum dievakuasi segera melapor ke Posko SSPA.

Esoknya, mulai berdatangan laporan mayat tak terurus ke Posko SSPA. Taqwa Yunus dan pasukannya sudah sibuk mengevakuasi mayat yang tak utuh dari tempat yang sulit dijangkau relawan lain.

Sasaran pertama Tim Evakuasi Mayat melakukan pembersihan di Kantor RRI. Tumpukan sampah dari batang pohon dan balok-balik menumpuk di depan Kantor RRI yang tingginya hampir melewati atap bangunan di sekitarnya.

Ruas Jl Iskandar Muda memang masih dipenuhi sampah. Bau mayat masih sangat menyengat. RRI termasuk gedung terparah. Menurut Kepala RRI Banda Aceh, Sudarmin Dahlan, sejak 31 Desember sudah delapan mayat dievakuasi dari halaman kantor tersebut.

Sudarmin adalah pria asal Sulawesi Selatan yang bertugas di Aceh. Dia lama menjadi penyiar berita di RRI Ujungpandang (sekarang Makassar) dan TVRI Ujungpandang di era tahun 1970-an hingga 1980-an.

Hitung Taqwa Yunus kembang-kempis saat mendekati tumpukan sampah itu. “Aih, pasti masih ada mayat dalam tumpukan sampah ini,” kata Taqwa.

Segera Pasukan Tim Evakuasi Mayat beraksi. Dedaunan disibak, balok-balok dileparkan, hingga akhirnya terlihat sesosok mayat.

Mayat-mayat yang dikeluarkan dari lokasi sulit dimasukkan dalam kantong warna hitam kemudian diangkut ke pinggir jalan. Tim lain akan datang menjemput mayat-mayat itu nanti.

“Ada tadi mayat di gorong-gorong yang kami keluarkan. Tidak ada yang berani masuk ke gorong-gorong itu, saya masuk dan keluarkan mayat yang sudah hancur,” kata Taqwa dalam evaluasi malam ketiga.

Sepakterjang pasukan khusus yang dipimpin Taqwa Yunus membuat Relawan SSPA semakin disegani dan dijuluki “Pasukan Penyapu Ranjau”. Ada juga yang menjulukinya, “Pasukan Penyaput Mayat”.

Gempa Susulan
Saat lagi briefing di lantai 2 RS Zainoel Abidin, Jumat (7/1/2005) malam, tiba-tiba lantai terasa bergetar, lampu di plafon berayun-ayun. “Gempa lagi ini,” ujar Taqwa Yunus.

Sebagian relawan yang sudah terlentang seketika bangun. “Tenang, tenang.... ini hanya gempa biasa,” teriak Uceng yang masih duduk berselimut sarung kotak-kotak di pojok RS bersama Anno Suparno dan beberapa wartawan senior.

Sabtu pagi, gempa juga sempat menggoyangkan badan para relawan asal Sulsel di RS Zainoel Abidin.

Saat itu aku sementara asyik memandangi sungai yang terbentang di depan kantor itu. Bau tak sedap memang sesekali tersembur dari sungai yang menurut warga setempat ditemukan puluhan mayat terapung, beberapa hari lalu.

Di pendopo, Rumah Jabatan Gubernur NAD, tempat ratusan wartawan dalam dan luar negeri berposko, masih terpajang poster-poster orang hilang.

"Bagus sekali kalau Kontras (Komisi Orang Hilang dan Korban Kekerasan) didirikan di sini," ujar Uceng.

Selain di pendopo, di depan Rumah Sakit Zainoel Abidin juga telah terpajang stasiun satelit milik wartawan Australia.

Sejak awal kedatangannya, relawan Australia langsung membangun instalasi air bersih di kawasan Simpang Lima, Pusat Kota Banda Aceh.

Ratusan warga antre tiap hari menunggu giliran mendapatkan segalon air bersih siap minum.

Selain Australia dan Amerika Serikat, Perancis, Inggris, Cina, Spanyol dan Jerman termasuk negara yang mengirimkan relawan dalam jumlah besar ke Banda Aceh.

Negara Timur Tengah yang semula aku hardik karena tidak tampak mengirimkan bantuannya juga ternyata telah banyak mengirimkan relawan ke Aceh.

Beberapa mobil berhias bendera Turki sesekali melintas di jalan raya. Di sekitar Masjid Babussalam, eskavator dan truk raksasa dari Yaman juga masih terparkir.

Sementara, di beberapa ruas jalan, warga Pakistan sedang asyik membagikan mi instan plus kecap botol dan minyak goreng ke warga Kota Banda Aceh.

"Min aina ya akhi (Anda dari mana?)," tanyaku kepada seorang relawan berjubah plus sorban dengan jenggot tebal di wajahnya.

"Ana min Pakistan (saya dari Pakistan)," jawabnya singkat.
Di halaman RS Zainoel Abidin, Jumat lalu, dua eskavator dari Australia dalam waktu sekejap berhasil membersihkan lumpur setinggi kurang lebih 20 centimeter.

Sementara, relawan Cina sedang serius mengangkut sampah dari beberapa ruangan rumah sakit.

Cucu Qahhar Mudzakkar
Evakuasi mayat dan isu “serangan” GAM merebak di tengah posko relawan Sulsel.

Relawan yang akan ke lapangan melakukan dievakuasi sudah ditatar teknik menghadapi GAM. Kuncinya, penjelas saja, “Saya dari Sulsel”.

Yang sering bertanya “dari mana?” disebut-sebut hanya dari kalangan GAM.
Biasanya, setelah mendengar, Kesaksikan beberapa relawan, setelah mendengar “Dari Sulsel”, si penanya akan berkata, “Oh, tidak apa-apa, cucunya Qahhar Mudzakkar."

GAM sedikitnya dua kali membuat tegang relawan Sulsel. Pertama, saat paramiliter ini mendatangi posko SSPA di Lhok Ngah dengan bersenjata otomatis AK-16 meminta sepatu boot .

"Waktu itu mereka minta sepatu boot, kita bilang sudah habis, semua sudah terpakai. Akhirnya mereka pergi sendiri," kata Relawan SSPA Erwin.

Kedua, mereka mendatangi Posko Induk SSPA di Rumah Sakit Umum Zainoel Abidin. Mereka datang dengan senjata lengkap tengah malam. "Setelah mereka mengetahui kami dari Sulsel, mereka malah tersenyum. Mereka bilang tidak apa-apa, cucunya Qahar Mudzakkar," kata Erwin.

Pascakedatangan "saudara" jauh itu, untuk keselamatan relawan Sulsel , aparat TNI disiagakan menjaga RSUZA sejak kedatangan GAM di Posko Induk SSPA tersebut.

"Jadi sekarang rumah sakit itu sudah dijaga 24 jam aparat TNI," jelas Andi Taqwa Yunus, Koordinator Tim Evakuasi SSPA.

Erwin menceritakan saat menjemput bantuan truk Wakil Presiden RI Jusuf Kalla di Lhoksemawe. Kota yang tak luput dari hantaman tsunami ini berjarak sekitar 240 km dari Pusat Kota Banda Aceh. Jalan yang menghubungkan Lhoksemawe dan Banda Aceh pun sudah mengalami kerusakan berat akibat bencana alam itu.

Dapur Umum Sulsel
Minggu (9/1/2005) malam, Dapur Umum Relawan Sulsel di Rumah Sakit (RS) Zainoel Abidin, geger.

Seperti hari sebelumnya, setelah matahari terbenam, relawan Sulsel kumpul melepas stress di lantai dua rumah sakit.

Tim Evakuasi Mayat biasanya melakukan rapat evaluasi tentang hasil kerja seharian dipimpin Andi Muhammad Taqwa Yunus.

Di saat istirahat seperti itulah, biasanya datang panggilan lewat pengeras suara (Airphone), "Makan, makanan sudah siap." Tanpa menunggu panggilan selanjutnya, segera anggota relawan "berhamburan" ke dapur umum yang di ujung lantai dasar RS Zainoel Abidin.

Taqwa Yunus memilih istirahat setelah memimpin rapat evaluasi. Hingga sebagian besar anggota tim sudah makan, Taqwa masih asyik tidur.

Sekitar pukul 10.30 WIB, sejumlah relawan Jepang mendekati posko. Tak ada yang berani mengajaknya ngobrol. Petugas dapur umum Sulsel pun hanya tertunduk, "Please!," katanya mempersilakan mereka makan.

Tanpa banya komentar, sambil tersenyum, tim relawan dari Jepang itu segera menyambar piring dan melahap nasi putih, ikan goreng kering, plus sayur asam, "made in" tim dapur umum Sulsel. Usai makan, Mitsuo, relawan yang mengaku utusan Universitas Kyoto Jepang bercerita dalam Bahasa Inggris.

Dia mengaku diutus universitasnya sebagai tenaga medis di Aceh. Dia datang bersama sejumlah teman-temannya yang lain. Malam itu, mereka tidur di lantai II, RS Zainoel Abidin. Mitsuo bercanda dengan relawan Sulsel hingga pukul 11.30 WIB. Setelah itu dia meninggalkan tempat ke lantai II. Dia tidur di dekat pintu WC RS tersebut.

Tengah malam, Taqwa bangun. "Kambie, bagaimana kalau kita cari makan," katanya. "Ayo," jawabku. Lalu dia meminta Gajah Mada, Komandan Regu Evakuasi (Danru) Tim Sulsel, "mengintai" kondisi dapur umum. "Siap, Komandan," jawab Gajah mantap, lalu segera meluncur ke dapur umum.

Tak lama berselang, Gajah kembali datang tergopoh-gopoh. "Siap komandan, persediaan makanan habis. Nasi banyak, tapi ikan dan sayur sudah habis," kata Gajah dengan suara lantang.
Suara seperti itu memang selalu diperdengarkan kelompok tim ini.

"Kenapa bisa habis," tanya Taqwa.
"Bagaimana tidak habis, Komandan. Tadi beberapa relawan Jepang ikut makan," jawab Gajah.

Dapur umum Sulsel memang terbuka untuk umum. Bukan hanya relawan dalam negeri, seperti dari Jakarta dan Sumatera Selatan, yang kerap ikut makan. Relawan Australia, Cina, Spanyol, dan Jepang pun kadang ikut membaur, makan bersama.

Pasien di RS juga ikut ditanggung makannya. "Kita alokasikan dana sebesar Rp 2 juta per hari untuk makanan 200 pasien," jelas Prof Dr Idrus Paturusi, Penasihat Tim Sulsel Peduli Aceh.(*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved