VIDEO ON DEMAND
VIDEO: Begini Aktivitas di Pelabuhan Jeneponto Saat Ombak Tinggi
Nyaris tidak ada aktivitas mencolok dari para Anak Buah Kapal (ABK) yang kerap melakukan aktivias bongkar muat kapal.
Penulis: Muslimin Emba | Editor: Imam Wahyudi
TRIBUNJENEPONTO.COM, BINAMU - Suasana lengang terlihat di Pelabuhan Jeneponto, Desa Bungeng, Kecamatan Batang, Selasa (19/12/2017) siang.
Sejumlah kapal layar motor (KLM) terlihat bersandar di pelabuhan yang berjarak 15-17 kilometer dari pusat kota Jeneponto, Bontosunggu.
Nyaris tidak ada aktivitas mencolok dari para Anak Buah Kapal (ABK) yang kerap melakukan aktivias bongkar muat kapal.
Seorang nahkoda kapal, Safir (35) yang dihampiri menuturkan jika dirinya saat ini enggan melakukan aktivitas pelayaran lantaran cuaca buruk.
"Biasanya itu kalau cuaca normal dari Embai Flores ke sini hanya 24 jam, tapi kemarin saya baru tiba hari Senin subuh karena ombak tinnggi, padahal harusnya saya tiba hari Minggu jam 11," kata Safri.
Akibat cuaca buruk itu menurut Safir dirinya bersama sejumlah ABK kapal lainnya membutuhkan waktu sedikitnya 36 jam untuk tiba dari pelabuhan Embai Flores menuju pelabuhan Jeneponto.
"Jadi butuh waktu dua hari tiga malam baru bisa tiba karena harus memutar di belakang pulau Selayar, karena kalau lewat depan Selayar disana yang tinggi ombaknya sampai 3,5 meter sampai-sampai naik di badan kapal," ujarnya.
Untuk keamanan, Safir mengaku belum berencana untuk melakukan aktivitas pelayaran sebelum cuaca kembali normal.
"Untuk sementara istirahat empat hari sampai satu minggu kedepan sambil tunggu pantauan cuaca kembali normal, karena membahayakan memang ini ombak," tuturnya.
Dari data yang diperoleh dari petugas Pelabuhan Jeneponto, sedikitnya terdapat 566 kapal yang melakukan aktivitas bongkar muat barang dari Januari hingga 19 Desember 2017.
Kedalam air di pelabuhan itu mencapai kedalam empat hingga enam meter. Kapasitas kapal yang dapat bersandar di pelabuhan itu minimal 40 hingga 1.352 GT (Gros Tonase).
Aktivitas kapal di pelabuhan itu didominasi aktivitas pelayaran dari perairan Nusa Tenggar Timur, Nusa Tenggar Barat hingga ke perairan Ambon.
Sementara, untuk jumlah kapal lokal Jeneponto yang melakukan aktivitas pelayaran mencapai 30 unit.