MTC Karebosi Transformasi ke e-Commerce
Pelanggan kini tak mau repot dengan batasan waktu belanja saat jam operasional toko. Konsumen tak mau repot antre saat membayar
Penulis: Hasrul | Editor: Ardy Muchlis
TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR-- SENIN, 16 Oktober 2017, bagi owner, direksi, serta manajemen PT Tosan Permai Lestari, akan jadi malam yang dikenang panjang.
Bukan peringatan hari ulang tahun (HUT) ke-14 belaka, seremoni ini jadi moment transformasi cara berbisnis pengelola dan tenant MTC dan Karebosi Condotel dari model konvensional ke strategi digital.
Jika peringatan ulang tahun 13 tahun sebelumnya, sebatas silaturahim, sambutan dari owner, kesan dari relasi, atau peluncuran produk jasa baru, dan pembagian door prize, namun tadi malam, seremoni itu ada semacam declaration speech, dari generasi kedua pengelola bisnis ini.
Jika sebelumnya, perintis kelompok usaha jasa dan ritel ini diberi waktu berbicara maka, semalam, giliran Djafar Basri, Direktur PT Tosan Permai Lestari, menyampaikan rencana strategis masa depan bisnis ritel modernnya di Makassar.
Djafar bercerita, kala MTC Karebosi hadir 14 tahun lalu, mereka adalah mal dengan konsep one stop shopping, sukses membranding MTC sebagai pusat belanja IT, elektronik terlengkap di Indonesia timur.
Namun, seiring bergeraknya model bisnis dari konvensional dan tradisional yang oleh Djafar diistilahkan “offline’, konsumen ternyata lebih memilih beralih ke cara bisnis online.
‘Pelanggan kini tak mau repot dengan batasan waktu belanja saat jam operasional toko. Konsumen tak mau repot antre saat membayar, pelanggan tak mau repot bawa pulang belanjaan mereka, mereka lelah dengan macet di jalan dan cari tempat parkir di mal. Pelanggan ingin simpel, ini belanjaannya diantar ke rumah," ujar Djafar, memaparkan perubahan mendasar konsumen era digital.
Di era belanja offline, jelasnya, penjual dan paritelah yang menentukan cara belanja, cara pembayaran dan revenue. Tapi di era online, sebaliknya pelanggan jadi penentu,
“Karena fenomena inilah, Ramayana, menutup belasan tokonya. Pusat belanja IT dan sandang Roxy square , Pasar Glodok sebagai pusat belanja elektronik terbesar di Asean, justru ditinggalkan para tenant dan pelanggannya?”
Saat Djafar menyampaikan ‘declaration speech” sebagai momentum transformasi usaha ke digital, e-commerce, sekitar 900-an tetamu, yang menghadiri seremoni peringatan HUT ke-14 di Grand Ballroom Lt 6 Karebosi Condotel, Jl Jenderal M Jusuf No.1, Kelurahan Gaddong, Kecamatan Makassar, Kota Makassar, menyimak.
Djafar lalu bertanya?
Apakah perubahan dan hilangnya konsumen paritel di Jakarta ini karena era online dan e-commerce belaka?
“Apakah ini pertanda bahwa model bisnis dan toko offline akan punah?”
Belum lagi tetamu merespon, Djafar menjawab sendiri pertanyaannya. “Tidak! Bisnis offline masih dibutuhkan. Pelanggan masih ingin melihat, menyentuh, dan berinteraksi, bercakap-cakap dengan pedagang. Nah, disinilah kami menghadirkan aplikasi Karebosi RitelAku.”
Dia menjelaskan, aplikasi e-commerce berbasis smartphone, Karebosi RITELAku ini, adalah penggabungan model dagang offline dan online sekaligus.
“Pelanggan online bisa memilih barang, menentukan model pembayaran, namun sekaligus bisa menawar barang dengan aplikasi chat yang tersedia di KarebosiRitelAku. Pelanggan berinteraksi dengan pedagang, bisa barangnya diantar ke rumahnya, bisa juga dijemput sendiri dan dipotong biaya ongkir (ongkos kirim).
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/aku1s_20170821_233546.jpg)