Direktur RSUD Sulbar Benarkan Rumah Sakit Kekurangan Obat

Di RSUD Provinsi Sulbar, kata Ade, penyediaan obat dilakukan lewat e-katalog dan ada lewat pelelangan umum.

Direktur RSUD Sulbar Benarkan Rumah Sakit Kekurangan Obat
nurhadi/tribunsulbar.com
Direktur Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Provinsi Sulbar, dr. Andi Munasir 

TRIBUNSULBAR.COM, MAMUJU - Direktur Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Provinsi Sulbar, dr. Andi Munasir, mengungkapkan ada pernyataan sikap mogok kerja para dokter spesialis dan dokter umum yang disebabkan kurangnya ketersediaan obat atau bahan habis pakai (BHP) dikarenakan ketidak anggaran yang tidak cukupi.

Hal itu diungkapkan dr. Ade sapaan akrab Andi Munasir, saat ditemui TribunSulbar.com, diruangan Kerjanya Jl. Marthadinata, Kelurahan Simboro, Kecamatan Simboro, Kabupaten Mamuju, Sulbar, Jumat (6/10/2017).

"Yang dipersoalkan adalah ketersediaan ketersediaan obat, karena untuk saat ini memang hampir semua jenis obat di rumah sakit itu hampir habis utamanya kebutuhan dibagian anastesi, dikarena ketersediaan anggaran," kata dr. Ade.

Di RSUD Provinsi Sulbar, kata Ade, penyediaan obat dilakukan lewat e-katalog dan ada lewat pelelangan umum.

"Kalau e-katalog kita langsung pesan lewat IT yang sudah dilelang melalui LKPP, kita tinggal klik kemudian bisa langsung dikirim ke rumah sakit, cuma kadang-kadang mekanisme itu lambat, sehingga menyebabkan ketersediaan obat di rumah sakit itu terhambat," jelasnya.

Kemudian, lanjut dr. Ade, yang kedua melalui pelelangan umum karena RSUD Sulbar tetap mengikuti Perpres nomor 45, bahwa harus dilelang secara umum, dan itu juga mengalami keterlambatan karena sudah dilelang tapi dibatalkan.

"Karena mendesak makanya saya menyurat ke ispektorat untuk minta petunjuk bagaimana tentang pelelangan, karena waktu sudah mepet sedangkan obat sudah sangat dibuthkan, sehingga ada petunjuk dari ispektorat untuk melakukan penunjukan langsung dan itu sudah kita jalankan," katanya.

Ia menegaskan, issu mogok kerja tersebut tidak akan lebih dari tiga hari karena obat dipastikan akan datang dalam satu hari kedepan.

"Sebenarnya sudah ada yang masuk untuk kebutuhan anastesi atau bahan habis pakai, namun baru sebahagian karena tidak semua yang kita tempati memesan punya obat yang kita butuhkan dan sebenarnya ini persoalan klasik karena ketidak tersediaan anggaran, dan selama ini kita takut melangkah atau melakukan penunjukan langusng tampa payung hukum, nah karena sudah ada petunjuk dari inspektorat makanya kita sudah jalan," jelasnya.

Ia mengatakan, persoalan dirinya diminta untuk mundur dari jabatan Direktur Rumah sakit baginya bukanlah persoalan atau sebuah masalah.

"Kalau saya mau diminta mundur, saya kira ini bukan masalah, karena saya cuma menerima amanah pelaksana tugas dan saya sudah berbuat yang terbaik rumah sakit, dan jawaban yang terbaik adalah saya mengusulkan pembuatan Badan Layanan Umum (BLU) supaya nantinya kita mengalami kekurangan obat dapat melakukan belanja sendiri dan itu sudah saya mulai digarap, tinggal penetapan SK dari Gubernur," tuturnya.

Penulis: Nurhadi
Editor: Imam Wahyudi
Sumber: Tribun Timur
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved