4 Pria Bugis Makassar yang Pilih Nikahi Bule di Tengah ‘Gilanya’ Uang Panaik, No 3 Diundang TV
Dalam catatan Tribun Timur.com dalam kurung 8 bukan terakhir setidaknya ada 7 pernikahan warga Sulsel dengan warga Asing
TRIBUN-TIMUR.COM - Bagi masyarakat adat bugis makassar menikahi warga negara asing bukanlah hal lumrah.
Jadi tidak heran jika ada orang keturunan Bugis Makassar yang menikahi warga asing akan jadi perbincangan.
Namun rupanya hal itu tak lagi berlaku beberapa tahun belakangan ini.
Tentu saja tak bisa dibantah pertemuan mereka karena jodoh.
Namun di luar itu bisa jadi faktor keberadaan uang panaik juga disebut-sebut sejumlah pengguna media sosial.
Uang panaik adalah sejumlah uang yang harus disetorkan pihak mempelai pria kepada wanita Bugis Makassar yang dinikahinya.
Jumlah bervariasi dari puluhan juta hingga ratusan juta.
"kode itu eh buat cewe2 jgn mko tale2kang bnyk uang panaikna,' tulis akun facebook Muhammad Ridwan Hidayat.
Facebookers atas nama Bang Syam menulis status, "PERNIKAHAN ORG BUGIS BONE & WANITA JERMAN... Kalau mahal uang panaik di dalam negeri, carikki produk luar negeri saja."
Dalam catatan Tribun Timur.com dalam kurung 8 bukan terakhir setidaknya ada 7 pernikahan warga Sulsel dengan warga Asing baik dari sesama negara Asia, maupun dari benua Eropa atau Amerika.
Ada 4 pria Bugis Makassar dan 3 Wanita asal Sulsel yang membina rumah tangga dengan warga asing.
Siap saja mereka? Ini daftarnya;
1. Sumardin
Pada 18 januari 2017 lalu, warga Masamba, Luwu Utara heboh membincangkan pernikahan Sumardin (29) dengan Ermina Fransica (35), wanita Wurzbug, Jerman.

Akad nikah keduanya berlangsung secara sederhana di Kantor Urusan Agama (KUA) Masamba.
Sebelum memutuskan menikah, Ermina terlebih dulu memeluk agama Islam, mengikuti agama Sumardin.
"Pada bulan sembilan (September), kami mengurus berbagai persyaratan untuk bisa menikah," katanya.
Saat akad nikah, Sumardin mengenakan kopiah, sementara Ermina mengenakan kerudung.
Kepala KUA Masamba, Hatta Yasin, membenarkan pernikahan keduanya.
2. Muh Syahrisal Mansyur
14 Mei 2017 – Muh Syahrisal Mansyur (32), warga Desa Bojo, Kecamatan Mallusetasi, Kabupaten Barru sontak menjadi perbincangan.
Hal ini karena Rijal sapaan akrabnya mempersunting bule asal Swedia, Sofia Yvonne Tedestam (36).

Menurut paman Rijal, Abdilla, keponakannya tersebut memang pacaran dengan bule yang masih memegang kewarganegaraan Swedia ini.
"Mereka pacaran setahun dan sudah tiga kali ke Barru sebelum memutuskan menikah," ungkapnya.
Hal lain yang bikin baper, gadis Swedia ini mengikuti kepercayaan suaminya.
Ia pun mantap dan resmi menjadi Mualaf pada April 2017 lalu.
"April Sofia muallaf, " Abdillah.
3. Ijal Ricardo
7/8/ 2017, - Pemuda Tamangapa, Makassar Rizal Hamid (Ijal Ricardo) menikahi Julie Martha (Prancis).
Meski keduanya berkebangsaan beda, namun mereka memutuskan untuk hidup bersama dalam ikatan pernikahan.
"Saya suka sama Julie, dia pun begitu. Karena suka sama suka, akhirnya kami memutuskan untuk bersatu," kata Ijal Ricardo warga Tamangapa, Kecamatan Manggala Kota Makassar yang saat ini lagi heboh di Media Sosial (Facebook), karena menikah dengan kekasihnya yang berasal dari Kota Paris, Perancis, Senin (7/8/2017).

Pertemuan mereka berawal saat Ijal mengisi konser di Padang, Sumatera Barat.
Ijal yang merupakan seorang gitaris, tidak sengaja di perkenalkan dengan Julie melalui istri dari rekan se-Bandnya Redo Malano usai manggung di Padang.
Istri Redo bernama Marine, warga negara Perancis yang mengajar di Universitas Hasanuddin, sebaga dosen "terbang" Bahasa Perancis waktu itu.
Ijal dan Redo sendiri adalah musisi yang lebih banyak menghabisikan aktivitas di ibukota Jakarta, sesekali mereka ke kota-kota besar di Indonesia jika ada undangan atau event yang membutuhkan band yang bergenre rock.
Ijal yang di identitasnya bernama Rizal Hamid itu adalah pemuda rantau. Sejak 2001 ia memilih hijrah dan meninggalkan Kota Makassar, Sulsel.

Pasca heboh di media sosial, pasangan suami istri dilirik oleh sejumlah media nasional, salah satunya di Trans 7.
Mereka kemudian diundang mengisi konten Hitam Putih yang dibawakan oleh artis dan juga magician Deddy Cobuzier.
4. Afrizal Rahmat
7/9/2017 - Afrizal Rahmat (23), pria Bone menikahi Kathleen Mijo Kovarbasic (23), warga Jerman.

Pesta pernikahan keduanya menggunakan adat Bugis berlangsung di kediaman mempelai pria.
Tapatnya di BTN Macanang Indah Permai, eks BTN Harvana Halim Indah, Jl Dr Wahidin Sudirohusodo, Kota Watampone, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, Kamis (7/9/2017) siang.
Penikahan ini disaksikan langsung keluarga mempelai pria, sementara orangtua dan keluarga Katy, sapaan Kathleen tidak sempat datang dari Jerman.
Afrizal merupakan putra pasangan Ahmad Seng, staf Pascasarjana STAIN Watampone dan Ratna, staf Kantor Urusan Agama Kecamatan Palakka, Bone.
Bagaimana kisah cinta kedua yang beda suku bangsa itu bermula?
Ahmad Seng menuturkan, keduanya berkenalan di Pulau Dewata, Bali beberapa waktu lalu.
Usai kenalan, kemudian pacaran hingga mantap naik ke pelaminan.
Maharnya, tidak muluk-muluk.
Hanya cincin dan gelang emas, serta seperangkat alat salat.
"Maharnya yakni satu cincin seberat 2 gram dan gelang 5 gram dan seperangkat alat salat," kata Seng kepada TribunBone.com di sela-sela acara pernikahan anaknya.
Kathleen Mijo kovarbasic mengikuti agama suaminya.
'Gilanya' Uang Panaik Gadis Sulsel
Nilai mahar atau "uang panaik" yang femiliar bagi warga Sulsel, heboh Mei lalu.
Pernikahaan Anjas Malik-Kurnia Amaliah Hambali di Jl Pahlawan, Kecamatan Binamu, Kabupaten Jeneponto, dilangsungkan dengan uang panaik fantastis.

Uang panaik untuk Kurnia yang akrab disapa Ino satu miliar rupiah, ada lagi plusnya yang mencengangkan.
Yaitu emas pernik berlian, selanjutnya, satu rumah mewah kelas Jeneponto, seunit mobil mewah Toyota Alphard, dan tanah kering satu hektar.
Lain kisah tarik ulur mahar di Kabupaten Wajo yang justru berujung maut. Ingat berita kematian Sulfiani alias Cuppi?
Sabtu (4/3/2017), gadis di Kecamatan Belawa, Wajo, itu nekat mengakhiri hidupnya (teguk racun) karena tawar-menawar mahar luar jangkauan.
Kesaksian kakak Sulfiani, Senni (27), kekasih almarhumah, Tahir, sudah meminang Sulfiani.

Tahir menawarkan 'uang panaik Rp 7 juta.
Uang panaik itu ditolak mentah-mentah keluarga Cuppi.
Alasan utama keluarga perempuan: harga sapi saja tidak cukup.
Senni saja, dinikahi dengan uang panaik Rp 25 juta, itu angka mahar lima tahun sebelumnya.
"Saya kan menikah 2013, uang panaiknya Rp 25 juta, ya kalau tidak bisa di atasnya, paling tidak, setaralah," cerita Senni kepada TribunWajo.com, Senin (6/3/2017).