Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Jangan Khawatir! Saksi Kunci Korupsi e-KTP Tewas di Amerika, Tapi KPK Sudah Dapat Ini

Dikonfirmasi apakah benar kematian Johannes Marlien ka rena bunuh diri? Febri menjawab soal kronologis peristiwa pihaknya belum mengetahui secara rinc

Editor: Mansur AM
(KOMPAS.com/ABBA GABRILLIN)
Wakil Ketua KPK Laode Muhammad Syarif dan Juru Bicara KPK Febri Diansyah saat menggelar konferensi pers di Gedung KPK, Jakarta, Rabu (2/8/2017). 

TRIBUN-TIMUR.COM - Juru Bicara Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Febri Diansyah membenarkan meninggalnya saksi kunci korupsi e-KTP, Johannes Marliem di Amerika Serikat (AS).

"Saya dapat informasi bahwa benar yang bersangkutan, Johannes Marlien sudah meninggal dunia," ucap Febri, Jumat (11/8/2017) di KPK, Kuningan, Jakarta Selatan.

Dikonfirmasi apakah benar kematian Johannes Marlien ka rena bunuh diri? Febri menjawab soal kronologis peristiwa pihaknya belum mengetahui secara rinci.

"Info soal meninggal dunia penyebabnya apa kami belum dapat info rinci. Kematian yang bersangkutan itu domain dari aparat penegak hukum di sana," kata Febri.

Diketahui Johannes Marliem merupakan provider produk automated fingerprint identification system (AFIS) merk L-1 yang akan digunakan dalam proyek e-KTP.

Dia juga disebut sebagai saksi kunci dalam kasus mega korupsi e-KTP.

Baca: Duh, Baru Diketahui! Ternyata Polantas Yang Dipukul Itu Pemain Ganteng-Ganteng Serigala

Baca: Akhirnya Terungkap! Model Hot Ini Kecewa, Wali Kota Terpilih Kendari Cuma Janji Mau Begini

Terkait kasus ini, penyidik KPK juga sempat pergi ke Amerika Serikat untuk memeriksan Johannes Marliem. KPK telah memperoleh bukti-bukti penting atas kasus korupsi e-KTP.

"Untuk penanganan perkara e-KTP kami punya bukti kuat, penyidikan e-KTP untuk dua tersangka SN (Setya Novanto) dan MN (Markus Nari) tetap jalan," tegas Juru Bicara KPK, Febri Diansyah, kepada reporter tribunnews.com.

Rumor Meninggal Ditembak

Saksi kunci kasus KTP elektronik (e-KTP) Johannes Marliem dikabarkan tewas tertembak pada Kamis (10/8/2017) kemarin.

Johannes Marliem
Johannes Marliem (Kontan)

Sekadar informasi, Johannes merupakan provider produk automated fingerprint indentification system (AFIS) merek L-1 dari PT Biormorf Lone yang akan digunakan dalam proyek e-KTP.
Dalam rumor yang beredar, Johannes tewas bunuh diri di sebuah rumah yang dia sewa di perumahan elit Los Angeles seharga US$ 25.000 per bulan.

"Katanya ada suara tembakan beberapa kali dan diberitakan bunuh diri. Dia terkait dengan kasus e-KTP," demikian bunyi pesan singkat yang beredar.

Sementara itu, berdasarkan informasi yang diterima KONTAN, kasus kematian Johannes Marliem juga tengah heboh diberitakan di media Los Angeles.

"Saya tidak tahu bagaimana menceritakannya tanpa terdengar gila, tapi dalam 24 jam terakhir, ada dua kasus kematian yang menegangkan di perumahan mewah Los Angeles (West Hollywood/Pacific Palisades)," demikian informasi yang Kontan dapatkan dari boards.4chan.org.

Diceritakan, kejadian pertama terjadi di rumah besar yang dimiliki Tamme McCauley, putri Melvin dan Bren Simon, dari Simon Property Group.

Kedua terjadi di rumah besar yang terdaftar atas nama Johannes Marliem, seorang pria yang mendonasikan uang kepada Partai Demokrat AS dengan jumlah yang sangat besar.
Padahal, dia bukan warga AS dan tidak ada yang tahu siapa dirinya.

Menurut pihak kepolisian, kedua pria tersebut melakukan aksi bunuh diri, meskipun dilaporkan terdengar suara tembakan berkali-kali.

Berdasarkan laporan media lokal, mereka belum berhasil mengidentifikasi siapa korbannya.
Kendati demikian, menurut sumber KONTAN yang enggan diberitakan namanya, Johannes memang positif melakukan aksi bunuh diri. "Benar, kemarin," katanya.

Punya Rekaman Setya Novanto

Pengusaha Johanes Marliem sebelumnya disebut-sebut mengaku punya rekaman sebagai bukti keterlibatan Ketua DPR RI Setya Novanto di proyek e-KTP.

Bahkan rekaman percakapan itu mencapai ukuran 500 gigabyte. Wakil Ketua Komisi III Mulfachri Harahap menilai Johanes Marliem tidak punya wewenang untuk menyadap percakapan Novanto.

Karena itu Mulfachri peringatkan aparat penegak hukum dalam memproses bukti suara tersebut.
"Butuh proses yang panjang validasi dan seterusnya paling tidak untuk proses awal. Dia tidak punya kewenangan apa yang ada di dia sekarang," ujar Mulfachri Harahap di gedung DPR/MPR RI, Jakarta, Kamis (20/7/2017) lalu.

Mulfachri meminta aparat hukum juga berhati-hati terhadap informasi yang diberikan dari Johanes Marliem.

Hal ini mengingat keterlibatan Johanes juga sebagai peserta vendor e-KTP.

"Kita tidak bisa menelan mentah-mentah apa yang disampaikan Johanes Marlin. Kita tahu Johanes Marlin yang juga ikut berpartisipasi dalam vendor dan dia kalah," ungkap Mulfachri
Politisi PAN ini juga mengimbau agar KPK yang rencananya akan menyambangi Johanes Marliem ke Amerika Serikat agar waspada.

Karena Johanes tidak punya kepentingan menyimpan bukti rekaman tersebut.
"Paling tidak aparat berkepentingan apa yang dimiliki Johanes Marlin mengambil hati-hati dalam hasil rekaman itu," kata Mulfachri.(*)

Sumber: Tribunnews.com
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved