Petani Cengkeh Bulukumba Menjerit, Ini Sebabnya

Penyebabnya karena cuaca ekstrem melanda Bulukumba beberapa bulan terakhir

Petani Cengkeh Bulukumba Menjerit, Ini Sebabnya
Samsul Bahri/Tribun Timur
Perkebunan Cengkih warga di Asayya, Kecamatan Kindang Bulukumba 

Laporan Wartawan Tribun Timur, Syamsul Bahri

TRIBUN-TIMUR.COM, BULUKUMBA-- Sejumlah petani di Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan menjerit.

Ini lantaran produksi cengkihnya menurun.

Penyebabnya karena cuaca ekstrem melanda Bulukumba beberapa bulan terakhir.

" Tahun ini tidak produktif karena cuaca ekstrem melanda Bulukumba," kata salah seorang petani cengkih di Kecamatan Kindang bernama Nino, Selasa (25/7/2017).

Dijelaskan umumnya petani cengkeh di Kecamatan Kindang, Bulukumpa dan Rilau Ale, pohon cengkihnya yang subur. Tiap tahun bisa produksi puluhan ton.

Namun berbeda dengan tahun ini. Cengkeh petani tidak produktif,

Petani pun berali ke tanaman padi.

Pantauan TribunBulukumba.com bahwa tak hanya di Kabupaten Bulukumba yang mengalami nasib demikian akan tetapi juga petani cengkih Sinjai dan Bantaeng.

Saat ini harga cengkih untuk basah mulai dari Rp 33.700 per kilogram,Rp 34 ribu per kilogram, dan Rp 34.200 per kilogram.

Sekedar informasi komoditi paling besar di Kabupaten Bulukumba adalah buah cengkih, kopi dan karet. (*)

Penulis: Samsul Bahri
Editor: Ardy Muchlis
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved