CITIZEN REPORTER
Belajar Edukasi Bencana Gempa dari Jepang
posisi Jepang secara geografi terletak di sepanjang cincin api Pasifik yang merupakan sabuk gempa paling aktif di dunia
Penulis: CitizenReporter | Editor: Suryana Anas
Citizen Reporter, Vita Fajriani Ridwan, (Dosen PNUP - Mahasiswi Program Doktor Ehime University Jepang) Melaporkan dari Matsuyama Jepang
TRIBUN-TIMUR.COM -Jika ada yang bertanya mengapa Jepang dikenal rawan bencana dari mulai gempa bumi hingga tsunami.
Hal ini terjadi karena posisi Jepang secara geografi terletak di sepanjang cincin api Pasifik yang merupakan sabuk gempa paling aktif di dunia, dan juga karena pertemuan lempeng geologi.
Baca: Inilah Daftar Nama Korban Gempa Bumi di Poso
Kondisi geografi jepang ini, sebenarnya tidak jauh berbeda dengan kondisi geografi Indoneisa yang termasuk dalam lingkungan cincin api (ring of fire).
Secara geologis Indonesia berada pada pertemuan lempeng Indo-Australia dibagian selatan, lempeng Euro-Asia dibagian utara dan lempeng pasifik dibagian timur.
Baca: Foto-foto Bangunan Roboh dan Barang Berhamburan Akibat Gempa Guncang Kabupaten Poso
Pertemuan lempeng ini memanjang dari Pulau Sumatera – Jawa – Nusa Tenggara dan Sulawesi.
Berdasarkan data Badan Meteorologi Klimatologi Geofisika (BMKG) Wilayah IV Makassar, wilayah Sulawesi Selatan memiliki resiko tinggi terhadap bencana alam termasuk gempa.
Tingginya resiko gempa tersebut semestinya menjadi warning bagi warga Sulawesi Selatan agar tetap waspada.
Besarnya potensi gempa karena dilintasi oleh dua patahan, yakni Palu Koro dan Saddang. Patahan Palu Koro, melintas dari Sulawesi Utara melalui Sulawesi Tengah ke arah Sulawesi Tenggara.
Adapun patahan Saddang melintas di Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan bagian tengah, sampai Kepulauan Selayar.
Beruntunnya kejadian gempa yang melanda di wilayah Sulawesi termasuk daerah Sulawesi Selatan dalam kurun waktu terakhir ini tentu haruslah disikapi dengan sigap baik oleh pemerintah dan unsur terkait, dan tidak terkecuali masyarakat itu sendiri.
Belajar dari negara Jepang, bencana bukanlah hal baru bagi mereka. Pemerintah Jepang sedari dulu telah mengembangkan system disaster management.
Sistem ini secara umum berupa penerapan prinsip preventif (mitigasi) dan kuratif (recovery).
Untuk prinsip preventif dilakukan mulai dari konsep edukasi berupa pelatihan bencana ke sekolah-sekolah (Latihan Menghadapi Bencana Alam (Jishin Hina Kunren), pengadaan shelter (shelter biasanya berupa lapangan yang terletak di setiap blok dan dilengkapi dengan fasilitas air minum, dan biasanya terletak di area sekolah atau universitas), hingga pengembangan sistem peringatan dini bencana alam (disaster-early warning system).
Dan konsep edukasi berupa pelatihan/simulasi ini dapat penulis saksikan langsung di Sekolah Dasar Yuzuki di Kota Matsuyama Prefektur Ehime, pada saat kegiatan Sankanbi (kunjungan rutin orangtua siswa ke sekolah setiap bulan) pada hari Minggu, 18 Juni 2017, yang bertepatan dengan pelatihan bencana kepada siswa di sekolah ini.
Simulasi ini terdiri dari dua tahapan, yaitu simulasi saat terjadi gempa di dalam ruangan, dimana para siswa diarahkan berlindung di bawah meja dan menutupi kepala mereka dengan kedua tangan.
Langkah selanjutnya adalah simulasi evakuasi di shelter terdekat (kebetulan shelter terdekat adalah di lapangan sekolah itu sendiri).
Kegiatan ini dilakukan oleh seluruh siswa dari SD Yuzuki dari kelas 1-6 secara tertib dan rapi, dari tahap awal hingga tahap evakuasi dengan didampingi guru dan professional.
Di akhir dan di awal latihan anak-anak pun ditegaskan dan dingatkan untuk tetap tenang dan tidak panik.(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/jge1_20170621_143614.jpg)