Terkait Penamaan Underpass Simpang Sayang, Ini Kata Akademisi
Hal ini pun menjadi perhatian sejumlah pihak, atas penetapan nama proyek itu sebagai Simpang Sayang.
Penulis: Saldy Irawan | Editor: Ardy Muchlis
Laporan wartawan Tribun Timur, Saldy
TRIBUN-TIMUR.COM,MAKASSAR - Underpass atau jalan terowongan yang ada di simpang lima Bandara Internasional Hasanuddin akhirnya dinikmati masyarakat Provinsi Sulawesi Selatan.
Proyek seharga Rp 169 miliar, dari Kementrian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) diresmikan Gubernur Sulsel Syahrul YL, Minggu (18/6).
Pada peresmian itu juga diperkenalkan nama jalan terwongan tersebut yakni Underpass Simpang Sayang.
Hal ini pun menjadi perhatian sejumlah pihak, atas penetapan nama proyek itu sebagai Simpang Sayang.
Sayang identik dengan tagline pasangan Syahrul-Agus AN.
Pengamat publik yang juga dosen komunikasi Universitas Hasanuddin Adi Suryadi Culla mengatakan penamaan sebuah proyek yang diambil dari nama tagline itu adalah strategi politik dari kepala daerah. Dan hal itu wajar.
Bagaimana tidak, setiap proyek yang ada di daerah tidak lepas dari peran pemerintah daerah, meski pun itu menggunakan anggaran pemerintah pusat.
"Tidak ada program jika tak ada usulan daerah. Itu intinya ! Saya rasa apapun namanya itu tak masalah yang penting ada bukti nyata bahwa didaerah ini telah ada pembangunan," katanya.
Lanjut Adi, pembangunan yang berlangsung di daerah adalah bagian dari wujud visi misi pemerintah.
Sementara itu, penyelenggara proyek ini, melalui Kepala Satker Jalan Metropoiltan Amin Hamid mengatakan bahwa penamaan proyek ini tidak perlu dipersoalkan.
Pihaknya pun masih menyebut proyek itu sebagai Underpass Mandai.
"Kami hanya bekerja, yang jelas pembangunan ini bisa dinikmati seluruh masyarakat," katanya.
Diketahui sejumlah proyek pemerintah di Sulsel pun dinamai sayang, seperti taman terbuka hijau di Jl Pettarani tepat di Kantor Dinas Bina Marga Sulsel.