Wawancara Khusus Zakir Naik
Saya Ini Muslim Sejati, Bukan Sunni Bukan Syiah
Islam adalah agama yang paling toleran sejauh mempromosikan nilai-nilai kemanusiaan, mengajarkan kedamaian.” ujarnya
Penulis: Thamzil Thahir | Editor: Anita Kusuma Wardana
Tapi, di luar panggung ceramah atau debat ‘ideologis” Naik sesungguhnya adalah pribadi yang sejuk dan selalu tersenyum. Dia selalu menatap lawan bicara dengan teduh dan penuh perhatian.
Naik bahkan tak jarang memiringkan bahu dan mendekatkan telinga untuk mendengarkan pertanyaan lawan bicara.
Saat berbincang tertutup dengan Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) Tuan Guru Bajang di Kupang, Rabu (12/4/2017) lalu, Naik banyak bercerita tentang makanan sehat, dan turisme Islami sebagai strategi memakmurkan dan memberdayakan ekonomi kerakyatan.
Predikat World Halal Tourism Award (WHTA) 2015 dan 2016 yang diraih NTB, juga jadi obyek pujian dokter ahli bedah asal Mumbai ini. ”Dia teman bicara yang bagus,” ujar TGB.
Di sela-sela sarapan, dia meladeni khusus pertanyaan Tribun Timur, tentang kiprah internasionalnya, pandangannya tentang Islam dan Muslim Indonesia, suka-duka pengalamannya berdakwah di Asia, Eropa, Amerika dan Arab tentang rencana dakwah strategisnya di Nusantara, hingga jenis ideologi Islam yang dia anut.
“Di India, ada warga yang percaya Prabu, (salah satu Tuhan agama Hindu) dan jadi muallaf, justru direkayasa seakan-akan jadi pembunuh.” ujarnya.
Kepada Tribun, dia bercerita beberapa suka dukanya ceramah yang dicekal di Inggris, Australia, Kanada, dan negara persemakmuran (common wealth) Inggris.
“Di India, ada orang Muslim yang mengaku murtad jika harus bayar untuk ikut ceramah saya. Eh, justru dia dipukuli hadirin, karena ketahuan berbohong,” ujarnya.
Zakir naik mengaku heran, jika masih ada umat Islam yang tidak yakin dengan superioritas agamanya sendiri.
"Islam juga dicap sebagai tidak toleran, dan memang, tapi terhadap korupsi, diskriminasi, ketidakadilan, perzinahan, alkoholisme, dan semua kejahatan. Kita tak pernah toleran dengan perbuatan yang merusak kemanusiaan. Islam adalah agama yang paling toleran sejauh mempromosikan nilai-nilai kemanusiaan, mengajarkan kedamaian.” ujarnya dengan nada meyakinkan.
Menjawab klaim sesama Muslim, bahwa ceramahnya tidak menyejukkan dan menghasut penganut agama lain untuk masuk Islam, dengan membandingkannya dengan kitab suci mereka, Naik mengaku itu hanya klaim dan penyematan orang lain kepada dirinya, sebagai Wahhabi dan Salafi.
"Saya perlu tegaskan, saya ini sejak lahir hingga mati., Saya muslim sejati. Saya bukan Sunni ataupun Shia,"tegasnya.
Kiprahnya mengajarkan Islam berdasarkan Alquran dan Hadis semata, tanpa merujuk pendapat ulama-ulama sesudah zaman Nabi, inilah yang membuatnya dapat penghargaan dari Raja Faisal. Penghargaan itu adalah International Prize for Service to Islam, tahun 2015 lalu.
Dia juga menjawab dan berdiskusi perihal prinsip politik ‘Rahmatan li alamin” dengan Ketua DPW PPP DKI Jakarta Abraham Lunggana alias Haji Lulung.
Haji Lulung, anggota DPRD Jakarta, datang diundang khusus empunya rumah, Aksa Mahmud. Pengurus Masjid Besar Sunda Kelapa, juga ikut sarapan dan berfoto dengan Naik.
“Islam itu agama Rahmatan Lil Alamin. Pemimpinya harus paham tentang alam, dan dirahmati Allah,” katanya. (Thamzil Thahir)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/zakir-naik_20170417_133049.jpg)