Wawancara Khusus Zakir Naik
Saya Ini Muslim Sejati, Bukan Sunni Bukan Syiah
Islam adalah agama yang paling toleran sejauh mempromosikan nilai-nilai kemanusiaan, mengajarkan kedamaian.” ujarnya
Penulis: Thamzil Thahir | Editor: Anita Kusuma Wardana
TRIBUN-TIMUR.COM-“SAYA rindu ikan, di kampung saya, (Mumbai) ikan banyak, seperti di Indonesia,” ujar Dr Zakir Abdul Karim Naik (51), muballig dunia kelahiran India, merespon pemberian piring dan sendok dari Aksa Mahmud, tuan rumah ‘acara’ sarapan pagi di Jl Pandeglang, Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (15/4/2017).
Namun, mimik muka Naik berubah ketika hidangan di meja tak terlihat ikan utuh. Menu hidangan tuan rumah, hanya nasi kibuli khas Arab, Nasi Mandii’, kari kambing khas India, serta menu Barobbo, bubur jagung kuah ikan ala Bugis.
Selain aneka buah segar, hidangan penutup ada aneka roti saus, dan barongko’, panganan berbahan pisang matang.
Sesendok Barobbo pun jadi pilihan Naik.
Barobbo itu bubur jagung bersayur segar khas Bone, kampung kelahiran Ramlah Kalla, istri Aksa Mahmud. Sesendok nasi mandi juga dia pindahkan ke piring dari si empunya rumah.
Zakir memang tak makan banyak. “Usai ceramah subuh, dokter Zakir sarapan,” ujar Dr Al Buchori Abdul Wahid, pria yang terus jadi pendamping Zakir Naik, sejak di Indonesia, 3 April lalu.
Zakir menyebut, Buchari adalah perwakilan Islamic Research Foundation (IRF), yayasan kajian agama Islam yang didirikan Zakir Naik di kampung halamananya, 1991 lalu, sekaligus penghubung dan penerjemah Naik selama hampir dua pekan di Indonesia.
Naik laik rindu lauk ikan. Sudah hampir setahun lebih, dia tak pulan kampung. Selama terjerat “teror hukum berbau politik” di kampung halamannya, sejak 2012, dia diangkat jadi dosen di empat perguruan tinggi ternama di Negeri Jiran.
Dia, istri Farhat Naik dan dua anaknya kini menetap di Johor Bahru. Dia mengajar di Universiti Teknologi MARA, Shah Alam, dan jadi dosen lepas di Kuantan serta Putra World Trade Centre, Kuala Lumpur.
Malaysia kini ‘jadi kampung halaman keduanya. Di negeri berpenduduk 86% Muslim inilah jadi tempat dia mengontrol jejaring dakwahnya di seluruh dunia.
Gejolak politik di Mumbai, Provinsi Maharashtra, India serta kiprah dakwahnya yang dianggap menggangu harmoni kehidupan beragama di India, membuatnya ‘dilarang’ pulang kampung halaman.
Dua saudaranya yang memilih menetap di Mumbai, adik wanitanya; Nailah Noorani dan saudara lelakinya, Mohammad Abdul Karim Naik, terus dipantau otoritas politik India. Rumahnya di distrik Mazagaon, Mumbai, juga dalam pengawasan ketat.
Bahkan harta Naik di luar negeri, properti usaha dan jaringan TV-nya di luar India, dalam pemantauan. Bahkan kantor Islamic Research Foundation (IRF), semacam pusat kajian Islam yang didirikan Naik di pusat pemukiman Muslim Mumbai, Bhendi Bazaar, Bhuleshwar, hingga kini masih dibawah pengawasan otoritas polisi sipil dan hukum India.
Berita kasus yang menjerat Naik senantiasa diblow-Up jaringan media nasional India berbasis Hindu
Saat masih dalam lawatan dua pekan di Indonesia, situs berita http://www.hindustantimes.com/ meberitakan bagaimana otoritas hukum masih memeriksa orang kepercayaan dan mengaudit harta kekayaan Naik di Mumbai, Aamir Gazdar.
Oleh tokoh politik di India, dan media barat, Naik dianggap televangelist; muballigh yang senantiasa “membandingkan” keunggulan ajaran agama Islam dengan agama lain.
Jaringan TV dan video debat antar-keyakinan, serta ceramah trilogi tema ceramahnya; "Islam and Modern Science", "Islam and Christianity", dan "Islam and secularism", direproduksi ulang dan disebar ‘pengagum mudanya” di seluruh dunia, termasuk Indonesia.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/zakir-naik_20170417_133049.jpg)