CITIZEN REPORTER
Menelusuri Jejak Sejarah Islam di Swiss dan Italia
Pada awal abad ke-11, umat Muslim menjadi setengah populasi Sicilia dengan bangsa Arab mendominasi utara pulau di sekitar Palermo.
Penulis: CitizenReporter | Editor: Anita Kusuma Wardana
Hj Meity Rahmatia
CEO Meida Wisata
Melaporkan dari Eropa
TRIBUN-TIMUR.COM-Milan salah satu kota yang menjadi destinasi Meid Wisata. Kami bermalam di Idea Hotel pusat kota, Selasa (24/3/2017).
Milan adalah kota utama di sebelah utara Italia yang terletak di hamparan Lombardia, wilayah paling maju di Italia. Milan mempunyai sekitar 1,3 juta penduduk. Jika dimasukkan wilayah sekitarnya angka ini meningkat menjadi melebihi 4,5 juta.
Milan adalah ibu kota wilayah Lombardia dan pusat ekonomi dan keuangan Italia. Kota ini terkenal akan perusahaan adibusana dan Galleria Vittorio Emanuele di Piazza Duomo.
Milan salah satu pusat ekonomi dan keuangan, pusat belanja tertua serta ibu kota adibusana dunia, seperti New York atau Paris. Milan juga terkenal dengan sepak bolanya, yaitu Inter Milan dan AC Milan.
Sepanjang jalan dilewati pada city tour di Mian, sering bertemu umat Islam dan perempuan berjilbab. Dalam sejarah, Islam masuk di Italia sejak abad ke 8 di bawah pemerintahan Dinasti Aglabiah dan menjadikan Palermo sebagai ibu kota Arab di pulau itu.
Pada awal abad ke-11, umat Muslim menjadi setengah populasi Sicilia dengan bangsa Arab mendominasi utara pulau di sekitar Palermo.
Perkembangan Islam dalam sejarah Italia mengalami pasang surut. Namun, di akhir abad ke-20 Islam mengalami perkembangan pesat. Pada tahun 2005 jumlah Muslim di Italia diperkirakan antara 960.000 hingga 1.030.000,. Membuat media Italia mulai memberi perhatian pada populasi Muslim.
Keberadaan Muslim saat ini 1,4 persen dari populasi Italia sekaligus menjsdi agama kedua setelah agama Katolik. Hanya dalam beberapa tahun saja jumlah pemeluk Islam di Italia meningkat.
Sebagian besar dari mereka adalah imigran dari Afrika utara, Albania, Bosnia, Turki, Arab dan dari negara Islam lainnya. Kebanyakan tinggal di pulau Sicilia, Roma, Milan, Turin dan kota-kota besar lainnya.
Bahkan Gelombang imigran muslim pun terus bertambah dan mereka berbaur dengan masyarakat setempat. Masjid bertumbuh seirama bertambahnya populasi Muslim.
Organisasi Islam bermunculan dengan sekolahnya, dan toko makanan halal mulai banyak berdiri. Jumlah Masjid bertambah dari 16 menjadi 400 buah lebih hanya dalam jangka waktu 16 tahun.
Syiar Islam pun menyebar pesat. Bahkan berdiri masjid yang megah, Masjid Agung Roma, atau yang biasa disebut “Grande Moschea Masjid”.
Masjid Agung Roma menjadi simbol toleransi keberagamaan di Italia. Letaknya di Basilica, Santo Paulus Roma, persis bersebelahan dengan Vatikan dan Sinagog Yahudi.
Berdiri di atas lahan seluas 30 ribu meter persegi, masjid yang menjadi kebanggaan umat Islam Italia mampu menampung sekitar 40.000 jama’ah. Lebih mengangumkan lagi, masjid ini merupakan masjid terbesar di daratan Eropa.
Keberadaan masjid di tengah kota Roma itu tak terlepas dari jasa almarhum Raja Faisal bin Abdul Aziz Al-Saud, pemimpin Arab Saudi, yang meminta kepada Presiden Giovanni Leone, presiden Republik Italia ke-6 sejak tahun 1971-1978, untuk membangun masjid bagi umat Islam Roma.
Masjid Agung Roma disebut sebagai masjid terindah di Eropa. Dari kawasan Lembah Tiber, masjid itu tampak menjulang tinggi menyaingi Montenne Mountain, sebuah bukit yang sangat subur di utara kota Roma.
Paolo Portoghesi, arsitek Italia yang masyhur, dipercaya mendesain masjid ini setelah menyisihkan 40 arsitek lainnya, bersama arsitek Avio Mattiozzi pada tahun 1975. Portoghesi juga dosen sejarah arsitek di Universitas Roma.
Sangat mengejutkan karena ternyata Islam dapat tumbuh dengan pesat di negeri pusat Katolik. Dan sekarang Islam adalah agama terbesar kedua di Italia.
Keberadaan Masjid Agung Roma menandai bahwa kita telah memasuki sebuah abad baru, era saling menghargai antara semua pemeluk agama dan meninggalkan abad pertengahan sebagai abad saling curiga dan permusuhan. Selamat memasuki era baru, abad perdamaian dunia dan kesejahteran untuk semua.
Kami meninggalkan kota Milan setelah mengelilingi sebuah Castle atau benteng Kuno. Benteng yang dibangun untuk pertahanan dari musuh. Kami pun mengunjungi lapangan sepak bola Inter Milan dan AC Milan.
Dari sini Kami menuju kota tujuan lain di Eropa, yaitu kota Luzern Swiss. Sepanjang jalan memasuki negara Swiss, kami melewati banyak terowongan dan jembatan panjang.
Menurut Yasin, pemandu dalam perjalanan, bahwa terowongan yang kami lewati adalah terpanjang di Eropa, yaitu 17 km.
Perjalanan ke Swiss beda ketika perjalanan dari kota Nice Prancis ke Milan jalanan berada di antara pegunungan dengan pantai terjal yang jurang, tetapi sepanjang jalan memasuki negeri Swiss kami berada di antara pegunungan yang tinggi dan puncaknya dipenuhi salju.
Keindahan salju nampak ketiga diterpa matahari sore. Di celah gunung terlihat banyak air terjun.
Selain itu kami menemukan danau tenang yang luas. Kota Luzern Swiss yang kami tuju terletak dipanggil danau. Sayangnya, karena sudah kecapean dalam perjalanan sehingga tak sempat lagi keluar menyaksikan indahnya panorama danau di malam hari. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/jelajah-islam-di-eropa_20170324_165841.jpg)