Mengenal Kerajaan Taeng, yang Jaya di Masa Raja Gowa
Prosesi pencucian benda pusaka yakni lima jenis benda utama antara lain Sudanga kembar ri Taeng serta keris dan benda pusaka lainnya hanya boleh dilak
Penulis: Waode Nurmin | Editor: Ina Maharani
Laporan Wartawan Tribun Timur Wa Ode Nurmin
TRIBUN-TIMUR.COM, SUNGGUMINASA- Ritual Annyossoro' Kalompoang Angrong Guru ri Taeng atau ritual pencucian benda pusaka milik Angrong Guru ri Taeng, merupakan prosesi adat keluarga besar keturunan Alm Letjen Hertasning Karaeng Toro dan Alm H Alauddin Palanro Karaeng Emba sebagai Angrong Guru Taeng terakhir.
Ritual ini merupakan finalisasi prosesi pencucian yang didahului dengan berbagai rangkaian prosesi pada Kamis (15/9/2016) sebelumnya.
Ir Darmawangsyah Muin, sebagai keturunan dari Angrong Guru ri Taeng didaulat sebagai pelaksana pencucian benda pusaka yang berlangsung di Balla Lompoa, Jl. Poros Taeng, Desa Taeng, Kecamatan Pallangga.
Prosesi rangkaiannya yang dilakukan dua hari itu berakhir dengan acara puncak membersihkan pusaka Sudanga ri Taeng, sejenis parang pusaka (sebagai senjata khas perang yang dipakai leluhur kerajaan Gowa).
Rangkaian sebelum pencucian yakni melakukan kurban hewan, mengambil air suci dari sumur dianggap suci, menggelar Parate Juma', Appanaung ri Je'neka atau sesaji penolak bala untuk meminta berkah Allah SWT agar rakyat maupun anak keturunan Angrong Guru diberi ketenangan dan kesejahteraan di Gowa.
"Ini adalah bentuk bagaimana budaya adat kami dapat dilestarikan kesejarahannya. Kegiatan ini juga memberi pelajaran penting kepada keturunan-keturunan Angrong Guru Taeng agar diteruskan ke depan," ujar Darmawangsyah saat diwawancarai media usai ritual.
Prosesi pencucian benda pusaka yakni lima jenis benda utama antara lain Sudanga kembar ri Taeng serta keris dan benda pusaka lainnya hanya boleh dilakukan keturunan dari pemilik benda pusaka tersebut.
"Ada beberapa keturunan klan keluarga. Benda pusaka yang dicuci ada lima jenis namun kebiasaan kami yang kita sucikan utama hanya kembar Sudanga dan keris,".
Benda-benda pusaka milik Angrong Guru ri Taeng ini adalah titisan turun temurun dari Karengta Tanite yang merupakan saudara dari salah satu Raja Gowa.
Taeng merupakan bagian dari Gowa yang memiliki sejarah dan peranan penting dalam kehidupan masyarakat Gowa secara menyeluruh.
Taeng dahulunya adalah salah satu pusat penempaan sumber daya manusia yang kemudian dididik menjadi ksatria- ksatria pemberani Gowa, menjadi salah satu pusat pembelajaran agama, dan sekaligus menjadi tempat berlangsungnya kegiatan -kegiatan budaya lain yang terkenal, seperti penempaan besi badik De'de Taeng, serta produksi sarung sutra Cura' La'ba yang menjadi ciri khas Gowa, yang masih bisa kita temukan sampai sekarang.
Dalam catatan sejarah, kita mengenal Beliau Mangkubumi kerajaan Gowa Karaeng Bontosunggu Tu menanga Ri Taeng dimasa Sultan Abdul Jalil 1700an.
Kita juga mengenal Beliau I Chuma Daeng Riambabulang karaeng Karuwisi, Sultanah Sitti shalehah yang terlahir sebagai putri mahkota Taeng, yang menggantikan Sultan Abdul Kadir II dan memerintah di Tallo.
Kemudian sejarah hidup Karaengta Tanite, yang kemudian menurunkan beliau- beliau Karaengta Campagayya dan leluhur Mulia lain seterusnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/keturunan-dari-kerajaan-taeng-dari-alm_20160916_233707.jpg)