Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Angin Jombea Jeneponto Paling Stabil di Dunia

Jombe memang terkenal dengan kampung yang tak pernah berhenti dihebus angin.

Penulis: Muslimin Emba | Editor: Mahyuddin
dok tribun
Edisi Cetak Tribun Timur tanggal 30 Agustus 2016 

TRIBUNJENEPONTO.COM, TURATEA - Raut muka Kepala Dusun Tompo Balang, Desa Jombe, Kecamatan Turatea, Jeneponto, M Mukhtar (45), langsung berubah saat ditanya tentang rencana pembangunan tower turbin pembangkit listrik tenaga bayu (PLTB) di kampung mereka.

"Cocok mi, Pak! masih ada 10 wargaku kodong (kasihan) yang belum masuk listrik di rumahnya," katanya kepada Tribun, Minggu (28/8) sore di rumahnya.

Atas nama 90 warga Jombe, Mukhtar juga berharap, proyek ini nanti bisa memperbaiki akses jalan kecamatan yang selama beberapa dekade kurang diperhatikan.

Desa Jombe diapit perbukitan dengan ketinggian 70 mdpl hingga 100 mdpl (meter dari permukaan laut), dan berjarak sekitar 2 - 4 km dari garis pantai, Desa Jombe juga diapit sungai, yang tak pernah kering.

"Kampung di sebut Jombe-jombe, sebab kalau orang yang lewat, kain dan sarungnya selalu terlihat ajjombe-jombe (meliuk-liuk) ditiup angin," kata Ahmad, salah seorang tetua kampung.

Kampung yang berjarak sekitar 17 km dari ibu kota kecamatan dan 11 km dari ibu kota kabupaten ini memang banyak pepohonan kelapa, dan tanaman keras jangka pendek.
Oleh ahli angin, pohon kelapa di lepas pantai dianggap sebagai 'salah satu indikator danya angin yang stabil.

Warga satu dari 11 desa di kecamatan Turatea ini, sebagian besar adalah petani sawah dan jagung musiman.

Ada juga yang menafkahi hidup dari dagang dan jasa.

Khusus di Dusun Tompo Balang, ada sekitar 90 kepala keluarga dengan jumlah rumah sebanyak 80 rumah semi permanen.

Dengan kecepatan angin yang stabil di atas 8 hingga 9 m/ detik inilah yang menjelaskan kenapa sebagian besar warga Desa Jombe dan sekitarnya juga saat berbicara selalu terdengar keras, seperti suara teriakan.

Jombe memang terkenal dengan kampung yang tak pernah berhenti dihebus angin.

Dari hasil survei yang dipresentasekan oleh Dr Balaraman PhD, di Desa Tombo-Tombolo, Bangkala dan Desa Mengempong Turatea, akan jadi proyek Indonesia Clean Energy Development (ICED) Project yang dilakukan oleh USAID tahun 2014 dan 2015 lalu.

Dari data kecepatan angin terungkap, di tahun 2013 kecepatan angin yang stabil bisa membangkitkan turbin dengan kapasitas stabil 70 MW sepanjang tahun.

Kecepatan angfin hanya turun ke level 50 di duia bulan transisi musim, April dan November, di level rata-rata 45 - 50 MW.

Memang saat Tribun bertandang ke kampung itu, antara pukul 13.30 wita hingga pukul 18.00 wita, saban hari, kecepatan angin begitu terasa.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved