Ramadan 1437 H
Goncangan Batin Idulfitri JK-Hamdan Zoelva
Kisah dua tahun lalu itu disampaikan Pak JK dan Hamdan di Buka Puasa Bersama IKA Unhas Jabodetabek di Istana Wapres, 2 Juli 2016.
M Dahlan Abubakar
Kepala Humas dan Protokol Unhas
Melaporkan dari Jakarta
TRIBUN-TIMUR.COM - Ini kejadian dua tahun lalu yang dikisahkan lagi 11 hari lalu. Kisah ini tentang dua pejabat tinggi negara di “kamar” berbeda, eksekutif dan yudikatif, antara Wakil Presiden (Wapres) Jusuf Kalla dengan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Hamdan Zoelva.
Kisah dua tahun lalu itu disampaikan Pak JK dan Hamdan di Buka Puasa Bersama Ikatan Alumni Unhas Jakarta Bogor Depok Tangerang dan Bekasi (Jabodetabek) di Istana Wapres, 2 Juli 2016.
Tahun 2014 ternyata merupakan momen Idulfitri yang sangat mengesankan, sekaligus menegangkan serta penuh dengan goncangan batin bagi Hamdan yang ketika itu menjabat Ketua Mahkamah Konstitusi.
“Bagi saya, puasa tahun ini, sama saja tidak puasa. Karena apa, Pak JK pagi main golf, sore juga pergi main golf. Jadi, tidak ada yang berubah. Ini luar biasa bagi diri saya. Puasa tidak puasa, olahraga tetap. Sama saja,’’ ujar pria kelahiran Bima Nusa Tenggara Barat mengawali ‘kuliah lima menit’ (kullim), kisah soal puasa sebagaimana diminta JK yang hari itu tiba-tiba menjadi ‘’MC merangkap moderator’’.
“Saya waktu itu menjabat Ketua Mahkamah Konstitusi, ada sedikit benturan antara etika dan silaturahim. Saya diminta menjadi khatib Idulfitri di Masjid Al Azhar, Kebayoran Baru Jakarta Selatan’’ Hamdan mengenang.
Oleh pengurus masjid, disiapkan di samping saya itu, tempat duduk Pak JK. Sementara perkara sengketa Pemilihan Presiden (Pilpres) beberapa hari akan diputus. Bagaimana caranya ini, agar Pak JK tidak di sini (duduk di samping Hamdan yang disiapkan Panitia Masjid Al Azhar).
Karena kalau itu terjadi, dilarang menurut etika. Ini goncangan batin saya yang luar biasa. Tetapi Alhamdulillah, Pak JK melihat saya di depan, ditarik-tarik oleh Panitia, justru menolak.
“Dalam hati saya, Alhamdulillah! Itu pengalaman yang luar biasa bagi saya. Dan, sungguh-sungguh Pak JK betul-betul mengerti (tidak duduk di samping Hamdan). Ini situasi yang benar-benar sulit, antara etika dan silaturahim,” jelasnya.
Tetapi diberitakan juga besoknya, Pak JK dengan Ketua MK sama-sama salat Idulfitri di Al Azhar. “Itu yang kedua.”
Yang ketiga, “Saya merasa, tambah tua umur ini. Pasa itu benar-benar sangat bermakna. Dulu, kita salat tarawih, santai-santai saja. Tetapi sekarang ini, dan beberapa puasa yang terakhir (tiga hari terakhir), jika kita tinggalkan salat tarawih itu, sama dengan meninggalkan hal yang penting dalam pelaksanaan ibadah puasa. Sesudah salat tarawih, tambah lagi salat malam.”
Mendengar kisah Hamdan, Pak JK yang kemudian segera merapat ke podium selaku MC melanjutkan, “Jadi tadi itu, Idulfitri 2014. Saya, karena dekat di rumah, ya salat di situ (di Masjid Al Azhar). Sampai di masjid baru saya lihat (papan pengumuman) bahwa khatibnya Hamdan. Bagaimana ini? Jadi waktu itu, saya duduk di belakang saja. Jangan difoto, berbahaya kalau terjadi. Tetapi difoto juga saat jabat tangan. Tidak apa-apa.”
“Yang repot, kalau duduk berdekatan terlihat kita bisik-bisik, ada apa? Ha..ha ..,” ujar JK melanjutkan, disambut tertawa bareng undangan yang memenuhi Istana Wapres Jakarta.(*)