Tak Kenal Maka Tak Sayang
Inilah Madura di Makassar
Warga Madura sudah lama menjadi Bugis-Makassar di Sulsel. Sejak 1950-an mereka sudah membuat perkumpulan.
TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Saat warga lain sudah berkemas meninggalkan Makassar, mudik Lebaran, pendatang asal Madura tak bergeming. Mereka tetap “setia” berpijak di Makassar menyambur Hari Raya Idulfitri 1437 H/2016 M, seperti tahun demi tahun sebelumnya.
“Saya tidak mudik, Daeng. Sudah bertahun-tahun saya Idulftiri di Makassar,” kata seorang pria sambil mencukur rambutku di Cukur Madura, depan Masjid Babul Muttaqien, Jl Daeng Tata Raya, Parangtambung, Makassar, Jumat (17/6/2016) pagi.
Warga asal Madura di Makassar memang berbeda dengan pendatang lain dari Pulau Jawa. Umumnya mereka tidak mudik di Lebaran Idulfitri. Mereka lebih senang mudik saat Lebaran Iduladha.
Warga Madura sudah lama menjadi Bugis-Makassar di Sulsel. Sejak 1950-an mereka sudah membuat perkumpulan.
Dalam Ramadan, ini warga Madura yang tergabung dalam Perkim Makassar aktif ikut zikir di Darul Ahsan, kediaman Mursyik Khalwatiyah Syekh Yusuf Al Makassary, Syekh Sayyid A Rahim Assegaf Puang Makka, Jl Baji Bicara, Makassar.
“Acara kami di Baji Bicara, seakan tidak sempurna tanpa kehadiran saudara-saudara kami dari Madura,” ujar Humas Jam’iyyah Khalwatiyah Syekh Yusuf Al Makassary, Ibrahim Tiro, Jumat (17/6/2016) malam.
Awalnya, warga Makassar asal Madura membentuk Perkumpulan Warga Madura (PWM), 1950-an. Tahun 1970-an berubah nama menjadi Persatuan Kekeluargaan Indonesia Madura (Perkim).
Menurutnya, sejak tahun 1970-an, pendiri Nahdlatul Ulama (NU) Sulsel, Allah Yarham Syekh Sayyid A Djamaluddin Assegaf Puang Ramma Qaddasallahu Sirrah, dan Imam Masjid Raya Makassar Syekh Ali Ba'bud sudah bergabung sebagai penasihat Perkim Sulsel.
Perkim Makassar awalnya dikembangkan oleh ulama-ulama dari Madura seperti KH Santimin, KH Mustafa, dan dan KH Umar.
“Orangtua kita ini merantau ke Makassar selain mencari nafkah juga mencari kawan yang sepaham, NU, " kata pengurus Perkim Makassar, Abd Wahid Effendy.
Jumlah warga Madura di Makassar, lanjut Wahid, tidak kurang dari 650 kepala keluarga.
Selain berprofesi sebagai pedagang, tukang cukur, penjual sate, juga aktif mengembangkan budaya. Dalam setiap perayaan Hari Jadi Kota Makassar, warga Madura selalu menampilkan pakaian khas mereka, Sakera.
Pasukan Gagak Hitam
Keakraban warga asal Madura dengan ulama Sulsel sudah terjalin lama. "Ini bukan barang baru, karena bapak saya juga dulu ketua dewan penasehat Perkim, Habib Ali Ba'bud bersama Kiai Thahir Assegaf, Puang Ramma (ayahanda Puang Makka), itulahan dewan pembina Perkim tahun 1957," jelas Puang Makka di kediamannya, Jl Baji Bicara, beberapa waktu lalu.
Selain itu, sejarah Perkim di Sulsel, menurut Puang Makka, saat peristiwa G 30 PKI 1966, "di situ peranannya masyarakat Madura, ditugasi menjaga rumah ulama-ulama yang akan diculik oleh PKI. Termasuk rumah saya ini dijaga oleh Perkim dengan pasukan bela diri Perkim, Gagak Hitam," ungkap Puang Makka.
Pasukan Gagak Hitam Perkim di Sulsel bergabung dengan Gerakan Pemuda Ansor untuk menjaga ulama Sulsel dari ancaman PKI.
"Ini rumah dibangun oleh bapak saya (Puang Ramma) tahun 1958. Sempat didatangi PKI tapi tidak berani mendekat, karena ratusan pasukan Gagak Hitam menjaga rumah ini, dan pasukan ini tidak hanya di sini, tapi ke seluruh ulama Sulsel, baik NU maupun Muhammadiyah. Jadi saat itu tidak ada ulama yang diculik PKI," tutur alumnus FISIP Unhas ini.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/perkim-madura_20160618_005757.jpg)