Puasa dan Kesehatan
Ramadan dan Puasa Para Nabi
Dalam kitabb Hindu/Buddha kita jumpai sebutan vassa (dari bahasa Pali), yang maksudnya adalah puasa
PUASA adalah sebutan yang telah umum, berasal dari bahasa Sanskerta upawasa. Orang Jawa biasa menyebut pasa. Sejumlah suku (masyarakat) di Indonesia biasa menyebut kata puasa. Dalam kitabb Hindu/Buddha kita jumpai sebutan vassa (dari bahasa Pali), yang maksudnya adalah puasa. Puasa juga biasa disebut shauml atau shiyam (Arab), fasting (Inggris), onthauding (Belanda), yang diartikan "hal berpantang" (abstinance), yakni menahan/memantangkan diri dari sesuatu hal, seperti makan, minum, berhubungan seks, bercakap-cakap, keluar rumah, bekerja, berburu, berbuat sesuatu dan sebagainya.
Jauh sebelum Islam datang, ibadah puasa sudah banyak dilakoni para Nabi dan umat terdahulu. Para Nabi telah melakukannya, dimulai dari Nabi Adam. Beliau berpuasa selama 3 hari setiap bulan sepanjang tahun. Riwayat lain menyebutkan Adam berpuasa 40 hari 40 malam setiap tahun. Nabi Ibrahimpun terkenal pula kegemarannya berpuasa. Saat hendak menerima wahyu dari Allah, yang kemudian dijadikan suhuf Ibrahim itu beliau memulai dengan puasa. Tradisi puasa dilanjutkan anaknya Nabi Ismail dan Nabi Ishak.
Nabi Ya'qub mengikuti tradisi Nabi Ibrahim yang juga gemar berpuasa, terutama untuk keselamatan putra-putranya. Mengikuti ayahnya, Nabi Yusuf juga suka berpuasa. Ada riwayat menyebutkan, bahwa ketika Yusuf menjadi pembesar Mesir dan menjabat sebagai menteri perekonomian sering melakukan puasa. Alasanya berpuasa karena khawatir apabila kenyang beliau bisa lupa perut rakyatnya yang fakir miskin. Nabi Syu'aib yang terkenal keshalehannya juga banyak melakukan puasa dalam rangka hidup sederhana dalam mendekatkan diri pada Allah. Kemudian diikuti Nabi Musa yang berpuasa selama 40 hari 40 malam dalam persiapan menerima wahyu dari Allah di Bukit Sinai. Yang tak kalah bentuk puasanya adalah Nabi Daud AS, berpuasa berselang, sehari berpuasa dan sehari tidak. Dan, Nabi yang paling terkenal kezuhudannya karena sering berlapar diri, namun penampilannya tidak menunjukkan orang berpuasa adalah Nabi Isa.
Keterangan-keterangan tentang puasa para rasul terdahulu itu dikuatkan oleh Syaikh Muhammad Abduh bahwa umat dulu kala telah mengenal bentuk syariat yang dibawa oleh para rasul mereka. syariat ini mengalami perkembangan secara lambat laun sampai pada bentuknya yang makin sempurna. Mereka mengenal puasa, tetapi bentuk maupun cara-caranya berbeda-beda pada setiap generasi, tergantung pada situasi dan kondisi pada masa itu. Setelah Rasulullah SAW diutus disempurnakanlah waktu dan ketetapan puasa yang dilaksanakan setiap tahun. Wallahu ‘alam.(*)