Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Usai Tanam Padi, Warga Parangluara Cari Ikan

Setiap orang, rata-rata mendapat satu ember ikan, sekitar 30 ekor, untuk dibawa pulang.

Penulis: Munjiyah Dirga Ghazali | Editor: Imam Wahyudi
TRIBUNTIMUR/MUNJIYAH
Warga Padangluara, Pangkep, menyetrum ikan usai bertani. 

TRIBUNPANGKEP.COM, TONDONGTALLASA - Petani Kampung Parangluara, Desa Bantimurung, Kecamatan Tondong Tallasa, mengisi waktu usai beraktifitas di sawah dengan mencari ikan.

Cara yang digunakannya adalah dengan menyetrum ikan, dalam bahasa setempat disebut ‘sitorong’.

Apalagi jika musim hujan, beramai-ramai warga kampung tersebut memenuhi sungai kecil di sekitar areal persawahan mereka untuk mencari ikan.

Jenis ikan yang mereka tangkap beragam, ada cappi (lele), rillong, anakang, emas dan kalengkere'.

Setiap orang, rata-rata mendapat satu ember ikan, sekitar 30 ekor, untuk dibawa pulang.

Alat " massitorong" ikan ini terbuat dari kayu, terapu rakitan, listrik dari aki, kabel penghantar listrik, alat pembatas listrik dan pemegangnya terbuat dari besi serta ‘soro-soro’, semacam alat penadah ikan dan keranjang sebagai tempat menyimpan ikan.

Cara menggunakan alat ini sangat mudah. Alat tersebut diturunkan di air, jika melihat ikan, cukup memencet tombol pengantar listrik. Ikan yang terkena sengatan listrik bakal pingsan kemudian diangkat menggunakan ‘soro-soro’.

Warga setempat, Misbah, mengatakan cara tangkap ikan tradisional ini sudah ada sejak dulu.

"Sejak kecil’ka ada memang’mi di kampungku. Ini mudah, tidak terlalu banyak memakan waktu kalau ikan ada di sekitar sungai itu 1 menit itu sudah adami kita dapat ikan karena langsung tersengat listrik," katanya.

Hasil tangkapan ini, lanjut Misbah, dapat memenuhi kebutuhan lauk keluarganya, sehingga tidak perlu mengeluarkan uang untuk beli ikan.

Sumber: Tribun Timur
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved