Inikah Pria yang Diyakini Pengikut Gafatar Sebagai Nabi? Lihat Baik-baik Fotonya
orang mirip Musadeq itu terlihat sedang menelepon dalam posisi berdiri
TRIBUN-TIMUR.COM - Di tengah kehebohan Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar), khususnya di Kalbar, Ahmad Musadeq yang pernah terkait kasus 'nabi palsu' diduga berada di Bandara Supadio Pontianak, Kubu Raya.
Dalam foto yang diterima dari sumber Tribunpontianak.co.id, orang mirip Musadeq itu terlihat sedang menelepon dalam posisi berdiri.
Ahmad Musadeq erat dikaitkan dengan Gafatar.
Apalagi sebagian eks pengikut Gafatar mengakui kalau Musadeq sebagai tokoh mereka.

[Ahmad Musadeq]
Namun belum ada konfirmasi apakah itu asli Ahmad Musadeq, maupun keterkaitannya dengan eks Gafatar di Kalbar yang saat ini sedang menjadi sorotan.
General Manager Bandara Supadio Pontianak, Bayuh Iswantoro, membenarkan bahwa lokasi foto orang yang diduga Musadeq itu adalah di terminal Bandara Supadio Pontianak.
"Betul Mas, itu di ruang chek in," ujarnya sesaat setelah reporter Tribunpontianak.co.id mengirimkan file foto yang diduga Ahmad Musadeq melalui akun WhatsApp miliknya, Jumat malam
Namun Bayuh tidak berani memastikan bahwa orang itu adalah Ahmad Musadeq karena dia tak mengenalinya.
Bekas Narapidana
Pada tahun 2006 lalu, Ahmad Musadeq alias Abdussalam mengaku dirinya sebagai nabi setelah nabi Muhammad SAW, di tahun yang sama ia juga mendirikan sebuah gerakan yang bernama Al-Qiyadah Al-Islamiyah.
Pada tahun 2007 aliran Al-Qiyadah Al-Islamiyah dinyatakan sesat oleh MUI (Majelis Ulama Indonesia) setelah menjalani penelitian secara subyektif selama 3 bulan karena menyimpang dari ajaran Islam dan melakukan sinkretisme agama.
Pada 2008, Pengadilan Negeri Jakarta Selatan memvonis Musaddeq 4 tahun penjara dipotong masa tahanan atas pasal penodaan agama.
Aliran ini mempercayai bahwa Moshaddeq adalah Masih Al’Mau’ud, Mesias Yang Dijanjikan untuk ummat penganut ajaran Ibrahim / Abraham meliputi Islam (bani Ismail) dan Kristen (bani Ishaq), menggantikan Muhammad.
Termasuk di dalam kalimat syahadat, kata yang menyebutkan Nabi Muhammad juga dihapuskan. Aliran ini juga belum mewajibkan pengikutnya untuk menjalankan salat lima waktu dengan alasan kewajiban tersebut belum perlu dilaksanakan kecuali menjelang hijrah dan setelahnya.
Ahmad Musadeq kemudian menyatakan berotobat dari aliran sesatnya, namun ia diduga masih menyebarkan aliran sesatnya dengan mengganti nama aliran Al-Qiyadah Al-Islamiyah dengan nama Milah Abraham yang berkembang di daerah Depok, Jawa Barat.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/ahmad-musadeq_20160124_175541.jpg)