Pernah Pecahkan Rekor Dunia, Atlet Angkat Besi Ini Kini Jadi Pandai Besi
Pria kelahiran Makassar, 22 Desember 1969 di usia senjanya kini berprofesi sebagai seorang tukang besi, tepatnya seorang tukang bubut.
Penulis: Fahrizal Syam | Editor: Anita Kusuma Wardana
Meskipun begitu, pemegang rekor angkat berat yang hingga saat ini belum ada yang bisa memecahkannya di Indonesia juga pernah mengalami masa-masa sulit. Ia pernah dicap sebagai kacang lupa kulitnya.
Kejadian itu bermula saat Denny memilih hengkang dari tanah kelahirannya menuju ke Provinsi Jawa Timur. Ia memilih membela Jawa Timur di ajang PON dengan alasan pekerjaan.
Hal itu membuat pengurus olahraga angkat besi di Sulsel waktu itu menjadi geram. Denny pun dicap sebagai pengkhianat dan kacang lupa kulitnya, lantaran ia dididik dan dibesarkan menjadi seorang atlet di Sulawesi Selatan.
Yang membuat KONI Sulsel semakin "panas" adalah karena Denny mampu mendulang banyak emas untuk Jawa Timur pada PON ke-13 yang diikutinya.
"Itu masa lalu, saya pikir itu pengalaman yang tidak perlu diungkit lagi. Saya hanya berpikir, waktu itu kalau kita tidak mengikuti orang Jawa, maka kita akan sulit untuk berhasil," kata Denny mengingat masa lalunya.
Kini Denny seolah terlupakan oleh pemerintah dengan prestasi apa yang pernah ia raih. Tak ada lagi perhatian khusus dari pemerintah untuk para mantan atlet.
Namun Denny juga tidak menuntut banyak, ia hanya berharap olahraga yang pernah dibuat berjaya untuk Indonesia di tingkat dunia itu bisa terus berkembang untuk ke depannya dengan melahirkan bibit-bibit potensial.
"Olahraga angkat berat itu tidak populer di Indonesia, sangat jarang atlet yang mau menggelutinya, jadi perlu perhatian khusus dari pemerintah jika memang mau berprestasi,' pesannya.
Denny juga membeberkan rahasia suksesnya hingga mampu mengibarkan bendera merah putih di berbagai negara di Dunia.
"Saya itu berolahraga bukan sekadar untuk berprestasi atau parahnya lagi hanya mengejar uang semata, saya olahraga karena memang saya suka dan itu hobi saya," kata Denny yang mengaku banyak terinspirasi dari omnya, Charlie Thios.
Kini hari-hari Denny Thios dipenuhi dengan tumpukan besi. Setiap hari ia mengerjakan pesanan orang-orang, mulai dari memotong dan melubangi besi, hingga memperbaiki mesin.
Di bengkel yang luasnya tak seberapa itu ia menghabiskan masa tuanya untuk meneruskan pekerjaan ayahnya dulu, ia selalu ditemani oleh beberapa ekor anjing piaraannya yang dirantai di dalam bengkel.
Rambutnya yang mulai memutih, dan tangannya yang tak sekekar dahulu lagi tampak begitu terampil mengolah potongan besi-besi tua dan berkarat di bengkelnya itu.
Kini yang tersisa darinya hanyalah beberapa medali dan sertifikat bukti prestasinya serta id card atlet yang selalu ia simpan baik-baik sebagai pengingat moment-momen indahnya saat membela Indonesia. Sayangnya ia mengaku beberapa medali pentingnya sudah tak ia pegang karena disimpan di Jawa Timur.
"Syukuri apapun yang kamu kerjakan, dan cintai pekerjaanmu," pesannya yang juga pernah berprofesi sebagai nelayan ini. (*)