Bosowa School Goes To UK
2 Guru Bosowa School Rela Kehujanan di Suhu 2 Derajat Malam
Selama di Cambridge, mereka tinggal berdua di 29a Gailfrid Road, tak jauh dari Cambridge Airport.
Penulis: Thamzil Thahir | Editor: Suryana Anas
Pukul 21.30 pm, Keluhan Amalia sampai ke telinga guru. Di musim dingin, pukul 9 mapam sudah terbilang midnight.
Di Eropa, matahari terbenam pukul 04.00 sore. Sedangkan matahari baru terbit pukul 07.00 am.
Melalui group WhatsApp, dua guru Andi Haposan dan Yossa, tahu masalah yang dihadapi siswinya.
Dia lalu berkoordinasi dengan satu guru pembimbing dari BIS Makassar, Haeruddin Niva Renggang. "Saya bicara sama Hung Ciyong dulu, dan pastikan Amalia tak ada masalah."
Amalia mengabarkan, paspornya aman, dan dokumen identitas lain juga aman. "Hanya kunci rumah dan uang 100 £ yang ikut tercecer."
Saat tiba di London, 21 November lalu, semua paspor siswa memang dikumpulkan oleh guru. Ini hanya untuk berjaga-jaga, jangan sampai dokumen penting itu hilang.
Kian malam, Amalia semakin panik. Hujan mulai turun. Angin kencang mulai unjuk suara saat menabrak daun dan ranting.
Tanpa kunci, dia hanya akan bertahan di rumah remaja tetangganya. Dia tahu, tuan rumahnya bakal marah.
"Itu si Amalia tak bisa dihubungi. Teleponnya tak diangkat, mati putus-mati putus," kepala sekolah Bina Insani Bogor, menumpahkan kekesalan melalui chatting group.
Namun dua guru lainya, tahu bahwa keluhan tak bakal menyelesaikan masalah.
Di tengah hujan deras, dan angin kencang keduanya berjalan kaki sejauh 2,1 km.
Dia jalan dari Mill Road, ke Thomas Square. Keduanya beri penjelasan ke tuan rumah Ciyong, dan meminta maaf atas inisiatif anak usia 15 tahun itu membawa "teman wanita"-nya ke kamar tanpa pemberitahuan lebih dulu.
Sang tuan rumah Ciyong, Ms L Jabbie akhirnya mengerti.
Dia bahkan memuji inisiatif anak keturunan Indo-Taiwan itu, membantu.
Andi dan Yossa lalu mengantar Amalia ke rumahnya. Sebelumbya dua guru ini memperkenalkan diri, dan menjelaskan musibah yang dihadapi Amalia.
Si tuan rumah, Soyful Rahman mengerti. Amalia tak dapat marah, dan meminta maaf atas kelalaiannya.
Dua guru pamit pulang. Hujan dan angin mengantar mereka sampai ke rumah.
"Ini bagian dari pertanggungjawaban kami, sebagai guru."
Bagi dua guru ini, berjalan di hujan lebat dan angin kencang, di suhu dua derajat, jadi pengalaman pertamanya.
"Ini sekaligus memberi pesan kepada kami, bahwa siswa SMP yang baru berumur 15 tahun, dipaksa untuk berasaptasi, mandiri, dan bertanggungjawab." (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/guru-bis_20151130_212719.jpg)