Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Bosowa School Goes To UK

Cambridge -2 Derajat, Siswa Bosowa Alami Culture Shock

Tiap rumah menampung dua siswa. Baik dari Bosowa Bina Insani School di Bogor, dan Bosowa International School di Makassar.

Penulis: Thamzil Thahir | Editor: Ina Maharani
TRIBUN TIMUR/THAMZIL THAHIR
Cuaca ekstrem di United Kingdom (UK) menyambut peserta Bosowa School Home Stay 2015 di Cambridge, UK, 

LONDON, TRIBUN -- Cuaca ekstrem di United Kingdom (UK) membuat peserta Bosowa School Home Stay 2015 di Cambridge, UK, mulai merindukan Indonesia.

Di Cambridge, timur Kota London, suhu udara pagi ini drop hingga -2 derajat celcius.

Beberapa siswa pun mulai mengeluh kelaparan, kedinginan, dan culture shock.

Muhammad Lai Zew Hung, siswa kelas 3 SMP Bosowa International School Makassar, misalnya menyampaikan keluhan itu di LINE group chat peswrta studi banding ini.

Lai Zew, tinggal bersama Muhammad Akram, teman sekelasnya di sekolah berasrama di Jl Lanto Dg Pasewang Makassar.

Di Cambridge, siswa ini tinggal dua pekan di rumah warga setempat, Ms J Labbie di 73st Thomas Square, Cambridge, sekitar 2 km dari King Collage, kantor pusat atau sebutan populer Cambridge University di Inggris Raya.

Haeruddin Niva Renggang, staf guru pendamping dari BIS Makassar, mengomentari keluhan muridnya dengan ungkapan sabar, dan mulailah adaptasi.

"Ini cuaca turun 30 derajat dari rumahnya di Indonesia, dan mereka harus adaptasi tubuh, dan kebiasaan dengan perubahan waktu," kata konseling dan PR Bosowa International School ini.

Makassar dan London selisih 7 jam. Ketika siswa mengeluh lapar, pukul 02.00 waktu Inggris, di orangtuanya Makassar baru membersihkan piring sarapan pagi mereka.

Saat tiba di Cambridge, London, tuan rumah menyediakan welcome meal, atau makanan dan minuman selamat datang.

Ada roti panggang, susu, dan nugger ayam. Pihak manajemen LSI, sudah memberitahu bahwa siswa yang akan tinggal 2 pekan di rumah mereka adalah Muslim. Mereka butuh Halal Food.
Sekitar pukul 06.00 pm, atau pukul 03.00 dinihari waktu Indonesia, tuan rumah sudah menyediakan dinner, hidangan makan malam.
Menunya chips and nugget, serta makanan ringan.

Masa adaptasi awal orang Asia yang ke Eropa memang adalah soal cuaca, makanan, baru kemudian bahasa dan adaptasi lingkungan.

Adapatasi cultural dialami langsung dua siswa SMA BIS, Adelia Pratiwi Mansur dan Waode Anisah Muflihah Mursali.
Siswa kelas III SMA ini diajak oleh tuan rumanya ke Gereja di Cambridge.

"Bagaimana ini Pak, hari minggu pagi saya diajak ke gereja sama house fam," kata Adelia, menggambarkan ajakan tuan rumahnya, Mrs F Lynch, yang tinggal di 17 Ellison Close, Cambridge.

Pertanyaan itupun dijawab oleh guru konseling. "Saya seorang Muslimah, agama saya mengajarkan tidak boleh ikut beribadah dengan umat lain," kata Haeruddin Niva A Renggang, yang juga alumnus magister psikologi UNM ini.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved