KKN Profesi Kesehatan Unhas Wujud Pendidikan Antar Profesi
Pendidikan antar profesi pun dapat dilakukan melalui berbagai metode pembelajaran yang dapat disesuaikan dengan karakteristik lokal
Penulis: Anita Kusuma Wardana | Editor: Ina Maharani
Laporan Wartawan Tribun Timur, Anita Wardana
TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Penerapan pendidikan antar profesi di bidang kesehatan pada perguruan tinggi dapat menghasilkan tenaga kesehatan yang yang siap berkolaborasi dengan tenaga kesehatan dari berbagai profesi. Dengan demikian, kualitas pelayanan kesehatan untuk masyarakat pun dapat menjadi lebih baik.
Hal tersebut disampaikan Ketua Departemen Pendidikan Kedokteran, Fakultas Kedokteran, Universitas Hasanuddin (Unhas), dr Irwin Aras MEpid MMedEd saat menjadi pembicara dalam Seminar Nasional Pendidikan Kesehatan di Hotel Sahid Jaya Makassar, Selasa (28/7/2015).
Menurut dr Irwin, pelaksanaan pendidikan antar profesi tersebut sebagai upaya untuk menjawab tantangan pelayanan kesehatan yang semakin kompleks dan majemuk seiring dengan perkembangan IPTEK, transisi epidemiologi, desakan globalisasi dan pelayanan kesehatan yang masih terfragmentasi.
Pendidikan antar profesi pun dapat dilakukan melalui berbagai metode pembelajaran yang dapat disesuaikan dengan karakteristik lokal institusi seperti Prakter Belajar Lapangan (PBL), Small Group Discussion, maupun Community Project.
"Di Unhas pendidikan antar profesi ini sudah diterapkan sejak tahun 2002 melalui kegiatan KKN Profesi Kesehatan. Saat ini pun, sekitar 600 mahasiswa kesehatan Unhas sedang mengikuti KKN Profesi Kesehatan di Bantaeng dan Jeneponto,"kata Ketua Program KKN Profesi Kesehatan Unhas ini.
KKN Profesi Kesehatan tersebut diikuti mahasiswa dari sejumlah program studi kesehatan, seperti Pendidikan Dokter, Pendidikan Dokter Gigi, Farmasi, Kesehatan Masyarakat, Ilmu Gizi, Keperawatan dan Fisioterapi. Ditambah dua prodi lainnya, yaitu Kedokteran Hewan dan Psikologi.
Ia menjelaskan, karakteristik kegiatan KKN Profesi Kesehatan Unhas dikenal dengan istilah PLICA, yaitu Problem solving appoach, Larning by doing, Interprofessional and intersectors, Community centered, serta Academik activity.
Kompetensi utama yang harus dicapai mahasiswa pun, antara lain kepemimpinan, manajamen, komunikasi, profesional, kolaborasi dan sosio kultural.(*)