Bumi Kita Semakin Sempit: Pedulikah Kita?
Kota Makassar semakin jauh dari harapan untuk menjadi kota yang asri dengan tata air dan tata ruang teratur, apalagi mewujudkan green city(kota hijau)
April ini, Kota Makassar masih diguyur hujan dengan intensitas dan durasi yang cenderung menurun dibanding bulan sebelumnya. Namun, akibat yang ditimbulkan masih sama, kemacetan beberapa ruas jalan protokol.
Genangan air terjadi karena sifat alami dari air yang cenderung mencari tempat rendah. Kota Makassar semakin jauh dari harapan untuk menjadi kota yang asri dengan tata air dan tata ruang teratur, apalagi mewujudkan green city (kota hijau).
Apa itu kota hijau? Kota hijau adalah kota yang memiliki sumber energi, transportasi, dan infrastruktur bangunan yang ramah lingkungan. Untuk mewujudkannya, tanggung jawab bukan hanya berada di atas pundak pemerintah kota, tapi yang lebih utama adalah kesadaran dan partisipasi aktif warga kota. Sehingga manajemen tata kota dengan carring capacity memegang peranan penting untuk mewujudkannya. Jika kejadian seperti ini dibiarkan tanpa melakukan adaptasi, maka akibat yang ditimbulkan lebih parah. Tulisan ini mencoba untuk memberikan apresiasi terhadap bumi, tempat kita berdiam, memaknai hidup dan kehidupan, sekaligus untuk memperingati 22 April sebagai hari bumi yang diperingati secara internasional.
Hari Bumi dicanangkan oleh Senator Amerika Serikat Gaylord Nelson pada tahun 1970, pengajar lingkungan hidup, dan diperingati setiap tahun . Bumi kita pada awalnya hanya terdiri dari satu daratan tanpa sekat lautan yang disebut Pangaea. Akibat gaya-gaya endogen yang bekerja pada bagian-bagian bumi dengan soliditas batuan rendah, maka daratan ini mengalami retakan. Retakan ini lambat laun menyebabkan fluida mengisi rongga-rongga dan semakin melebar, sehingga terbentuklah laut dan samudra yang sampai saat ini terbentuk tujuh lempeng besar dan lima samudra luas yang merupakan interior bumi. Pertumbuhan penduduk yang semakin membesar dan sampai membentuk kelompok-kelompok ras dengan ciri khas masing-masing.
Ras manusia yang mendiami bumi kita bersama ini adalah ras Mongolid (berkulit kuning) adalah ras manusia yang sebagian besar mendiami sebagian besar Asia, sebagian India, sampai sebagian Amerika dan Oseania. Ras lainnya ras Negroid (berkulit hitam), adalah ras manusia yang terutama mendiami benua Afrika, sampai juga Eropa serta Timur Tengah. Selanjutnya, ras Kaukasoid (kulit putih) adalah ras manusia yang sebagian besar menetap di Eropa, Afrika Utara, Pakistan, India Utara bahkan sampai Australia dan Selandia Baru. Masih ada ras-ras khusus yang tidak dapat dikelompokkan pada empat kelompok ras sebelumnya, terutama yang mendiami daerah-daerah pedalaman Sri Langka, penduduk di daerah Gurun Kalahari, Kepulauan Mikronesia dan Polynesia serta beberapa pulau di Jepang dan sekitarnya. Ras-ras inilah membentuk aneka macam bangsa-bangsa, suku-suku di dunia yang mempunyai aneka kebudayaan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya masing-masing.
Manusia yang mendiami planet bumi ini (2013) sudah mencapai 7,2 milyar dan diprediksi akan mencapai 9,6 milyar sampai tahun 2050 dan malahan sampai 10,9 milyar pada tahun 2100. Untuk Indonesia saja, jumlah penduduknya pada tahun 2014 mencapai 244 juta, dan tahun 2030 bakal mencapai 425 juta jiwa. Dengan jumlah penduduk sebanyak ini, Indonesia diprediksi bakal menempati posisi kelima sebagai negara dengan jumlah penduduk terbanyak di dunia setelah China, India, Amerika Serikat, dan Nigeria. Angka ini sangat fantastis dan memerlukan kajian mendalam untuk memenuhi kebutuhan hidup, berupa sandang, pangan, papan dan kebutuhan lainnya. Jika penduduk bumi mempertahankan pola konsumsi dan produksi seperti saat ini, dibutuhkan hingga tiga bumi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dunia. Padahal sampai saat ini, bumi tetap menjadi satu-satunya planet yang dapat dihuni oleh manusia.
Oleh karena itu, diperlukan perubahan pola konsumsi manusia terhadap sumber daya di bumi. Untuk itu, diperlukan pola hidup yang bersahabat dengan lingkungan, mulai dari penggunaan kebutuhan hidup yang ramah lingkungan, sampai kepada pola hidup cerdas dalam mengantisipasi keterbatasan sumber daya. Menurut United Nations Environment Programme (UNEP), yakni organisasi bentukan PBB, prilaku konsumsi akan memberikan dampak yang sangat besar mulai dari proses produksi hingga limbah yang dihasilkan. Misalkan pola makan yang sehat akan memudahkan manusia untuk bercocok tanam dengan menggunakan pupuk organik, dari pada bercocok tanam dengan menggunakan pestisida. Kebiasan untuk melakukan diversifikasi makanan untuk memenuhi kebutuhan karbohidrat akan merubah kebiasaan mengkonsumsi beras dengan bahan pangan lainnya, misalnya ubi, kentang, pisang dan lainnya. Perubahan pola konsumsi dari beras ke komoditas pangan lainnya menjadi penting dan seharusnya menjadi perhatian utama, karena laju penyusutan lahan pertanian di Indonesia kian cepat. Penyebabnya adalah fragmentasi lahan atau penyusutan kepemilikan lahan pertanian sebagai dampak sistem bagi waris dan alih fungsi lahan. Ini tercermin dari peningkatan jumlah rumah tangga petani kecil alias gurem, dengan kepemilikan lahan rata-rata 0,34 hektar. Padahal, kebutuhan beras semakin meningkat. Untuk tahun 2030 dengan prediksi jumlah penduduk Indonesia 425 juta jiwa akan membutuhkan beras 59 juta ton dan kebutuhan lahan 23,4 juta ha, sehingga terjadi kekurangan 26,04 juta ton untuk beras dan kekurangan lahan 23,4 juta ha. Angka yang fantastis untuk tidak dipikirkan mulai sekarang.
Untuk itulah, sudah saatnya untuk menyadari bahwa dengan menjaga prilaku dan pola konsumsi yang merupakan pola hidup manusia berbudaya akan menghemat pengeluaran finansial. Pola hidup ini juga mempunyai tujuan yang lebih penting adalah keselamatan lingkungan dan pada gilirannya akan menyelamatkan umat manusia dari kepunahan seperti yang dialami oleh makhluk hidup lainnya, seperti dinosaurus.
Prilaku manusia bukan hanya di perkotaan, tetapi sudah merambah sampai perdesaan, semuanya sudah konsumtif. Misalnya penggunaan air kemasan pada pesta pernikahan dan acara-acara lainnya. Masyarakat kita cepat tergoda untuk meninggalkan pola hidup sederhana yang sebenarnya lebih sehat. Air kemasan yang cenderung lebih praktis tetapi tidak efisien itu menjadi pilihan utama dalam memenuhi kebutuhan minum bagi undangan. Sehingga sasaran perubahan pola konsumsi hendaknya dilakukan secara simultan untuk mulai memperbaiki diri dan kelompok masyarakat masing-masing.
Hari bumi yang jatuh pada 22 April ini, hendaknya dijadikan momentum perubahan pola hidup dan konsumsi dan kita patut bersyukur melihat antusiasme partisipasi warga masyarakat dengan tema yang bermuara pada Save our Earth. Partisipasi itu dapat dilihat dengan berbagai macam kegiatan, mulai dari yang sederhana sampai kegiatan ilmiah. Partisipasi warga dalam kegiatan 60+ Earth hours terus dilakukan. Kegiatan ini berupa pemadaman lampu yang tidak diperlukan di rumah dan perkantoran selama satu jam untuk meningkatkan kesadaran akan perlunya tindakan serius menghadapi perubahan iklim, akibat pemanasan global.
Khusus Mahasiswa Fisika Bumi FMIPA UNM Makassar melakukan talk shaw pada hari ini di Kampus Gunung Sari yang merupakan puncak acara dari serangkaian kegiatan, mulai dari aksi bersih di sekitar kampus MIPA di Parangtambung pada hari Sabtu, 18 April, Kawasan kantor Tribun Timur di Cenderawasih, Pantai Losari dan sekitar Kantor Walikota (Ahad, 19 April). Semoga aman dan damai Bumi ta', Bumi ku, Bumi Kita Bersama.(*)
Oleh:
Muhammad Arsyad
Dosen Fisika FMIPA UNM Makassar dan Peneliti Karst