Andi Oddang Meninggal
Mengenal Andi Oddang, Raja Sederhana Dari Tallo
Singkat cerita, Petta Cenrana merupakan ayah dari kakek Oddang Syafiuddin Daeng Pasele.
TRIBUN-TIMUR.COM - Garis kebangsawanannya Andi Oddang ditarik dari I Siri Daeng Serang Petta Cenrana yang merupakan keturunan Raja Bone ke-26 La Mappasiling Arung Pannyili. Petta Cenrana menikahi putri Raja Tallo ke-17, Makkarumpa Daeng Parani.
Singkat cerita, Petta Cenrana merupakan ayah dari kakek Oddang Syafiuddin Daeng Pasele. Buyutnya mempunyai saudara perempuan bernama I Kunjung Daeng Nginga bergelar Karaeng Tanatana.
Karaeng Tanatana diperistri I Mangimangi Karaeng Bontonompo, Raja Gowa ke-37 yang merupakan anak Raja Gowa ke-31, La Oddangriu Karaeng Katangka. La Oddang hanya menjabat dua tahun, setelah itu turun tahta menjadi Raja Tallo selama 20 tahun sebelum digantikan I Kumala Sultan Abdul Kadir.
Kerajaan Gowa dan Kerajaan Tallo merupakan kerajaan “Kembar” lantaran adanya persilangan tahta dari satu keturunan sejak dulu. Selain itu, batas wilayah kedua kerajaan ini bersinggungan.
Pada masa pemerintahan I Kumala, Kerajaan Gowa dihapuskan Belanda sebagai akibat pembaruan Perjanjian Bungaya atau Konte Verklaring. Sedangkan kerajaan Tallo terakhir kali dipimpin Makkarumpa Daeng Parani, cucu La Oddangriu Karaeng Katangka.
Tak heran, jika banyak pemimpin tradisional di Tallo menginginkan Oddang mempertahankan gelar Gallarang. Tujuannya untuk mejaga tradisi dan budaya Tallo tetap terpelihara.
Butuh waktu tahunan bagi tetuah adat kerajaan Tallo membujuk Oddang kala itu. Sementara Oddang butuh waktu berfikir menimbang ajakan itu. Pasalnya, karirnya di militer tentu kontras dengan nilai-nilai feodalisme yang seolah ingin dibangkitkan kembali.
Idealisme Oddang dibentur ketakutannya akan stigma mencari kekuasaan dan gelar kebangsawanan. Sementara, dirinya sudah tidak memikirkan hal tersebut. Boleh dibilang, pribadi Oddang sudah dicecoki pangkat, jabatan, dan kekuasaan. Baik dalam karir militer maupun dalam sipil.
Ia pernah menjabat Kepala Staf Angkatan Darat Kodam XIV Hasanuddin kala itu. Sebelum ia akhirnya dilantik menjadi Gubernur Sulsel. Kemewahan dan pernghormatan sudah diterima anak kedua dari sembilan bersaudara ini.
Semasa hidupnya, ia mencatat 18 penghargaan telah diterima. Untuk kali pertamanya, Oddang menerima usulan tetua adat Kerajaan Tallo sebagai Raja ke-19.
Ia pun menganggap kesempatan itu hanya sebagai hajatan adat belaka. Makanya, pelantikan Oddang sebagai Raja Tallo ke-19 di Timungan Karama ri Tallo, 16 Oktober 2008, dihelat sederhana.
Kesederhanaan itu tergambar dari cerita pelantikannya yang tidak terkesan glamour dengan tetamu pejabat. Gambaran tersebut ditangkap Prof Dr Andi Ima Kesuma sebagai sifat asli Andi Oddang semasa hidupnya.
Ima menjelaskan, Oddang merupakan pribadi sederhana dan terbuka. “Semasa hidupnya, ia juga sering menerima tamu. Bahkan 24 jam pintu dibiarkan terbuka untuk menerima siapa saja,” katanya.
Sifat dan sikap tersebut patut dicontoh pemuda saat ini. "Kita sangat kehilangan sosok sederhana di Sulsel. Selain itu, beliau juga termasuk orang yang tegas karena karir militernya dan sifatnya yang ke-bapak-an," katanya.
Tak Cuma itu, perempuan berjilbab ini menuturkan, sifat kemiliteran Oddang tak lekas luntur karena usia. Misalnya kedisiplinan. Oddang termasuk orang yang disiplin dalam bertindak, baik kepada siapa saja, dimana saja, dan kapan saja.
“Jarang sekali kita lihat dia pakai sendal. Dia suka pakai sepatu saat bepergian. Beliau merupakan sosok rapi dan disiplin,” tuturnya.
Kendati demikian, gelar Raja tidak sepatutnya disematkan lagi. Ima menjelaskan, kekuasaan kerajaan sudah diberikan sepenuhnya kepada negara. “Sudah tidak ada lagi raja, jadi yang benar adalah pemangku adat saja,” katanya.