Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Harga BBM Naik

Di Hadapan Orang Kampus, Jokowi: Demo BBM itu Salah

Presiden Jokowi menegaskan, bukan harga BBM yang dinaikkan, melainkan subsidi BBM untuk masyarakat dialihkan dari kegiatan konsumtif ke hal produktif

Editor: Edi Sumardi
TRIBUN TIMUR/MUHAMMAD ABDIWAN
Mahasiswa yang tergabung dalam Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) berorasi saat berunjuk rasa di depan kampus Universitas Islam Negeri (UIN) Jalan Sultan Alauddin Makassar, Senin (10/11/2014). Mereka menolak rencana pemerintah untuk menaikkan harga BBM karena dianggap menyengsarakan masyarakat. 

YOGYAKARTA, TRIBUN-TIMUR.COM - Setelah menghadiri peringatan Hari HAM dan Hari Antikorupsi Sedunia 2014, Presiden Joko Widodo (Jokowi) pada Selasa (9/12/2014) siang langsung menuju Gedung Balai Senat Universitas Gadjah Mada (UGM) Bulak Sumur, Yogyakarta, guna menyampaikan kuliah umum.

Di hadapan sivitas akademika UGM, Presiden Jokowi berbicara banyak hal, mulai dari sikap tegas pemerintah bagi terpidana narkoba, illegal fishing di perairan Indonesia, subsidi BBM, pembangunan infrastruktur, swasembada pangan, hingga masalah perizinan usaha.

Mengenai masalah subsidi harga bahan bakar minyak (BBM), Presiden Jokowi menegaskan, bukan harga BBM yang dinaikkan, melainkan subsidi BBM untuk masyarakat dialihkan dari kegiatan konsumtif ke hal-hal produktif.

"Jadi, subsidi itu kita alihkan. Bukan harga BBM dinaikkan, melainkan judulnya pengalihan subsidi. Jadi, kalau ada yang demo kenaikan harga BBM, itu salah," kata Jokowi.

Presiden mengemukakan, dari anggaran belanja Rp 2.039 triliun, anggaran subsidi secara keseluruhan mencapai Rp 433 triliun. Sebanyak Rp 280 triliun di antaranya untuk subsidi BBM. Artinya, dalam lima tahun, jumlah subsidi BBM mencapai Rp 1.400 triliun.

Padahal, Presiden melanjutkan, pembangunan rel kereta api di seluruh Tanah Air hanya butuh Rp 360 triliun. "Jadi, subsidi BBM itu dijadikan rel kereta api, setahun jadi," paparnya.

Presiden juga menyayangkan, batu bara selama ini habis diekspor, tetapi masalah listrik dalam negeri belum selesai. "Negara pembeli terang-benderang. Kita yang punya batu bara kekurangan listrik. Mestinya penuhi dulu kebutuhan dalam negeri," ujar Presiden Jokowi.

Menurut Presiden Jokowi, pembangunan listrik harus dikejar terus. Insya Allah, kata Jokowi, tiga tahun ini pemerintah akan ngebut karena pertumbuhan industri tergantung dari listrik. "Industri tidak akan tumbuh kalau listriknya tidak ada," ujarnya.

Terkait masalah swasembada pangan, Presiden Jokowi menyayangkan bahwa Indonesia selama ini menjadi negara pengimpor segala kebutuhan pangan. "Ini karena menterinya suka yang serba-impor, petaninya juga seneng kalau impor," katanya.

Presiden mengatakan, dia akan mencopot Menteri Pertanian jika Indonesia dalam tiga tahun mendatang tidak mampu swasembada pangan.

"Saya sudah minta Bulog agar siap-siap menghadapi melimpahnya bahan pangan. Jangan sampai nanti harga anjlok," kata Jokowi.

Kuliah umum di kampus UGM itu antara lain dihadiri Mendikbud Anies Baswedan, Mensesneg Pratikno, Seskab Andi Wijayanto, Menteri Hukum dan HAM Yasonna H Laoly, Gubernur DIY Sultan Hamengku Buwono X, dan Rektor UGM Prof Dwikorita Karnawati.

Sumber: Kompas.com
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved