Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Haji 2014

Kisah Penjual Pisang di Maros, Menabung 15 Tahun demi Haji

Setiba di Mekkah ia berencana mendoakan keluarganya khususnya suami, anak-anak dan keluarganya agar selalu diberikan kesehatan

Penulis: Saldy Irawan | Editor: Ina Maharani

Laporan Wartawan Tribun-Timur, Saldy

Makassar, Tribun - "Alhamdulilah Wasyukurilah," kata salah satu jemaah calon haji asal Makassar, Salma Binti H Raupong.

Saat ditemui Tribun di Aula Asrama Haji Sudiang Embarkasi Makassar, Selasa (2/9/2014) mengatakan bahwa dirinya sangat bahagia sampai kebahagiaannya itu tidak bisa dia ungkapkan dengan kata-kata, ucapnya.

"Wadduhh, jangan maki tanyaka soal perasaan ndi', tidak bisaka bicara apa-apa," kata Salma.

Ibu dari  Risa, Risma, dan Ramadani ini, rupanya sudah lama menanti untuk menginjakkan kaki ditanah suci Mekkah. Namun itu tidak semudah apa yang dibayangkan, dimana biaya pemberangkatan ibadah haji yang ia gunakan untuk mendaftar haji, itu dikumpulkan sekitar 15 tahun lamanya, hasil sisipan dari untung menjual pisang.

Salma mengatakan menjual buah pisang berbeda dengan menjual tanah, rumah, ataupun mobil, untung menjual pisang di Maros, hanya mendapatkan untung sedikit atau tiga sampai lima ribu rupiah, kata Salma.

"Yaa, sedikit-sedikit tong ini saya kumpulkan, akhirnya cukupji juga mendaftar haji," ungkapnya sambil menahan air mata menetes dipipi, mengingat sulitnya mengumpulkan uang pendaftran haji.

Suami dari Syahrullah itu juga mengungkapkan untuk mengumpulkan keuntungan dari hasil jualan pisang bukan waktu yang sangat singkat, keuntungannya itu berlimpah ketika ada momen - moment penting di Maros, tempat dimana ia berjualan. Momen yang menguntungkan bagi penjual pisang di poros kota Maros itu, seperti adanya perhelatan besar yang diadakan di maros, bulan ramadhan, dan malam tahun baru.

"Namun kunci keberhasilan ini adalah, shalat tahajjud, dan dhuha, kalau kita ikhlas dan monta doa kepada yang diatas Insya Allah, "tambahnya.

Dari data kemenag Sulsel Salma masuk dalam rombongan kloter dua meliput Takalar, Sidrap, dan Makassar pada Regu 40, yang mendaftar haji pada Januari 2008 silam. Ia salah satu warga perbatasan Makassar-Maros, berusia 40 tahun.

Salma menuturkan, ia yang tidak memiliki status pendidiakn atau merasakan bangku sekolah dasar, sangat bangga akan dirinya sendiri karena akhirnya ia juga bisa naik haji, dan bisa menyekolahkan anaknya hingga selesai.

Setiba di Mekkah ia berencana mendoakan keluarganya khususnya suami, anak-anak dan keluarganya agar selalu diberikan kesehatan, kemudahan, dijauhkan cobaan dan diberikan rezeki berlimpah. "Aminn," kata Salma.

Dalam pemberangkatannya ini, Salma merasa sedih, karena tidak bisa berangkat beribadah haji dengan suaminya, dimana suaminya juga sudah mendaftar haji, tapi belum bisa berangkat bersamaan karena belum melunasi biaya pendaftaran, dengan alasannya dananya tidak cukup untuk melunasi secara bersamaan.

"Tidak apaji, yang jelas niat kita untuk beribadah, dan kewajiban seorang muslim harus diwujudkan, paling tidak ada niat untuk melaksanakannya, walaupun itu uang recehji dikumpul-kumpul ksi'na,"ujarnya.

Didalam pemberangkatannya ini, Salma mengaku menjadi jutawan sesaat, beberapa keluarga dan tetangganya menitip uang untuk dibelikan ole-ole.

"Sekitar 17 juta ini kubawa uang ole-oleh tapi uangnya ji orang, hahahaha, banyak sekali orang menitip, seperti sajadah, kurma, air zam-zam, tasbih, dan baju koko," ujar wanita berkulit sawo matang itu sambil tersenyum.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved