Guru SMA Bulukumba Ngutang Berjamaah
Soal Guru SMA Ngutang Berjamaah, Ketua IGI Sulawesi Selatan Ikut Prihatin
Kendati akan mengikuti lomba bergengsi tingkat internasional, kedua siswa ini tidak mendapat bantuan dana dari Pemerintah Kabupaten Bulukumba
Penulis: Jumadi Mappanganro | Editor: Suryana Anas
MAKASSAR, TRIBUN-TIMUR.COM - Ketua Umum Ikatan Guru Indonesia (IGI) Wilayah Sulawesi Selatan Muhammad Ramli Rahim (MRR) ikut prihatin terhadap nasib Andi Sutadi Saputra dan Husnul Inayah. Keduanya adalah siswa SMA Negeri 1 Bulukumba.
Kendati akan mengikuti lomba bergengsi tingkat internasional, kedua siswa ini tidak mendapat bantuan dana dari Pemerintah Kabupaten Bulukumba. Termasuk dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Bulukumba.
Padahal Sutadi dan Husnul diundang ke Turki untuk mengikuti Lomba Karya Ilmiah pada International Enviromental Project Olympiad (Inepo). Lomba ini diikuti 150 negara dengan melombakan 125 proyek penelitian yang berkaitan dengan ekologi.
Tak ingin menyianyiakan kesempatan emas tersebut, para guru di SMA 1 Bulukumba pun terpaksa ngutang berjamaah demi memberangkatkan kedua kedua siswa berprestasi tersebut. Jumlah utang mereka Rp 42 juta.
"Ini kado pahit dunia pendidikan kita, tepat pada hari pendidikan nasional (hardiknas)," ujar Ramli yang juga pendiri Bimbingan Belajar Ranu Prima College ini, Jumat (2/5/2014) pagi.
Prihatin atas kabar itu, Ramli pun menuliskan catatannya yang kemudian di-broadcast melalui BBM. Berikut ini tulisannya:
Menitikkan Air Mata di Hardiknas
Usai salat subuh, saya mengubah status BlackBerry dan mengucapkan "Selamat Hardiknas". Namun saat membaca headline Tribun Timur edisi hari ini, air mata saya mengalir membaca berita berjudul "Guru SMA Bulukumba Ngutang Berjamaah."
Ya Allah, begitukah dunia pendidikan kita? Guru-guru ini ngutang bukan buat jalan-jalan ke Bali, seperti jalan-jalannya para kades yang difasilitasi para calon bupati petahana.
Guru-guru ini ngutang bukan untuk bikin baligo, banner atau stiker kampanye yang sering dilakukan calon bupati, calon gubernur atau caleg petahana yang menggunakan dana "APBD" atau memeras pengusaha untuk mempertahankan kekuasaannya.
Guru-guru ini ngutang bukan untuk pertemuan-pertemuan semu. Guru-guru ini berutang Rp 42 juta untuk membantu keberangkatan siswa SMAN 1 Bulukumba ke Turki untuk mengikuti International Environmental Project Olympiad(Inepo) setelah berhasil meraih Silver Medal International Science Project Olimpad (Ispo) di Jakarta.
Lomba ini hanya diikuti 50 negara dengan 125 proyek penelitian. Sebuah keberhasilan luar biasa yang dicapai oleh dua orang anak kampung dari Bulukumba.
Sedih rasanya jika melihat kondisi ini: anak-anak kampung ini berhasil tembus ke Turki tentunya mewakili kita semua di Indonesia, di Sulsel dan tentunya mereka di Bulumba. Tapi kenapa pemda begitu sulit membantu mereka.
Mana itu para caleg terpilih yang katanya peduli? Mana itu bupati yang mungkin tak lagi peduli karena tak bisa lagi mencalonkan diri? Mana itu gubernur dan wagub hingga presdien? Mengapa guru-guru yang harus berutang?
Entah berapa banyak dana yang telah dialihkan ke tujuan lain dari APBD kabupaten dan provinsi di Sulsel ini. Rntah berapa banyak APBD/APBN yang telah disikat koruptor. Tapi mengapa dana Rp.42 Juta tak mampu disediakan?
Selamat Hadiknas. Upacara saja tak cukup membuat pendidikan kita lebih baik. Andaikan biaya transport menuju lapangan dan biaya konsumsi dikumpulkan, mungkin lebih dari Rp 42 juta bisa terkumpul.
Salam
Muh. Ramli Rahim
Ketua Umum Ikatan Guru Indonesia Wilayah Sulsel