Kisah Inspiratif
Subhan Sudah Bosan Jadi Sapi Perah Pemerintah
Di lembaga ini ia mulai aktif mengadvokasi masyarakat biasa untuk mengakses jaminan kesehatan dan pendidikan.
Penulis: Ilham Arsyam | Editor: Ina Maharani
Nama :Subhan
Lahir: Bulukumba, 15 Mei 1971
Jabatan: Ketua Ombudsman RI Perwakilan Sulsel
Istri: Amrianti Djamir
Anak: 3
Pendidikan:
- Teknik Sipil Unhas
- Program magister hukum UMI
Organisasi:
- Mantan konsultan Teknik individu (tenaga ahli)
- Konsultan Bank Dunia
- Pendiri Lembaga Sosial Peduli Penerus Bangsa (Lespinusa)
- Anggota asosiasi Tenaga Teknik pelaksana konstruksi Indonesia (ATTPELKI)
- Mantan ketua Ombudsman Makassar
TRIBUN-TIMUR.COM -- Baru dibentuk Juni 2012, lembaga Ombudsman RI (ORI) Perwakilan Sulsel langsung menghentak. Masih lekang dalam ingatan sejumlah orang ketika Ombudsman Sulsel merilis hasil supervisi. Gempar. Ombudsman meliris delapan instansi di jajaran Pemerintah Kota Makassar yang sarat pungli alias pungutan liar. Jagad Makassar pun geger.
Berhari-hari
temuan itu menjadi sorotan media. Satu per satu belang instansi
pemerintah muncul ke permukaan terutama masalah pelanggaran admistrasi
(maladmistrasi) yang menjadikan masyarakat bisa jadi korban.
Perlahan
Ombudsman menampakkan taji. Berbagai pengaduan masyarakat langsung
ditindaklanjuti seperti pelayanan sejumlah rumah sakit pemerintah yang
buruk atau kesewenang-wenangan pihak sekolah memungut biaya pendidikan
kepada siswa tidak mampu.
Subhan memang nyaris tak dikenal sebelumnya. Hal itu beralasan sebab
Subhan mengaku tidak berasal dari lembaga pemerintah. Dia juga bukan
tokoh politik. Pun bukan akademisi yang rajin tampil di media. Dulu, dia
hanya menghabiskan lebih banyak waktunya sebagai seorang kontraktor di
sejumlah perusahaan.
Jauh sebelum lulus sebagai sarjana di Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Unhas, Subhan sudah bekerja di berbagai perusahaan baik pelat merah (BUMN) maupun perusahaan swasta. Jasanya banyak digunakan sebagai konsultan atau tenaga ahli, bahkan ia pernah menjadi konsultan di Bank Dunia. “Saya sudah jadi kontraktor sejak semester tiga,” ungkapnya.
Apa penyebabnya? Sebagai kontraktor ia kerap mengaku menjadi "sapi perah". “Tentu bukan rahasia lagi untuk memenangkan sebuah tender misalnya, kontraktor harus nyetor sana-sini,” ungkapnya.
Yang lebih membuatnya
terpukul lagi bahwa proyek dengan praktik kotor demikian kebanyakan
terjadi pada proyek di intansi-instansi pemerintah.
Berangkat dari
kegelisahan itu, pada tahun 2002 ia mendirikan sebuah LSM bernama
lembaga sosial peduli penerus bangsa (Lespinusa). Di lembaga ini ia
mulai aktif mengadvokasi masyarakat biasa untuk mengakses jaminan
kesehatan dan pendidikan.
Selengkapnya baca di edisi cetak hari ini