Kisah Inspiratif
Tak Lulus SD, Kini Ajar Calon Doktor UI
Setiap kali saya mengajar paracalon doktor itu, saya terlebih dahulu memperkenalkan diri, termasuk latarbelakang saya yang hanya sampai kelas IV SD.
Penulis: Ilham Arsyam | Editor: Ina Maharani
Nama: Masril Koto
Lahir: Sumatera Barat, 13 Mei 1974
Pekerjaaan: wirausaha, konsultan
Istri: Ade Suriani
Anak:
-Regina Wulandari Putri
-Triayu Putri
Pendek dan berkulit gelap. Memakai sandal dan kaos oblong. Penikmat cerutu dan kopi hitam.
Dialah
Masril Koto (38). Dia dijuluki pendekar petani dari Kecamatan Baso,
Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Masril adalah nama pemberian orang
tuanya, sementara Koto adalah salah satu suku di Padang.
Masril Koto lahir dari keluarga buruh petani miskin di Nagari Koto Tinggi, Sumbar. Tak memiliki ijazah sekolah
dasar (SD) sebab Masril hanya mengecap pendidikan hingga kelas IV SD. Dia berhenti sekolah karena faktor biaya.
Namun
siapa sangka tanpa ijazah sekalipun, Masril kini bolak balik masuk
kampus Universitas Indonesia. Dia mengajar sebagai dosen luar biasa di
program doktor (S3) di Fakultas Ekonomi UI.
Masril datang ke Makassar awal April lalu. Selama dua pekan Masril yang didatangkan oleh Bank Indonesia (BI) membmbing petani-petani berwirausaha di sejumlah kabupaten seperti Maros, Barru, Soppeng, dan Bulukumba.
Masril sudah
dikenal di kalangan aktivis di Makassar. Makanya kedatangan selalu
dinanti para aktivis untuk sekadar duduk ngopi sambil diskusi.
Siapa
Masril dan bagaimana ia bisa sampai sedemikian hebat hingga mengajari
para calon dokter di salah satu universitas terbaik di Indonesia itu?
Masril mengaku kerap dipandang enteng oleh beberapa orang. Apalagi latar pendidikannya yang terbilang rendah.
"Setiap kali saya mengajar paracalon doktor itu, saya terlebih dahulu memperkenalkan diri, termasuk latarbelakang saya yang hanya sampai kelas IV SD. Kalau mereka mau ikut yah silakan, kalau tidak, yah tidak masalah. Tapi alhamdulillah mereka umumnya bersedia," ujarnya di sebuah kafe di Pantai Losari, Makassar, Senin (22/4).(*)
Selengkapnya baca di edisi cetak hari ini