Kisah Inspiratif
Pencetus Workshop Pertama di Makassar
data diri: Hilmy Aliyafie Jampue, Pinrang, 10 April 1953 karier: Tokoh NU, pendiri lembaga kajian pengembangan SDM (Lakpesdam) NU
Penulis: Ilham Arsyam | Editor: Ina Maharani
Hilmy Aliyafie
Jampue, Pinrang, 10 April 1953
karier: Tokoh NU, pendiri lembaga kajian pengembangan SDM (Lakpesdam) NU
DI awal tahun 1980-an, di Sulawesi Selatan khususnya Makassar, selain gerakan kemahasiswaan hampir pasti belum muncul gerakan dari kelompok masyarakat biasa. Di era rezim orde baru yang otoriter tersebut nyaris pemerintah adalah pemain tunggal. Pemerintahlah yang merencanakan, mengekseskusi sekaligus mengawasi pembangunan.
Hilmy Aliyafie menjadi salah satu pembuka jalan bagi gerakan sosial masyarakat biasa di Makassar untuk berpartisipasi dalam program-program yang dilakukan pembangunan.
Hilmy yang berlatar belakang pesantren menjadi penghubung bagi kelompok masyarakat Makassar untuk mengenal lembaga sosial masyarakat (LSM) atau non-government organization (NGO) di Jakarta.
Melalui program KIP (kampung improvement program) yang digagas kementerian pekerjaan umum (PU) dan organisasi internasional Unicef, Hilmy bergabung dengan organisasi yang berpusat di Jakarta bernama Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES).
Hilmy menolak dikatakan sebagai pencetus NGO di Makassar, namun faktanya waktu itu memang belum ada kelompok masyarakat yang berpartisipasi mengawasi program-program pembangunan yang dilakukan pemerintah.
"Pada saat itu pemerintah hanya membangun setelah itu lepas tangan. Nah, peran LP3ES ini memberikan sosialisasi kepada masyarakat bagaimana menjaga pembangunan yang dilakukan pemerintah tersebut," terangnya.
Di Makassar, LP3ES mengambil sekertariat di Barabarayya. Dari sini Hilmy dan anggotanya melakukan berbagai kegiatan sosial secara mandiri hampir selama tiga tahun.
Hilmy menceritakan, pengalaman pertamanya menggaet pemerintah, maklumlah waktu itu jalur birokrasi sangat berbelit. "Waktu itu kita mau buat kegiatan workshop, tapi tidak ada sponsor," katanya.
Atas saran seorang temannya, Hilmy pun menemui Wali Kota Makassar yang waktu itu dijabat Kolonel Abustam. "Saya curhat sama pak wali. Saya bilang kenapa jalur birokrasi begitu berbelit, bertemu saja kepala dinas sangat susah," ujar Hilmy kepada wali kota.
Melalui diskusi yang panjang, wali kota akhirnya bersedia jadi sponsor meski anggaran yang diperoleh sangat sedikit untuk mensukseskan kegiatan itu. "Soal biaya dia hanya kasih uang sakunya," kenang Hilmy sambil tertawa.
Bisa jadi workshop yang digelar Hilmy dan kelompoknya ini adalah workshop pertama yang pernah digelar di Makassar. "Waktu itu saya belum pernah mendengar kata `workshop' di Makassar," ungkapnya lagi.(*)
data diri
Hilmy Aliyafie
Jampue, Pinrang, 10 April 1953
karier: Tokoh NU, pendiri lembaga kajian pengembangan SDM (Lakpesdam) NU
Selengkapnya baca di Tribun edisi cetak