bentrok warga makassar
Anak-anak Sapabulo Terlatih Buat Busur dan Papporo
Alat yang biasa digunakan sebagai senjata saat bentrok antar warga
Penulis: Hasan Basri | Editor: Muh. Taufik
MAKASSAR, TRIBUN TIMUR.COM-- Alat yang biasa digunakan sebagai senjata saat bentrok antar warga seperti busur dan Papporo sangat mudah dibuat.
Membuat peralatan peralatan itu, bukan hanya bisa dilakukan oleh kalangan orang tua, dewasa, tetapi senjata itu bisa dibuat oleh kalangan anak-anak.
Demikian dipaparkan Ketua RW 5 Sapabulo , Kelurahan Balang Baru, Kecamatan Tamalate, Ridwan Jufri, Minggu (11/2). Saat ditemui di rumahnya.
Kemudahan dalam pembuatan busur didukung oleh bahan baku yang mudah didapatkan. Apalagi mayoritas warga di Sapabulo pekerjaaanya adalah pandai besi.
"Membuat busur dan anak busur sangat mudah hanya beberapa menit saja. Dalam hitungan menit anak busur bisa jadi sampai 10 buah. Tapi saya sendiri tidak pernah buat ini hanya hasil informasi dari teman," tutur Ridwan Jufri, Selasa (11/2).
Kata Jufri, busur yang terdapat di sapabulo tersebut, hanya bahan permainan anak tersebut, namun karena ada bentrokan mereka terpaksa menggunakan alat itu.
Seperti halnya dengan Papporo, bahwa senjata itu, bisa dengan muda dibuat oleh warga Sapabulo.
"Itu juga sangat muda, seperti cara membuat meriam bambu. Cuma bahan yang digunakan pipa," ungkapnya.
Setelah adanya bentrokan yang terjadi di lingkungan tersebut, Jufri sudah menyarankan kepada warganya agar tidak membuat dan membawa senjata mematikan itu.
Jufri menambahkan, terkait masalah bentrok yang terjadi selama ini, mereka belum mengetahui apa penyebab utamanya.
Tetapi mereka hanya menduga bentrokan terjadi karena faktor balas demdan antara kedua belapihak.
"Alahmdulillah sekarang sudah aman, kami berharap agar apa yang terjadi selama ini tidak terulang lagi," harapnya.
Hal serupa juga dikatakan, Ketua RW 4, Kelurahan Balang Baru, Kecamatan Tamalate Makassar, Mustari.
Mustari mengatakan, bahwa senjata seperti busur bisa dibuat oleh berbagai kalangan.
"Busur itu bukan di pesan dari luar, tetapi warga sendiri yang membuatnya," ungkapnya.
Mengenai Papporo, mereka tidak tahu di pesan darimana. Sebab setahunya warganya tidak tahu membuat alat itu.
Mustari juga berharap, agar pertikaian antara RW 4 dan RW 5 tidak terulang lagi.
"Kami ingin di kampung ini aman dan damai," ujarnya. (*)
Membuat peralatan peralatan itu, bukan hanya bisa dilakukan oleh kalangan orang tua, dewasa, tetapi senjata itu bisa dibuat oleh kalangan anak-anak.
Demikian dipaparkan Ketua RW 5 Sapabulo , Kelurahan Balang Baru, Kecamatan Tamalate, Ridwan Jufri, Minggu (11/2). Saat ditemui di rumahnya.
Kemudahan dalam pembuatan busur didukung oleh bahan baku yang mudah didapatkan. Apalagi mayoritas warga di Sapabulo pekerjaaanya adalah pandai besi.
"Membuat busur dan anak busur sangat mudah hanya beberapa menit saja. Dalam hitungan menit anak busur bisa jadi sampai 10 buah. Tapi saya sendiri tidak pernah buat ini hanya hasil informasi dari teman," tutur Ridwan Jufri, Selasa (11/2).
Kata Jufri, busur yang terdapat di sapabulo tersebut, hanya bahan permainan anak tersebut, namun karena ada bentrokan mereka terpaksa menggunakan alat itu.
Seperti halnya dengan Papporo, bahwa senjata itu, bisa dengan muda dibuat oleh warga Sapabulo.
"Itu juga sangat muda, seperti cara membuat meriam bambu. Cuma bahan yang digunakan pipa," ungkapnya.
Setelah adanya bentrokan yang terjadi di lingkungan tersebut, Jufri sudah menyarankan kepada warganya agar tidak membuat dan membawa senjata mematikan itu.
Jufri menambahkan, terkait masalah bentrok yang terjadi selama ini, mereka belum mengetahui apa penyebab utamanya.
Tetapi mereka hanya menduga bentrokan terjadi karena faktor balas demdan antara kedua belapihak.
"Alahmdulillah sekarang sudah aman, kami berharap agar apa yang terjadi selama ini tidak terulang lagi," harapnya.
Hal serupa juga dikatakan, Ketua RW 4, Kelurahan Balang Baru, Kecamatan Tamalate Makassar, Mustari.
Mustari mengatakan, bahwa senjata seperti busur bisa dibuat oleh berbagai kalangan.
"Busur itu bukan di pesan dari luar, tetapi warga sendiri yang membuatnya," ungkapnya.
Mengenai Papporo, mereka tidak tahu di pesan darimana. Sebab setahunya warganya tidak tahu membuat alat itu.
Mustari juga berharap, agar pertikaian antara RW 4 dan RW 5 tidak terulang lagi.
"Kami ingin di kampung ini aman dan damai," ujarnya. (*)