Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Kisah Inspiratif

Berkah Gagal Diplomat

David berulangkali mengatakan dirinya hanyalah manusia biasa yang mencoba bahagia.

Editor: Mansur AM
zoom-inlihat foto Berkah Gagal Diplomat
Grafis: Li2
CEO Siloam Hospital (dr David Santoso MM)
CEO Siloam Hospital (dr David Santoso MM)

GAGAL jadi diplomat beralih jadi dokter. Kalimat itu diucapkan Chief Executive Officer (CEO) Siloam Hospital Makassar dr David Santoso MM sambil tertawa, di kantornya, Jl Metro Tanjung Bunga, Makassar, Selasa (27/11).

Yah, cita-cita alumnus Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia yang senang traveling, ini memang ingin bertemu dengan orang banyak, di luar negeri. Kesenangan dan orientasi inilah   yang menjadikannya memilih Jurusan Hubungan Internasional Universitas Indonesia (UI) Jakarta.

Sayang, kenyataan selalu tak sesuai keinginan. "Pilihan saya memang cuma dua, kalau bukan hubungan internasional, yah kedokteraan," ujar pria 43 tahun ini.

Bermodal sepotong harapan itu, David mendaftar kuliah. Bukan HI, melainkan menembus kedokteran UKI. Namun pilihan kedua inilah yang membuatnya jadi dokter.

Setelah lulus ia mengikuti program pemerintah, Penempatan Tenaga Tidak Tetap (PTT) tahun 1998.

Andai saja, Timor Timur di masa itu tak dilanda konflik, maka dia akan menetap di Dili sebagai dokter PTT. Penempatan digeser ke Sumba Barat, NTT. "Penempatan ini bukan pilihan, tapi keharusan. Waji bagi dokter muda," kenangnya.
David menyebut inilah periode terbaik dalam hidupnya. Tingga di Sumba disebutnya paling membekas. Ketika pria kelahiran Jakarta ini harus hidup dengan keterbatasan di daerah terpencil, menjelajahi savana di daerah itu untuk menolong warga setempat. Berat tentunya mengingat daerah yang ditempatinya minim fasilitas dan tentu saja daerah Malaria, penyakit endemik di di ujung selatan Indonesia.

Selama 3 tahun di NTT, David 'dipaksa' menjadi dokter serba bisa. David mengepalai  Puskesmas Palla, Sumba. Ia juga dokter diperbantukan di rumah sakit di daerah itu. "Mau tak mau berperan sebagai dokter segalanya atau kadang-kadang spesialis, hehehe," katanya berkelakar.

Bahkan David tak jarang mengoperasi layaknya, ahli anastesi, dokter spesiali bedah, atau berubah jadi bidan. Membantu persalinan ibu-ibu. "Dulu kadang pahit, tapi kalau dikenang sekarang, justru membagggakan dan lucu," ujar alumnus S2 Universitas Indonusa Esa Unggul ini.

David kemudian bercerita bagaimana dia mengabdi kepada warga kebanyakan, atau bahkan diketegorikan tak mampu dan terbelakang. Waktu tiga tahun tak sebentar. Bahkan melelahkan.
"Untuk mengisi waktu-waktu luang saya biasa pergi motret, kebetulan alam NTT sangat indah," ujar penyuka fotografi dan pemilik beberapa jenis kamera SLR dan DSLR ini.

Kisah 3 tahun di NTT ini, diakui David membuatnya menjadi sosok yang tegar dan mandiri. "Lebih dewas-lah," katanya.
Selepas tugas PTT itu, David ditawari bekerja di Siloam Lippo Village Karawaci Jakarta.

Di Rumah Sakit ia laiaknya dokter "kota" kebanyakan. Dia menyesuaikan diri. Hanya saja kepercayaan yang diberikan untuk menjadi kepala Unit Gawat Darurat (UGD) dimanfaatkannya sebagai ajang belajar.

Selanjutnya jabatan yang lebih tinggi yakni General Manajer (GM) Medical Affair di Siloam International Hospital pun dipercayakan kepadanya.

Ketika Siloam buka cabang ke-14 di Makassar, medio 2012 ini, David menjadi CEO.

David menyebut orang Makassar cukup ramah dan terbuka sehingga enak diajak kerja sama.
Dalam bekerja, Magister Manajemen Rumah Sakit ini memegang falsafah simpel.

"Kalau bisa dipermudah kenapa dipersulit?" Katanya.
David berulangkali mengatakan dirinya hanyalah manusia biasa yang mencoba bahagia.
David memang pribadi yang simple, se-simple ketika penulis menemuinya.(ilham arsyam)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved