Kisah Inspiratif
Bahasa Bugis di Amerika, Bahasa Inggris di Sengkang
Yang berbeda, Rafii adalah orang yang tekun. Ia juga sangat disiplin. Lagi-lagi itu warisan sebagai orang pesantren.
MAKASSAR,TRIBUN-TIMUR.COM - Prof Rafii Yunus PhD, pimpinan Ponpes As'adiyah Sengkang lahir dan besar di keluarga pesantren. Ayahnya KH Yunus Maratang juga pimpinan di pesantren yang sama periode tahun 1950.
Rafii adalah anak ke 3 dari 7 bersaudara. Namun dia satu satunya anak laki-laki dari keluarga itu. Rafii yang juga adalah salah satu dosen Usluhuddin UIN Alauddin ini selain mengajar juga sibuk dengan kajian-kajian.
Aktivitas kiai 71 tahun ini terbilang padat. Rabu-Kamis ia mengajar di Makassar, selebihnya hari-hari Rafii lebih banyak untuk mengurus salah satu pesantren tua di Sulsel tersebut.
Rafii tidak hanya seorang ulama, ia juga cendikiawan. Ia pernah puluhan tahun belajar di luar negeri seperti Kanada dan Amerika Serikat. Di kedua negera tersebut ia memperoleh gelar magister dan Phd-nya.
Rafii yang memimpin Assadiyah sejak 2002 lalu dikenal seorang pendidik
ulung. Menurutnya hal itu diwariskan sang ayah. "Sejak kecil saya sudah
ditempa dengan ilmu tulis menulis dan bahasa," katanya.
Ia pun menceritakan pernah diperintahkan sama ayahnya untuk menulis 30
buku dengan menggunakan aksara Bugis lontara dan bahasa Arab. Rafii pun
dengan tekun menulis buku itu kurang lebih selama 31 tahun. Ayahnya juga
mendidik putra satu-satunya itu menuliskan apa yang sudah dibacanya di
dinding dengan menggunakan arang sebagai pengganti kapur.
Khusus persoalan bahasa, keluarga Rafii punya cara sendiri. Saat ini
kepada anak-anaknya Rafii berkomunikasi dengan bahasa Inggris di kediamannya di Sengkang, Kabupaten Wajo. Sementara
sewaktu masih tinggal di Amerika selama tujuh, komunikasi keluarganya pakai bahasa Bugis, bahasa leluhurnya.
"Ini agar anak-anak tidak melupakan budaya sendiri, di sisi lain ia
tidak ketinggalan dengan dunia luar," ujar Rafii. Dosen Tafsir Hadis UIN Alauddin Makassar ini menguasai
sejumlah bahasa asing seperti Persia, Jerman, Prancis dan Arab ini. Tentu saja bahasa Inggris.
Lanjutnya, pesantren yang diasuhnya saat ini juga menerapkan kurikulum multi bahasa, termasuk Bugis sebagai bahasa lokal.
Yang berbeda, Rafii adalah orang yang tekun. Ia juga sangat disiplin. Lagi-lagi itu warisan sebagai orang pesantren.
Terlebih ketika ia diajar mantan menteri agama Prof H A Mukti Ali saat masih sekolah S1 di UIN Jogjakarta. Dari orang ini Rafii termotivasi untuk terus belajar hingga ke luar negeri.
"Ia banyak bicara soal sekolah di timur tengah. Saya jadi ingin juga menginjakan kaki ke negara-negara lain," ungkapnya.
Saat ini Rafii merupakan salah satu tokoh yang layak menjadi panutan di Sulsel. Begitu banyak orang berbodong-bondong memintah petuahnya tentang banyak hal. (Ilham arsyam)